• LINTAS FLOBAMORA
  • NASIONAL
  • INTERNASIONAL
  • LIFESTYLE
  • TRAVEL
  • BOLA
  • OPINI
  • REDAKSI
  • HUBUNGI KAMI
  • REGISTER     LOGIN      BANTUAN
    REGISTER     LOGIN      BANTUAN

    Kamis, 18 Januari 2018

     

     
    Home   »  Internasional
     
    Obama: `Mister`Trump, Berhentilah Merengek...
    ANA DEA | Rabu, 19 Oktober 2016 | 08:44 WIB            #INTERNASIONAL

    Obama:
    AFP PHOTO

     
    WASHINGTON DC - Presiden Amerika Serikat Barack Obama, Selasa (18/10/2016), meledek kandidat Presiden AS dari Partai Demokrat Donald Trump.
     

    Ucapan Obama itu terkait keluhan Trump yang merasa dicurangi dalam ajang pemilihan presiden 2016 ini.

     

    Obama menyuruh Trump untuk berhenti merengek dan melanjutkan proses kampanye. 

     

    Presiden AS menggunakan diksi "merengek", yang biasa dipakai untuk memarahi remaja. Obama pun mengesampingkan etika diplomatik saat meledek Trump.

     

    Sebab, pernyataan itu dia ungkapkan saat didampingi Perdana Menteri Italia Matteo Renzi, di Washington, DC.

     

    "Saya belum pernah melihat dalam hidup saya atau dalam sejarah politik modern , ada calon presiden mencoba untuk mendiskreditkan pemilu dan proses pemilihan, bahkan sebelum pemilu berlangsung," kata Obama.

     

     "Jika, setiap kali ada hal-hal yang akan buruk untuk Anda, dan Anda kalah, lalu Anda mulai menyalahkan orang lain? Maka Anda tidak memiliki apa yang diperlukan untuk berada di jabatan ini," tambah Obama. 

     

    Membantah tuduhan Trump yang menyebut ada penipuan pemilih berskala besar, Obama lalu mengatakan, tidak ada bukti bahwa yang terjadi di masa lalu, atau pun kasus yang akan terjadi di masa sekarang.

     

    "Saya menyarankan 'Mister'  Trump untuk berhenti merengek, dan lebih baik berkampanye untuk mendapatkan suara," kata Obama dalam jumpa pers di Gedung Putih, seperti dilansir AFP.

     

    Sebelum ini, Trump memang kerap menuduh adanya konspirasi besar di AS untuk melakukan kecurangan terhadap dia.

     

    Hal tersebut, menurut Trump, terlihat dari angka polling yang menurun drastis dan tuduhan penyerangan seksual di masa lalu.

     

    Di sisi lain, Gedung Putih menunjukkan kekhawatiran bahwa Trump dan pendukungnya tidak akan mengakui hasil pemilu. Kondisi itu berpotensi menyebabkan AS masuk ke dalam krisis politik. 


     

    URL SUMBER
    BERITA TERKAIT
     
     
    BACA JUGA
       
       

      KOMENTAR ANDA                                                             Pedoman Mengirim Komentar

       
      KOMENTAR VIA WEBSITE                                             Pedoman Mengirim Komentar
        0 komentar

      KIRIM KOMENTAR
      Silakan LOG IN untuk memberi komentar.
       



      Copyright © 2013-2018 by FLOBAMORA NETWORK. All rights reserved.