• LINTAS FLOBAMORA
  • NASIONAL
  • INTERNASIONAL
  • LIFESTYLE
  • TRAVEL
  • BOLA
  • OPINI
  • REDAKSI
  • HUBUNGI KAMI
  • REGISTER     LOGIN      BANTUAN
    REGISTER     LOGIN      BANTUAN

    Jumat, 25 Mei 2018

     

     
    Home   »  Travel
     
    Sanggar Mutu Loo yang Menghibur
    ALBERTUS VINCENT REHI | Senin, 15 Agustus 2016 | 21:07 WIB            #TRAVEL

    Sanggar
    Personil Sanggar Mutu Loo saat unjuk kebolehan dan menghibur pengunjung di Puncak Kelimutu. Pertama dan kedua dari kiri alat musik sato yang sedang dimainkan

     

    MENTARI pagi baru saja tersembul dari ufuk Timur. Udara dingin menusuk tubuh. Suasana di puncak Kelimutu berubah ramai.  Dinginnya udara di puncak Kelimutu tidak menyurutkan niat masyarakat adat dari 20 komunitas penyangga kawasan sakral dan magis tersebut untuk berkumpul di sana.

     

    Hari itu, Minggu (14/8) untuk ketujuh kalinya digelar ritual Pati Ka Du’a Bapu Ata Mata atau memberi makan arwah leluhur di puncak Kelimutu. Tak pelak, pelataran pakir  di kawasan itu tumpah ruah dengan masyarakat yang terus berdatangan sejak subuh.

     

    Terlihat beberapa rombongan wisatawan manca negara. Meraka berasal dari Perancis, Belanda, Australia, China, Jepang dan Swiss. Ada juga rombongan wisatawan domestik dari Jakarta, Denpasar dan beberapa kota di daratan Flores. Bersama masyarakat sekitar berbaur menikmati indahnya suasana  pagi itu.

     

    Sejumlah wisatawan begitu tiba di area parkiran tidak sabar menunggu untuk menimati panorama alam di puncak Kelimutu saat fajar menerpa tiga kawah nan cantik tersebut.

     

    Suasana pagi itu betul-betul semarak. Selepas misa kudus yang dipersembahkan P.Charles Beraf,SVD, pengunjung terus bertambah. Mereka ingin menyaksikan ritual yang magis dan sakral tersebut.” Saya tidak puas mendengar cerita atau membaca di media massa. Lebih baik saya datang dan saksikan sendiri peristiwa yang dilaksanakan setahun sekali itu,” kata Merry, salah seorang warga Wolowaru.

     

    Sementara di sisi lain pelataran parkir,  ada suasana ceria yang terlihat. Alunan musik tradisional menggema mengusik. Sekelompok pemusik dari Sanggar Mutu Lo’o, Desa Wisata Waturaka, Kecamatan Kelimutu  membawakan lagu-lagu berirama khas Lio. Lagu-lagunya tentang ajakan melestarikan alam, kritik sosial terhadap generasi muda yang mulai melupakan warisan leluhur dan syair-syair jenaka nan  menghibur.

     

    Uniknya, peralatan musik yang meraka bawa semuanya serba tradisional ada ukulele, gambus, suling, gendang, tempurung kelapa dan sato. Nah, yang menarik perhatian pengunjung adalah alat musik sato.  Sato adalah alat music yang terbuat dari buah maja atau bila dalam bahasa Lio yang dikeringkan, Lalu ada penampang dari bambu dan satu dawai yang biasanya dibuat dari tali lidah buaya atau lema mori . Sedangkan  alat geseknya dibuat mirip busur dengan tali juga dari lema mori  yang dibubuhi lem dari pohon kenari. Jika dimainkan, bunyi sato mirip biola.

     

    Robert Ghele, Ketua Sanggar Mutu Lo’o mengatakan, sanggar beranggotakan 20 orang ini, tersiri dari  10 pemain musik dan 10 penyanyi ini didirikan pada tahun 2010 lalu.

     

    “Sanggar ini kami didirikan untuk melestarikan warisan leluhur dan budaya Ende Lio, sehingga generasi muda tidak melupakan asal-usulnya. Bahkan sanggar ini pun sudah ada kelompok anak muda,”  ucapnya.

     

    Menurutnya, sanggar tersebut adalah binaan dari Siwss Contac, sebuah lembaga niralaba asal Swiss yang bergerak di bidang pertanian dan pariwisata.”Kami bersyukur ada Swiss Contac, yang terus membina dan mendukung keberadaan sanggar ini,” ujarnya singkat.

     

    Ia menambahkan, sangggar tersebut sudah beberapa kali pentas di luar Desa Waturaka seperti ke Maumere , Mataram dan Denpasar. Bahkan jika tidak ada aral yang merintang, sanggar ini akan pentas di Jakarta dalam tahun ini.

     

    Kehadirian Sanggar Mutu Lo’o benar-benar membuat suasana semakin meriah. Sambil menunggu para tetua selesai melakukan ritual Pati Ka Du’a Bapu Ata Mata di Puncak Kelimutu, Mutu Lo’o terus menghibur. Malah sejumlah wisatawan manca negara pun diajak untuk Wanda Pa’u atau menari selendang bergilir khas Ende Lio.

     

    Suasana pun berubah menjadi ceria dibarengi canda tawa dan senda gurau para pengunjung Kelimutu. Nuansa khas dan unik ini hanya ada saat berlangsungnya Ritual Pati Ka Du’a Bapu Ata Mata. Rapa Tei Walo Kita Kiwa Ra’o,… see you next year, Zie je volgend jaar, Wir sehen uns im nächsten Jahr atau sampai jumpa  tahun depan.***


     
    BERITA TERKAIT
     
     
    BACA JUGA
       
       

      KOMENTAR ANDA                                                             Pedoman Mengirim Komentar

       
      KOMENTAR VIA WEBSITE                                             Pedoman Mengirim Komentar
        0 komentar

      KIRIM KOMENTAR
      Silakan LOG IN untuk memberi komentar.
       



      Copyright © 2013-2018 by FLOBAMORA NETWORK. All rights reserved.