• LINTAS FLOBAMORA
  • NASIONAL
  • INTERNASIONAL
  • LIFESTYLE
  • TRAVEL
  • BOLA
  • OPINI
  • REDAKSI
  • HUBUNGI KAMI
  • REGISTER     LOGIN      BANTUAN
    REGISTER     LOGIN      BANTUAN

    Kamis, 18 Januari 2018

     

     
    Home   »  Lintas Flobamora
     
    Rumah Tunggu Solusi Meningkatkan Akses Persalinan ke Faskes
    ELSA | Selasa, 18 Maret 2014 | 07:41 WIB            #LINTAS FLOBAMORA

    Rumah
    Rumah Tunggu Program AIPMNH di Wolowaru

     
    Ende, Flobamora.net - Program AIPMNH di Kabupaten Ende, Nusa Tenggara Timur (NTT)  rupanya punya kiat tersendiri untuk mendukung Program Revolusi Kesehatan Ibu dan Anak/KIA di daerah tersebut, yang dewasa ini terus digalakan dalam upaya mempercepat penurunan Angka Kematian Ibu (AKI) dan Angka Kematian Bayi (AKB)  

    "Upaya dan kerja keras praktisi kesehatan di Kabupaten Ende bekerja sama dengan AUSAID, terobosan untuk meminimalisir angka kematian ibu dan anak yang berawal dari Puskesmas Wolowaru dengan membangun rumah tunggu," kata Mentor CE AIPMNH Ende, Herman Leonis, Leonis, Selasa (18/3).

    Menurutnya, membangun rumah tunggu dekat dengan Puskesmas, bertujuan agar para ibu hamil (bumil) lebih dekat dengan  fasilitas kesehatan (Faskes) sehingga lebih mudah menjangkau dan mendapat pelayanan kesehatan secara teratur sebelum dan pasca melahirkan.
     
    Dia menjelaskan, Rumah Tunggu, biasa juga disebut Rumah Tunggu Kelahiran (RTK), adalah suatu tempat atau ruangan yang berada di dekat fasilitas kesehatan (polindes, puskesmas, rumah sakit) yang dapat digunakan sebagai tempat tinggal sementara bagi ibu hamil dan pendampingnya (suami/kader/keluarga) selama beberapa hari sebelum waktu persalinan tiba dan beberapa hari setelah bersalin.
     
    "Sasaran rumah tunggu, diutamakan bagi ibu hamil yang berasal dari tempat yang jauh dari faskes atau daerah dengan akses sulit dan minim transportasi. Selain itu, rumah tunggu juga diperuntukkan bagi mereka yang memiliki faktor risiko atau risiko tinggi," ujarnya.

    Dia mencontohkan, bumil dengan umur kurang dari 20 tahun (terlalu muda) dan lebih dari 35 tahun (terlalu tua), bumil yang sudah bersalin lebih dari 4 kali (terlalu sering), bumil dengan jarak kehamilan yang dekat (terlalu rapat) atau sering dikenal dengan istilah “4 terlalu”, bumil dengan riwayat kehamilan yang buruk dan bumil dengan berbagai jenis risiko lainya.

    Secara umum, katanya , berfungsi untuk membantu menurunkan kematian ibu dan bayi akibat keterlambatan penanganan pada ibu hamil (Bumil), ibu bersalin (Bulin) dan ibu nifas (Bufas) serta bayinya. Dengan kata lain, untuk meminimalisir atau mengatasi“3 terlambat”yakni terlambat mengambil keputusan, terlambat dirujuk, dan terlambat ditangani oleh petugas kesehatan terlatih.

    "Selain itu, pengembangan Manual Rujukan dan implementasi sistem 2H2 Center untuk mendukung proses rujukan, juga menjadi hal yang penting untuk dilaksanakan," paparnya.

    Dia menambahkan, perlu pula meningkatkan akses dan jumlah ibu bersalin yang ditolong oleh tenaga kesehatan terlatih di fasilitas kesehatan yang memadai.***

     
    BERITA TERKAIT
     
     
    BACA JUGA
       
       

      KOMENTAR ANDA                                                             Pedoman Mengirim Komentar

       
      KOMENTAR VIA WEBSITE                                             Pedoman Mengirim Komentar
        0 komentar

      KIRIM KOMENTAR
      Silakan LOG IN untuk memberi komentar.
       



      Copyright © 2013-2018 by FLOBAMORA NETWORK. All rights reserved.