• LINTAS FLOBAMORA
  • NASIONAL
  • INTERNASIONAL
  • LIFESTYLE
  • TRAVEL
  • BOLA
  • OPINI
  • REDAKSI
  • HUBUNGI KAMI
  • REGISTER     LOGIN      BANTUAN
    REGISTER     LOGIN      BANTUAN

    Jumat, 21 September 2018

     

     
    Home   »  Lintas Flobamora
     
    Meretas Rantai Isolasi Antarwilayah
    ALBERT VINCENT REHI | Rabu, 14 Maret 2018 | 21:26 WIB            #LINTAS FLOBAMORA

    Meretas
    Jembatan Likanaka di kecamatan Wolowaru

     
    Tahun ini masa pengabdian Marsel-Djafar  di Kabupaten Ende memasuki tahun keempat. Dengan menitikberatkan pembangunan pada karakteristik wilayah serta berbasis desa dan kelurahan, salah satu sektor yang jadi perhatian adalah pembangunan infrastruktur. Ini semua demi menjamin mobilisasi warga.

     

    SEJAK tahun 2015 lalu pembangunan sektor ini terus digenjot. Memang harus  diakui,untuk tahun 2015 ini geliat pembangunan infrastruktur bidang ke-PU-an, masih sangat terlambat lantaran perencanaannya berbarengan dengan penetapan APBD. Untuk perecanaannya saja butuh waktu sekitar empat bulan, kemudian persiapan RKA baru dilaksanakan pada Februari – Maret. Sedangkan pelaksanaannya baru dimulai pada bulan Agustus atau September.

     

    Untuk perencanaan infrastuktur di Kabupaten Ende, semuanya mengacu pada RPJMD 2014-2019. Ada ruas-ruas  jalan prioritas yang sudah disentuh di tahun 2015 dan lebih banyak lagi pada tahun 2016.

     

    Fantastisnya, tahun 2016, melalui lobi di kementerian dan DPR, dari total dana  yang diusulkan Rp 400 miliar, Kabupaten Ende mendapat DAK untuk infrastruktur sebesar Rp 221 miliar atau sekitar 50 persen dari usulan. DAK tersebut terdiri dari DAK reguler, afirmasi dan pembangunan infrastruktur daerah.

     

    “Pelaksanaan program 2016 di Pekerjaan Umum hampir merata baik itu bidang jalan,irigasi ,pemukiman maupun air minum.Dalam pelaksanaan secara keseluruhan semua sudah dikerjakan.meski ada kegiatan lebih kepada penyempurnaan.Ada beberapa kegiatan yang mungkin  hingga hari ini masyarakatpun sudah menikmati seperti air minum dan jalan,” kata Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat  Kabupaten Ende, Fransiskus Lewang kepada Flobamora News pekan lalu.

     

    Di bidang air bersih, kesulitan yang dialami pemerintah adalah pola perkampungan di Kabupate Ende yang lebih banyak berada di atas bukit, sementara sumber mata airnya ada di bawah bukit atau perkampungan.Itu menjadi persoalan serius. 

     

    Guna memobilisasi air minum pemerintah tetap berupaya menggunakan sistem grafitasi. sehingga bisa mendistribusikan ke kampung. Lalu, ada beberapa yang memang diposisi ketinggian diupayakan pompa untuk mengisap air menuju kampung. Dan pilihan terakhir adalah bagaimana pengeboran sumber air dalam, meski biayanya sangat mahal.

     

    Lantas bagaimana wajah infrastrukur di tahun 2017  lalu?  di bidang binamarga, dengan tidak mengabaikan pembangunan ruas jalan dan jembatan di beberapa wilayah, pemerintah daerah tetap focus pada pembangunan lima ruas jalan paralel yang akan dibangun untuk menghubungkan wilayah Selatan yang adalah Jalan Nasional dan wilayah Utara adalah jalan strategi provinsi yang sudah dirintis sejak tahun 2015 lalu.

     

    Ruas jalan yang dibangun itu adalah, pertama, Puukungu – Orakoze - Kamubheka, kedua, Nangaba - Wologai- Kebirangga  - Maukaro. Ketiga, Wokonio – Detukeli – Maurole. Keempat,  Nduaria, - Warundari – Hangalande – Kota Baru dan kelima, Watuneso-  Detupera- Oka - Hangalande - Kota Baru.

     

    “Kelima ruas jalan itu sebagai prioritas. Tetapi  masih ada jalan yang dapat perhatian seperti lanjutan Wonda – Maubasa, Wolowaru – Wolojita  dan beberapa ruas jalan menuju ibukota kecamatan,” imbuhnya.

     

    Ia mengakui, pada tahun 2015 karena keterbatasan anggaran baru dua ruas yakni Puukungu- Orokose- Kamubheka dan Nangaba-Mbotutenda-Wologai. Nah, Tahun 2016 dengan peluang pendanaan cukup bagus, maka lima jalur paralel sama-sama dimulai.Puukungu-Orokose-Kamubheka,Nangaba-Mbotutenda-Wologai hingga simpang Maukaro, Wologai-Detukeli-Maurole,Nduaria-Kotabaru, Watuneso-Kotabaru.

     

    Tahun ini pun, pemerintah kabupaten tetap berkomitmen untuk lima jalan paraleltetap menjadi perhatian, meskipun pendanaan tergantung dari alokasi keuangan, dengan tidak mengabaikan pembangunan jalan dan jembatan yang sudah direncanakan jauh-jauh hari.

