• LINTAS FLOBAMORA
  • NASIONAL
  • INTERNASIONAL
  • LIFESTYLE
  • TRAVEL
  • BOLA
  • OPINI
  • REDAKSI
  • HUBUNGI KAMI
  • REGISTER     LOGIN      BANTUAN
    REGISTER     LOGIN      BANTUAN

    Minggu, 18 November 2018

     

     
    Home   »  Internasional
     
    Militer Myanmar Kembali Dituding Serang Etnis Rohingya
    ANA DEA | Rabu, 23 November 2016 | 08:51 WIB            #INTERNASIONAL

    Militer
    Para prajurit angkatan darat Myanmar berpatroli di dekat perbatasan dengan Banglades. KHINE HTOO MRAT / AFP

     
    YANGON -
    Operasi militer Myanmar terhadap kelompok separatis di negara bagian Rakhine menyisakan nestapa buat etnis minoritas Rohingya.
     

    Ribuan rumah mereka dibakar dan belasan perempuan diperkosa. Militer Myanmar menepis tudingan tersebut, sebagaimana dilaporkan Deutche Welle, Selasa (22/11/2016).

     

    Nestapa kembali menyapa etnis minoritas Rohingnya setelah insiden pembunuhan sembilan prajurit penjaga perbatasan Myanmar, 9 Oktober 2016.

     

    Sejak saat itu 100 orang tewas terbunuh, ratusan ditahan di penjara militer, dan lebih dari 150.000 pengungsi dibiarkan tanpa makanan dan obat-obatan.

     

    Belasan perempuan juga mengaku diperkosa. Sebanyak 1.200 bangunan rata dengan tanah dan 30.000 orang melarikan diri.

     

    U Aung Win, pejabat yang ditugaskan menyelidiki insiden 9 Oktober 2016 mengatakan, para serdadu tidak akan memerkosa perempuan Rohingya karena "mereka sangat kotor."

     

    Myanmar punya sejarah panjang mengebiri hak sipil etnis Rohingya.

     

    Minoritas muslim di negara bagian Rakhine itu tidak diakui sebagai warga negara dan sebab itu kehilangan hak untuk menikah secara resmi, mendapat pendidikan layak atau bahkan beribadah.

     

    Citra satelit yang dipublikasikan oleh lembaga HAM, Human Rights Watch (HRW),  mengindikasikan setidaknya 430 rumah dibakar oleh militer.

     

    Pemerintah Myanmar membantah tudingan tersebut. Pemerintah sebaliknya menuduh kelompok militan Islam yang membakar desanya sendiri untuk menyudutkan militer dan mencari perhatian dunia internasional.

     

    Myanmar sejauh ini melarang aktivis kemanusiaan dan wartawan asing memasuki kawasan yang terkena "operasi pembersihan" oleh militer di Maungdaw yang didominasi etnis Rohingya.

     

    Namun serangan 9 Oktober diyakini dipicu oleh rencana pemerintah menggusur perumahan ilegal di Maungdaw, termasuk diantaranya 2.500 rumah, 600 toko, lusinan rumah ibadah dan lebih dari 30 sekolah.

     

    "Mereka seperti ingin mengurangi populasi Rohingya," kata U Kyaw Min, seorang politisi Myanmar berlatarbelakang Rohingya.

     

    Pemerintahan Myanmar yang dimotori pemenang hadiah nobel perdamaian, Aung San Suu Kyi, tidak bisa banyak berbuat banyak di Rakhine.

     

    Sejumlah analis politik meyakini kerusuhan di Rakhine memperjelas batas kekuasaan Suu Kyi.

     

    Militer hingga kini masih menguasai pos strategis seperti Kementerian Dalam Negeri dan Kementerian Pertahanan.

     

    Sebuah delegasi internasional yang diizinkan mengunjungi lokasi kerusuhan awal bulan November hanya mampu mencapai "hasil terbatas," kata Utusan Khusus PBB untuk Myanmar, Yanghee Lee. "Angkatan bersenjata tidak boleh diberikan cek kosong dalam operasi militer ini," ujarnya.


     

    URL SUMBER
    BERITA TERKAIT
     
     
    BACA JUGA
       
       

      KOMENTAR ANDA                                                             Pedoman Mengirim Komentar

       
      KOMENTAR VIA WEBSITE                                             Pedoman Mengirim Komentar
        0 komentar

      KIRIM KOMENTAR
      Silakan LOG IN untuk memberi komentar.
       



      Copyright © 2013-2018 by FLOBAMORA NETWORK. All rights reserved.