• LINTAS FLOBAMORA
  • NASIONAL
  • INTERNASIONAL
  • LIFESTYLE
  • TRAVEL
  • BOLA
  • OPINI
  • REDAKSI
  • HUBUNGI KAMI
  • REGISTER     LOGIN      BANTUAN
    REGISTER     LOGIN      BANTUAN

    Sabtu, 22 September 2018

     

     
    Home   »  Lintas Flobamora
     
    Geliat Sektor Pariwisata Kabupaten Ende di Masa Marsel-Djafar
    ALBERT VINCENT REHI | Rabu, 14 Maret 2018 | 21:40 WIB            #LINTAS FLOBAMORA

    Geliat
    Danau Kelimutu

     

    Pembangunan sektor Pariwisata di Kabupaten Ende di masa kepemimpin Marsel-Djafar terus menggeliat. Dengan potensi unggulan Danau Kelimutu , dunia pariwisata di daerah ini  terus tumbuh. Pemerintah pun mencari potensi  wisata lain sebagai penyanggah Danau Kelimutu.

    DITETAPKANNYA  Danau Kelimutu bersama 23 tempat lainnya di Indonesia menjadi kawasan strategis pariwisata nasional, merupakan berkah tersendiri bagi masyarakat yang bermukim di sekitar kawasan ini.

    Pengembangan kawasan strategis pariwisata nasional harus diikuti dengan pengembangan ekosistem pariwisata dengan munculnya simpul-simpul ekonomi baru di daerah-daerah sekitar destinasi pariwisata.

    Desa-desa di sekitar Kawasan Danau Kelimutu harus dikembangkan menjadi desa wisata berbasis masyarakat dan budaya, sehingga bisa tumbuh menjadi destinasi baru.

    “Pemerintah kabupaten sudah punya rencana mengambangkan daerah sekitar Kawasan Kelimutu menjadi pemasok kebutuhan seperti sayur-sayuran dan buah-buahan untuk keperluan wisatawan yang berkunjung ke daerah ini,” ujar Calon Bupati Ende  Marselinus Y.W Petu, Sabtu pekan lalu.

    Selain itu, sambungnya, event seperti Sepekan Pesta Danau Kelimutu dengan puncak acara Pati Ka Du’a Bapu Ata Mata, Parade Kebangsaan dan Bulan Soekarno yang dihelat pemerintah setiap tahun adalah pintu masuk pengembangan pariwisata di Kabupaten Ende.

    “Kami sering mengatakan, untuk menggerakkan dunia pariwisata di Kabupaten Ende  harus ada event. Jika tanpa event pengembangan pariwisata akan lamban bahkan cenderung jalan di tempat,” tandasnya.

    Ia menuturkan, saat ini misalnya, Desa Waturaka di Kecamatan Kelimutu telah tumbuh menjadi sebuah desa wisata berbasis masyarakat yang sangat luar biasa. Pemerintah menginginkan wisatawan jangan hanya datang dan melihat Kelimutu saja, tetapi masyarakat sekitar harus  mendapat keuntungan.

    “ Pariwisata berbasis masyarakat adalah konsep pembangunan pariwisata dengan mengedepankan partisipasi dan peran aktif masyarakat, yang berbasis konsep pariwisata ramah lingkungan. Pemerintah ingin menciptakan Waturaka-Waturaka  baru di Kawasan Danau Kelimutu,” ucapnya.

    Sementara Calon Wakil Bupati Ende H.Djafar Ahmad mengatakan, potensi pariwisata di daerah ini  masih banyak dan perlu dikembangkan. Misalnya, Danau Tiwusora di Kecamatan Lepembusu Kelisoke. Danau Tiwusora kini menjadi salah satu destinasi wisata baru yang mulai diminati. Selain itu, ada objek wisata budaya  megalitik dan sejarah yang sudah mendunia.

    Kata dia, untuk mendukung pengembangan  destinasi wisata baru itu, pemerintah berkewajiban membuka akses transportasi baik darat, laut maupun udara. “Puluhan potensi alam yang ada justru dapat mengundang wisatawan untuk bertahan lama di bumi Kelimutu ini,” katanya.

