• LINTAS FLOBAMORA
  • NASIONAL
  • INTERNASIONAL
  • LIFESTYLE
  • TRAVEL
  • BOLA
  • OPINI
  • REDAKSI
  • HUBUNGI KAMI
  • REGISTER     LOGIN      BANTUAN
    REGISTER     LOGIN      BANTUAN

    Rabu, 26 September 2018

     

     
    Home   »  Lintas Flobamora
     
    Drs. H.Djafar H.Achmad,MM: "Banyak yang Ingin Pisahkan Kami Berdua"
    ALBERT VINCENT REHI | Kamis, 15 Maret 2018 | 06:53 WIB            #LINTAS FLOBAMORA

    Drs.
    Drs. H.Djafar H.Achmad,MM

     

    Sosok laki-laki  yang rendah hati ini, bekerja dalam diam. Kata orang bijak, diam itu emas. Mungkin itulah prinsip hidup yang dipegang teguh Wakil Bupati Ende masa jabatan 2014-2019, H.Djafar H. Achmad. Duetnya bersama Marselinus Y.W Petu, begitu harmonis, hingga keduanya maju lagi dalam perhelatan politk kali ini.   

     

    Berkat loby dan kepiawaiannya meyakinkan para pengusaha, dalam kurun waktu tiga tahun lebih Pelabuhan Ende dan Ippi kembali bergairah, bahkan menjadi pelabuhan tersibuk kedua setelah Tanjung Lontar, Tenau Kupang.

    Sebetulnya, tahun 2008 lalu, Pak Djafar, demikian ia kerap disapa, pernah menjadi salah satu kandidat Wakil Bupati Ende. Tetapi, nasib baik belum mengantarnya ke tampuk kekuasaan sebagai wakil bupati. Selepas itu, ia kembali ke rutinitasnya sebagai  Senior Manager CD-CSR PT. Jababeka, Tbk.

    Rupanya panggilan pengabdian dari tanah leluhur tidak bisa  ia hindari. Tahun 2013, ia dipinang Marselinus Y.W Petu, yang saat itu Ketua DPRD dan Ketua DPD Partai Golkar Kabupaten Ende sebagai calon wakil bupati. Dan tahun 2014, keduanya mendapat mandat rakyat Kabupaten Ende  untuk menakhodai Kabupaten Kelimutu itu sebagai bupati dan wakil bupati.

    Pak Djafar, punya pertimbangan yang sangat logis. Ia menerima pinangan Marsel, karena ia lihat dalam diri anak muda yang satu ini, tersimpan sebuah potensi yang amat besar untuk memajukan Kabupaten Ende. Marsel punya latar belakang budaya yang kuat.  Marsel punya kematangan emosional yang terukur.

    Ia mengakui, sejak tahun 2008 mengagumi sosok Marsel. Bahkan, kepada keluarga sebelum meninggalkan Ende, ia sempat berpesan, jika  pada Pilkada berikutnya Pak Marsel masih ikut sebagai salah satu kontestan, tidak rugi jika memilihnya sebagai Bupati Ende, karena ia memiliki latar belakang budaya sangat kental.  

    “ Setelah kami dilantik  pada 7 April 2014, saya katakan kepada Pak Marsel, kalau di kantor saya panggil bupati. Tetapi di luar kantor saya akan panggil adik. Inilah cari kami berdua menjaga keharmonisan hubungan sebagai bupati dan wakil bupati ,”  kata Djafar di Ende, Jumat lalu.

    Menurutnya, mereka berdua memegang prinsip Juru Pa Turu,  Mboka  Pa Wake, Kura Pa  Tamba, Resi Pa Bagi. Dengan prinisp itu siapa pun tidak bisa memisahkan keduanya. Bahkan, dalam perkembangan selanjutnya, banyak yang meminta agar ia mempersiapkan diri untuk maju sebagai bupati dengan berbagai alasan atau pertimbangan.”Banyak sekali yang ingin memisahkan kami berdua,” imbuhnya.

    Djafar punya komitmen, orang Ende yang belum pernah jadi anggota DPR RI, Untuk itu, dia akan mendampingi dan mengawasi Pak Marsel hingga tuntas pada periode kedua jika rakyat Ende masih memberikan mandat.”Kita butuh pemimpin seperti ini, Saya kawal dia untuk lebih maju,” ucapnya.

    Ia mengisahkan, ihwal upaya memisahkan dirinya dengan Pak Marsel, pernah satu waktu ada berita di media, yang memuji keberhasilan dirinya melobi dan mendatangkan kapal roro ke Ende. Secara guyon, ia menanyakan apakah bupati sudah membaca berita tersebut ke Pak Marsel. Ternyata jawaban Pak Marsel sama seperti yang dipikirkan. Ini adalah sebuah pujian Pujian yang bisa menjatuhkan.

