• LINTAS FLOBAMORA
  • NASIONAL
  • INTERNASIONAL
  • LIFESTYLE
  • TRAVEL
  • BOLA
  • OPINI
  • REDAKSI
  • HUBUNGI KAMI
  • REGISTER     LOGIN      BANTUAN
    REGISTER     LOGIN      BANTUAN

    Rabu, 18 Juli 2018

     

     
    Home   »  Lintas Flobamora
     
    Masyarakat NTT Harus Perjuangkan Penghapusan Hukuman Mati
    VICKY DA GOMEZ | Minggu, 09 Oktober 2016 | 10:33 WIB            #LINTAS FLOBAMORA

    Masyarakat
    Koordinator Tim Pembela Demokrasi Indonesia Wilayah NTT (TPDI NTT) Meridian Dewanta Dado

     

    MAUMERE,FLOBAMORA.NET - Koordinator Tim Pembela Demokrasi Indonesia Wilayah NTT (TPDI NTT) Meridian Dewanta Dado menegaskan bahwa keberadaan dua terpidana mati kasus pembunuhan berencana di NTT haruslah dijadikan sebagai momentum bagi masyarakat NTT memperjuangkan penghapusan dan penolakan penerapan hukuman mati dalam stelsel hukum pidana di negeri ini.
             

    Momentum perjuangan penghapusan hukuman mati, ujar Meridian Dado melalui surat elektroniknya, Kamis (6/10), haruslah diperjuangkan oleh masyarakat NTT pada umumnya, dan umat katolik pada khususnya. Dua terpidana mati di NTT yaitu Herman Jumat Masan (HJM) alias Herder, dan Gaudensius Resing alias Densy. Keduanya dipidana dalam perkara terpisah, karena terlibat kasus pembunuhan berencana.
           

    HJM adalah seorang rohaniwan Katholik yang telah divonis hukuman mati oleh Mahkamah Agung RI pada tahun 2014 karena terbukti membunuh kekasih gelapnya yang bernama Merry Grace. Ia juga menghabisi nyawa dua anak hasil hubungan gelap dengan korban.

    Gaudensius Resing adalah terpidana mati yang telah divonis hukuman mati oleh Mahkamah Agung RI pada tahun 2003 karena terbukti melakukan pembunuhan di Kabupaten Sikka pada tahun 2002 terhadap istrinya Etropia Salviana, adik iparnya Esmarion Kondradus dan ibu mertuanya Bernadeta Bi.


    “Kita semuanya tentunya sangat mengutuk dan mengecam keras pembunuhan keji yang dilakukan kedua terpidana mati tersebut. Bahkan kita pun harus sepenuhnya memahami riuhnya tuntutan keluarga korban pembunuhan yang mati-matian mendukung hukuman mati. Namun demikian kita juga harus menyadari bahwasanya seberat apapun sanksi pemidanaan berupa hukuman mati sekalipun tidak akan pernah bisa menimbulkan efek jera bagi sistem penegakan hukum kita,” alasan  Meridian Dado.

    Selain itu, tambahnya, pandangan Gereja Katholik secara tegas menolak penerapan hukuman mati tanpa kualifikasi apapun sebab hidup dan kehidupan manusia adalah suatu hal yang suci serta harus dijaga dan dihormati oleh siapapun juga.

    TPDI NTT, lanjut Meridian Dado, mendukung penuh penghapusan hukuman mati di Indonesia sebab hak untuk hidup adalah hak azasi manusia yang tidak dapat dikurangi dalam keadaan apapun.

     

    Menutu dia, praktik eksekusi hukuman mati merupakan tindakan penghukuman yang kejam, tidak manusiawi dan merendahkan harkat martabat seseorang. Bahkan dengan model sistem peradilan pidana di Indonesia yang masih rapuh dalam pengawasannya serta penuh manipulasi dalam proses pembuktiannya maka adalah sangat berisiko sekali untuk menjatuhkan hukuman mati terhadap seseorang pelaku tindak pidana.

    Oleh karenanya, dengan keberadaan HJM dan Densy selaku para terpidana mati di NTT, maka hal itu harus menjadi tonggak bagi masyarakat NTT dan Gereja Katholik setempat memperjuangkan penghapusan dan penolakan penerapan hukuman mati di Indonesia.***

     
    BERITA TERKAIT
     
     
    BACA JUGA
       
       

      KOMENTAR ANDA                                                             Pedoman Mengirim Komentar

       
      KOMENTAR VIA WEBSITE                                             Pedoman Mengirim Komentar
        0 komentar

      KIRIM KOMENTAR
      Silakan LOG IN untuk memberi komentar.
       



      Copyright © 2013-2018 by FLOBAMORA NETWORK. All rights reserved.