     

    Sementara untuk menjawabi kebutuhan transportasi bagi masyarakat di Wilayah Selatan Kabupaten Ende, pemerintah Kabupaten Ende akan mengintervensi dana Rp 2 miliar demi peningkatan ruas jalan Ndona-Aekipa-Puutuga-Kurulimbu-Wolowaru.

     

     “ Guna menyukseskan kerja besar ini, perlu dukungan semua pihak, bukan hanya pemerintah saja. Hal yang harus dilakukan masyarakat adalah berkaitan dengan pembebasan tanah, sehingga progres pekerjaan jalan dan jembatan dapat berjalan dengan baik, tanpa ada masalah dan perselisihan yang dilakukan masyarakat,”harapnya.

     

    Memang secara program sudah masuk dalam RKPD Kabupaten ende. Prioritas  jalan dan air bersih, dengan tidak mengabaikan bidang lain yakni, irigasi, untuk mendukung kedaulatan pangan.

     

    Lewang mengakui, panjang jalan kabupaten mencapai 830 kilo meter, dengan jumlah desa di atas 200. Sedangkan daerah irigasi 100. Ini perlu sentuhan. Dengan keterbatasan dana, harus ada skala prirotas kabupaten dan semuanya mendapat pemerataan.

     

    Sejak  tahun 2016-2017 untuk pembangunan infrastruktiur terjadi satu lonjakan sangat luar biasa. Kondisi jalan sudah bayak teratasi,. Karena ruas jalan cukup panjang butuh waktu penyelesaiannya secara bertahap.

     

    Yang jadi persoalan sekarang adalah, pada tahun 2016 DAK cukup besat. Tetapi di tahun  2017 alokasi dananya turun menjadi Rp 70 miliar, termasuk  tahun 2018 juga mengalami penurunan Rp 60 miliar. Penurunan  Ini lantaran hampir sebagain dana difokuskan untuk penyelenggaraan Pilkada. Ini yang  memotivasi Dinas Pekerjaan Umum Kabupaten Ende untuk membagi pedanaan secara merata.

     

     “Untuk bidang  bina marga lima ruas paralel tetap jadi prioritas. di tahun 2018 dengan  tidak mengabaikan wilayah lain yang terisolir ternasuk Jalan menuju Tiwusora sudah terbuka. Dari lima ruas jalan ini, tahun ini juga mulai hotmiks khususnya di daerah perkampungan. Tinggal sekarang ruas jalan Detupera-Detulate, sekitar sekitar 10 kilo meter. Mudah-mudahan sudah bisa sambung di tahun 2018,” jelasnya.

     

    Selain itu, ada sejumlah ruas jalan dan jembatan yang akan dibangun pemerintah pada tahun 2018 ini, antara lain  Reka-Wolokota-Nila, Koanara-Jopu, Nangamboa-Watumite, Saga-Puutuga, Aekipa-Kurulimbu-Sokoria-Aeladu, Likanaka-Wololele A,  peningkatan ruas jalan Wolowaru – Nggela dan sejumlah ruas jalan lainnya.

     

    Pengerjaan ruas jalan tersebut, sambungnya, dinilai sangat penting karena jalan ini akan membuka akses transportasi dan akses ekonomi bagi masyarakat Kabupaten Ende  dan melewati  daerah atau kawasan produktif.

     

    Untuk air bersih juga menjadi persoalan, tetap kita perhatikan. Beberpa desa di Kecamatan Detuleli, kemarin sulit sekarang sudah mulai teratiasi pakai sistem grafitasi,  karena menimbang dari sisi operasioanl juga jauh lebih murah. Sejauh ini, sudah sekitar 80 persen  desa di kabupaten Ende sudah terlayani dengan air bersih. Tahun ini, ada 3-4 desa yang akan dibantu sumber air bersih.

     

    Untuk penataan perkotaan,j uga tetap jadi prirotas,Tahun ini Rp 6 miliar untuk jalan dan drainase. Ende juga dapat antuan dari Pemerintah Provinsi NTT untuk pembangunan  drainase kota .

     

    Pemerintah tidak mungkin mengabaikan penataan jalan dalam ibu kota kabupaten. Ini lantaran kota sebagai beranda dari kabupaten. Bagaimanapun juga beranda harus pula diatur dengan baik. Wajah kota yang bopeng  akan menjadi sorotan.

     

    Memang, alokasi anggaran tidak mengambil porsi yang lain. Prinispnya, kata Lewang,. kalau ada dana untuk satu ruas jalan akan kerjakan dan dituntaskan tahun itu juga.Pemerintah akan terus benahi keseluruhan dari sisi jalan maupun drainase.

     

    Tahun 2016  laku misalnya. Ruas jalan Kelimutu, El Tari dan Sapta Taruna dibenahi. Kendati mendapat  sorotan masyarakat tetap menjadi prioritas . Wajah kedua ruas jalan ini berubah rupa. El Tari ditata menjadi dua ruas jalan dengan boulevard di tengah, sehingga makin cantik. Demikian halnya Kelimutu, juga ditata makin apik. Ini demi keindahan wajah Kota Ende, sebagai Kota Sejarah dan kota tertua di Daratan Flores.***



     
    BERITA TERKAIT
     
     
    BACA JUGA
       
       

      KOMENTAR ANDA                                                             Pedoman Mengirim Komentar

       
      KOMENTAR VIA WEBSITE                                             Pedoman Mengirim Komentar
        0 komentar

      KIRIM KOMENTAR
      Silakan LOG IN untuk memberi komentar.
       



      Copyright © 2013-2018 by FLOBAMORA NETWORK. All rights reserved.