• LINTAS FLOBAMORA
  • NASIONAL
  • INTERNASIONAL
  • LIFESTYLE
  • TRAVEL
  • BOLA
  • OPINI
  • REDAKSI
  • HUBUNGI KAMI
  • REGISTER     LOGIN      BANTUAN
    REGISTER     LOGIN      BANTUAN

    Jumat, 21 September 2018

     

     
    Home   »  Ekonomi & Investasi
     
    PT Asiabeef Lakukan Ekspansi Peternakan Sapi Berteknologi Modern di NTT
    WILSON BOYMAU | Kamis, 18 Januari 2018 | 21:00 WIB            #EKONOMI & INVESTASI

    PT
    Direktur PT Asiabeef Biofarma Indonesia, James Jerry Huang saat bertemu Gubernur NTT, Frans Lebu Raya di ruang kerjanya, Kamis (18/1).

     

    KUPANG, FLOBAMORA.NET - PT Asiabeef Biofarma Indonesia (ABI) berencana melakukan ekspansi lahan pembibitan sapi dengan teknologi modern di Kabupaten Sumba Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT).

    Hal ini dikemukakan Direktur PT Asiabeef Biofarma Indonesia, James Jerry Huang kepada Gubernur NTT, Frans Lebu Raya di ruang kerjanya, Kamis (18/1).

    Menurut James, PT Asiabeef Biofarma Indonesia telah melakukan investasi sesuai ijin prinsip dalam kegiatan pembibitan sapi di Sumba Timur sejak tahun 2014 lalu dengan nilai investasi Rp27,8 miliar. Sebelumnya, PT Asiabeef pernah melakukan kegiatan usahanya di Kabupaten Sumba Barat pada tahun 2012.

    PT Asiabeef Biofarma Indonesia saat ini telah menetap di Sumba Timur dan memiliki sebanyak 701 ekor sapi lokal yang disebar dengan pola reins di Desa Lailanjang, Kecamatan Rinding, Kabupaten Sumba Timur. Sedangkan tenaga kerja yang diserap sebanyak 100 orang, yang mengelola lahan seluas 986 hektar.

    James menyampaikan kepada Gubernur Frans Lebu Raya terkait rencananya untuk memperluas usaha pembibitan sapi menggunakan teknologi modern di kawasan hutan lindung seluas 10.000 hektar. Mengingat, lahan usaha yang ada saat ini sangat terbatas untuk populasi ternak sapi.

    Dia mengaku, kajian lahan hutan lindung telah dilaksanakan dan mendapat persetujuan dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan RI. Namun masih terkendala soal rekomendasi yang harus dikeluarkan oleh Gubernur NTT.

    “Kedatangan kami untuk meminta bantuan dan dukungan pak Gubernur mengeluarkan rekomendasi persetujuan ijin pinjam pakai kawasan hutan lindung seluas 10.000 hektar, di Sumba Timur untuk disampaikan ke Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) RI,” ujar James.

    Perusahan asing asal Brasil dalam usaha populasi ternak sapi berteknologi modern itu, kata James, memilki prospek baik dalam jangka waktu 10 tahun. Dia yakini, melalui teknologi dan manejemen yang ditransfer ke Indonesia lewat kegiatan investasi jangka panjang 35 tahun ini, bisa menciptakan peluang bisnis yang menjanjikan.

    Gubernur Frans Lebu Raya menyetujui langkah dan upaya PT Asiabeef Biofarma Indonesia untuk melakukan ekspansi kegiatan pembibitan dan penggemukan sapi di Kabupaten Sumba Timur. “Prinsipnya saya berikan dukungan dan saya berpikir kegiatan usaha saat ini di atas lahan 1.000 hektar tidak cukup. Kalau bisa seluas-luasnya,” kata Lebu Raya.

    Gubernur Lebu Raya yang didampingi Kepala Dinas Penanaman Modal dan PTSP (DPMPTSP) NTT, Semuel Rebo meminta PT Asiabeef untuk memerluas jaringannya hingga ke pulau Timor. “Kalau di Sumba tidak cukup lahan maka saya ajak masuk ke Timor. Kalau di Flores memiliki tanah vulkanik tentu tidak bisa, tapi untuk pakan ternak banyak di Flores,” ujarnya.

    PT Asiabeef Biofarma Indonesia memiliki target dalam pembibitan dan penggemukan ternak sapi di atas lahan 10.000 hektar dengan pola 2,5 ekor per hektar. Artinya perencanaan di atas lahan 10.000 hektar itu nantinya terdapat 25.000 ekor sapi. Dengan memperbanyak sapi betina dan penggemukan sapi jantan.

    Kepala Dinas DPMPTSP NTT, Semuel Rebo mengatakan, PT Asiabeef Biofarma Indonesia menjadi satu-satunya perusahan asing yang serius berinvestasi di provinsi NTT. Lahan peternakan seluas 986 hektar di Sumba Timur telah dibangun pagar seluruhnya. Sekitar 300 hektar lahan ditanam rumput yang didatangkan dari Brasil untuk pakan ternak. Juga mimiliki dua mesin kebiri sapi jantan untuk penggemukan.

    Semuel memaparkan, PT Asiabeef juga mempunyai satu program, yaitu corporate Social Rensposibility (CSR) dengan membangun gedung balai diklat di atas lahan seluas 25 hektar. Balai diklat ini untuk memberikan pelatihan kepada masyarakat menjadi petani dan peternak yang andal.

    “Program CSR ini akan bekerja sama dengan Universitas Nusa Cendana Kupang memberikan pelatihan tentang bagaimana pola pemanfaatan lahan kering,” tambah Semuel.***


     
    BERITA TERKAIT
     
     
    BACA JUGA
       
       

      KOMENTAR ANDA                                                             Pedoman Mengirim Komentar

       
      KOMENTAR VIA WEBSITE                                             Pedoman Mengirim Komentar
        0 komentar

      KIRIM KOMENTAR
      Silakan LOG IN untuk memberi komentar.
       



      Copyright © 2013-2018 by FLOBAMORA NETWORK. All rights reserved.