    Bahkan beberapa potensi yang dianggap menarik akan dikemas lebih cepat sesuai karakteristik daerah. Potensi wisata yang akan digenjot Marsel-Djafar yakni Gunung Meja, Situs Bung Karno, Taman Rendo, Pantai Ria, Pantai Tanjung, jalur tracking Sokoria dan Hutan Pinus Kebesani Detukeli.

    Ia menilai, potensi tersebut akan ditata sebagai kawasan wisata dan bahkan menarik perhatian.Gunung Meja misalnya, akan dikemas sebagai pusat tracking di wilayah perkotaan.

    “Nanti di atas gunung akan dipasang teropong, patung Bung Karno dan tulisan Ende Kota Pancasila. Nanti wisatawan yang berkunjung akan bisa melakukan tracking ke atas,” ucap cawabup Djafar pada setiap kampanye terbatas.

    Ia menjelaskan, tulisan “Ende Kota Pancasila” mengingat Presiden Indonesia pertama, Ir. Soekarno yang diasingkan di Ende oleh Kolonial Belanda dan mencetuskan butir-butir Pancasila sebagai dasar negara. Sehingga perlu ada penegasan kepada warga Indonesia bahwa Ende sebagai tempat lahirnya Pancasila.

    Wisata sejarah Situs Bung Karno pula akan ditata dengan pembangunan bersifat miniatur.Taman Bung Karno, nanti akan dikembangkan dengan air mancur, tempat perputaran film Bung Karno serta membangun perpustakaan mini khusus untuk buku-buku Bung Karno.

    “Untuk penataan taman nanti ada anggaran sebesar Rp 3,3 Miliar. Ada pedesain ahli yang sudah mahir menata. Jadi, kalau mereka sudah bertahan lama, pasti mereka butuh makan. Yah, makan dari mana? Dari masyarakat kan,” katanya.

    Sementara di perkampungan Tanjung, persis dibawah kaki Gunung Iya, akan dibangun tempat wisata serupa Pantai Losari di Makasar. Tempat wisata semacam ini kerap disukai wisatawan lokal.

    “Misalnya, mereka dari Nagekeo atau Bajawa, bisa datang ke Ende. Nanti, kita tata kembali Taman Rendo, Pantai Ria. Jadi, banyak potensi yang akan kita buat,” kata dia.

    Sementara, kawasan tracking Sokoria  menuju Danau Kelimutu dan wisata Hutan Pinus Detukeli pun menjadi kawasan wisata yang menarik bagi wisatawan mancanegara (wisman). Untuk itu perlu melakukan penataan kawasan terutama peningkatan infrastruktur penunjang.

    Jalur tracking Sokoria, Cawabup Djafar berharap, wilayah Sokoria dan Kurulimbu dapat menjadi daerah sebagai pusat informasi ke Kelimutu. Untuk itu diharapkan, tetap menjaga culture atau budaya serta keaslian perkampungan adat.

    “Kampung adat di sini saya lihat sangat bagus. Dan ini bisa berkembang menjadi daerah wisata. Jadi saya harap, supaya daerah ini menjadi pusat informasi ke Kelimutu. Masyarakat juga nanti akan disiapkan,” kata Djafar

    Sementara pada sisi transportasi, jelas Djafar, akan dibangun dermaga marina khusus untuk kapal pesiar di Bita Beach. Begitupun akan disiapkan transportasi laut Labuan Bajo-Ende dengan kecepatan 30 knot.

    “Kalau jalan darat kan lama, kita siapkan lewat jalur laut. Lebih cepatlah nanti,” tambah dia.

    Menang, untuk mendukung pengembangan  destinasi wisata baru itu, pemerintah berkewajiban membuka akses transportasi baik darat, laut maupun udara. Ende saat ini, adalah Ende terus tumbuh dan menggeliat. Bahkan, tahun lalu Bandara Aroeboesman merupakan bandara teramai ketiga di NTT setelah El Tari di Kupang dan Komodo di Labuan Bajo.***

     
    BERITA TERKAIT
     
     
    BACA JUGA
       
       

      KOMENTAR ANDA                                                             Pedoman Mengirim Komentar

       
      KOMENTAR VIA WEBSITE                                             Pedoman Mengirim Komentar
        0 komentar

      KIRIM KOMENTAR
      Silakan LOG IN untuk memberi komentar.
       



      Copyright © 2013-2018 by FLOBAMORA NETWORK. All rights reserved.