    Ia menuturkan, sebagai wakil bupati menjaga aga betul hubungan baik antara bupati dan wakil bupati. Bagaimana mau bekerja, jika pimpinannya tidak akur atau saling curiga satu sama lain.

    “ Kami berdua  sudah bagi tugas. Soal kebijakan dan infrastruktur itu menjadi tanggung jawab bupati. Sedangkan saya  masalah perkotaan dan perhubungan serta pengawasan. Sehingga apa saja yang saya lakukan untuk memajukan sektor perhubungan di Kabupaten Ende mendapat dukungan penuh bupati,” paparnya.

    Ayah tiga anak ini punya prinsip, kepercayaan atau amanah yang diberikan harus dikerjakan dengan baik.  Hubungan bupati dan wakil bupati akan harmonis, jika keduanya tahu posisi.  Ia sangat bersyukur, karena diberi  kepecayaan untuk mengurus  masalah perkotaan dan perhubungan. Seorang wakil  harus tahu diri.

    “Dalam satu satu kapal tidak ada dua nakhoda. Nakhodanya hanya ada satu. Kalau ada dua, mau dibawa ke mana kapal ini. Tidak ada matahari kembar di Ende.  Saya harus mendukung tugas bupati. Ini prinisp kebersamaan kami selama ini,” tandasnya.

    Ia menjelaskan, sejak tahun 2013, saat keduanya berkeliling dari desa ke desa  sudah mengulirkan program Membangun dari Desa dan Kelurahan. Nah, untuk mendukung ini, sektor perhubungan dn infrastruktur harus dibangun. Pelabuhan harus hidup. Kalau satu daerah ingin maju harus kuasai sektor perhubungan.

    “Dulu kita masuk Kawasan Maumere. Pelabuhannnya sangat sepi. Butuh sesuatu harus tunggu dari Maumere . Kita tidak bisa maju, kalau hanya tunggu. Peluang yang ada harus direbut. Karena kita tahu, pelabuhan merupakan pintu masuk suatu daerah. Tidak berlebihan jika sektor ini dan infrastruktur kita genjot dalam empat tahun terakhir ,” kata alumni SMPK Frateran Ndao ini.

    Mengenai tol laut ini, jauh sebelum Presiden Jokowi menggulirkan program ini, gagasannya sudah  disampaikan Mantan Dirut PT Pelindo III R.J Lino.  Lino sendiri menggagas, konektitifitas antar pelabuhan di Indonesia. Karena Ende tidak masuk dalam ljalur Tol laut,  Pemkab harus jemput bola. Hasilnya, ada dua kapal roro dan dua kapal penumpang masuk Ende, ditambah lagi dengan kapal petikemas.

    “Untuk transposrtasi laut, pemerintah telah meningkatkan fungsi Pelabuhan Ippi dan Ende. Dan dalam tahap perencanaan akan membangun Pelabuhan Marina, khusus untuk kapal pesiar di sekitar Pantai Bita, guna mengantisipasi lonjakan kunjungan wisatawan dari Labuan Bajo dan Bali,” jelasnya.

    Itulah Pak Djafar, pribadi yang unik. Ia tidak banyak bicara. Yang ada hanyalah kerja… kerja…kerja….Lanjutkan dan tuntaskan apa yang sudah dirintis selama ini.***

    BIODATA SINGKAT

    Nama              : Drs. Djafar H. Achmad, MM

    TTL                 : Ende, 29 Januari 1953

    Nama Istri    : Hj. Mastuti

    Nama Anak :   

    1. Mohamad Arsyid

    2. Marsita Ariani

    3. Mohamad Aridha

    Pendidikan

    Sekolah Rakyat (SR) Negeri Rendo Maupandi Pulau Ende, Ende

    ·         Sekolah Menengah Pertama (SMP) Katolik Frateran Ndao, Ende

    ·         Sekolah Menengah Ekonomi Atas (SMEA) Negeri Ende

    • Universitas Jakarta (UNIJA) Strata 1 Fakultas Ketatanegaraan dan Ketataniagaan Jurusan Administrasi Niaga
    • Sekolah Tinggi Management Labora Strata 2 bidang study Management Pemasaran

     
    BERITA TERKAIT
     
     
    BACA JUGA
       
       

      KOMENTAR ANDA                                                             Pedoman Mengirim Komentar

       
      KOMENTAR VIA WEBSITE                                             Pedoman Mengirim Komentar
        0 komentar

      KIRIM KOMENTAR
      Silakan LOG IN untuk memberi komentar.
       



      Copyright © 2013-2018 by FLOBAMORA NETWORK. All rights reserved.