• LINTAS FLOBAMORA
  • NASIONAL
  • INTERNASIONAL
  • LIFESTYLE
  • TRAVEL
  • BOLA
  • OPINI
  • REDAKSI
  • HUBUNGI KAMI
  • REGISTER     LOGIN      BANTUAN
    REGISTER     LOGIN      BANTUAN

    Rabu, 26 September 2018

     

     
    Home   »  Lintas Flobamora
     
    Peziarah Ikuti Prosesi Patung Tuan Ma dengan Khusuk
    VICKY DA GOMEZ | Jumat, 14 April 2017 | 22:58 WIB            #LINTAS FLOBAMORA

    Peziarah
    Patung Tuan Ma sedang diarak keliling Kota Larantuka, Jumat (14/4), dalam prosesi di Jumat Agung, dengan menyinggahi 8 armida, tradisi ini sudah berlangsung sekitar 500 tahun, dan masih dipertahankan hingga sekarang

     

    LARANTUKA,FLOBAMORA.NET – Kota Larantuka pada Jumat (14/4) malam menjadi hening dan syahdu. Ribuan peziarah yang berdatangan dari berbagai daerah di Indonesia maupun luar negeri mengikuti prosesi Patung Tuan Ma dengan khusuk.

    Tradisi keagamaan ini sudah berlangsung kurang lebih 500 tahun, dan masih tetap terus dipertahankan hingga kini.
           

    Perarakan Patung Tuan Ma diawali dengan ibadah Jumat Agung di Gereja Katedral Reinha Rosari Larantuka. Ibadah ini biasa disebut dengan lamentasi Jumat Agung, di mana ada tiga ratapan dengan lagu-lagu lamentasi persiapan prosesi.
           

    Kurang lebih pukul 19.30 Wita, Patung Tuan Ma mulai diarak keluar dari Gereja Katedral. Sebagaimana tradisi, Patung Tuan Ma diarak keliling Kota Larantuka dan menyinggahi 8 armida yaitu Armida Missericordia, Armida Tuan Meninu, Armida St. Philipus, Armida Tuan Trewa, Armida Pantekebi, Armida St. Antonius, Armida Kuce dan Armida Desa Lohayong.

    Urutan armida ini menggambarkan seluruh kehidupan Yesus Kristus mulai dari ke AllahNya (Missericordia), kehidupan manusiaNya dari masa bayi (Tuan Meninu), masa remaja (St. Philipus) hingga masa penderitaanNya sambil menghirup dengan tabah dan sabar seluruh isi piala penderitaan sekaligus piala keselamatan umat manusia.
           

    Pantauan media ini, sampai dengan pukul 22.30 Wita, prosesi perarakan Patung Tuan Ma masih berlangsung, dan baru melewati Armida Tuan Meninu menuju ke Armida St. Philipus. Diperkirakan prosesi ini baru akan selesai sekitar pukul 03.00 Wita pada Sabtu (15/4).
           

    Perarakan Patung Tuan Ma ini dikawal ketat para konfreria, petugas-petugas gereja, dan suku-suku Kerajaan Larantuka yang punya peran penting dalam keseluruhan Semana Santa sesuai tradisi agama dan kerajaan. Ratusan aparat keamanan, Satuan Polisi Pamong Praja, dan Orang Muda Katolik Keuskupan Larantuka ikut mengamankan jalannya perarakan.
           

    Sesuai tradisi, sehari setelah perarakan, atau pada hari Sabtu yang biasa disebut dengan Sabtu Alleluya, Patung Tuan Ma dan Patung Tuan Ana akan diarak kembali dari Gereja Katedral, untuk disemayamkan kembali di masing-masing kapela. Demikian pun pada hari yang sama, Patung Tuan Missericordia dan Tuan Meninu diarak dari armidanya kembali ke kapelanya.

    Sejarah
             

    Sejarah Larantuka, tidak lepas dari kedatangan bangsa Portugis dan Belanda, yang masing-masing membawa misi yang berbeda-beda. Bangsa Portugis membawa warna tersendiri bagi perkembangan sejarah agama Katolik di Flores Timur, yang meliputi Pulau Adonara, Solor dan Lembata.

    Kala itu, orang Portugis yang membawa seorang penduduk asli Larantuka bernama Resiona ke Malaka untuk belajar agama. Menurut cerita legenda, Resiona adalah penemu patung Mater Dolorosa atau Bunda Yang Bersedih ketika terdampar di Pantai Larantuka.

    Sekembali dari Malaka, Resiona membawa sebuah patung Bunda Maria, alat-alat upacara liturgis dan sebuah badan organisasi yang disebut Conferia, mengadakan politik kawin-mawin antara kaum awam Portugis dengan penduduk setempat.

    Pada tahun 1665, Raja Ola Adobala dibaptis atau dipermandikan dengan nama Don Fransisco Ola Adobala Diaz Vieira de Godinho yang merupakan tokoh pemrakarsa upacara penyerahan tongkat kerajaan berkepala emas kepada Bunda Maria Reinha Rosari. Setelah tongkat kerajaan itu diserahkan kepada Bunda Maria, Larantuka sepenuhnya menjadi Kota Reinha, dan para raja adalah wakil dan abdi Bunda Maria.

    Pada 8 September 1886, Raja Don Lorenzo Usineno II DVG, Raja ke-10 Larantuka, menobatkan Bunda Maria sebagai Ratu Kerajaan Larantuka. Sejak itulah, Larantuka disebut dengan sapaan Reinha Rosari.

    Pada 1954, Uskup Larantuka yang pertama, Mgr Gabriel Manek SVD mengadakan upacara penyerahan Diosis Larantuka kepada Hati Maria Yang Tak Bernoda.***


     
      TAG:
    • khas
    •   
    •   
    •   
    BERITA TERKAIT
     
     
    BACA JUGA
       
       

      KOMENTAR ANDA                                                             Pedoman Mengirim Komentar

       
      KOMENTAR VIA WEBSITE                                             Pedoman Mengirim Komentar
        0 komentar

      KIRIM KOMENTAR
      Silakan LOG IN untuk memberi komentar.
       



      Copyright © 2013-2018 by FLOBAMORA NETWORK. All rights reserved.