• LINTAS FLOBAMORA
  • NASIONAL
  • INTERNASIONAL
  • LIFESTYLE
  • TRAVEL
  • BOLA
  • OPINI
  • REDAKSI
  • HUBUNGI KAMI
  • REGISTER     LOGIN      BANTUAN
    REGISTER     LOGIN      BANTUAN

    Jumat, 21 September 2018

     

     
    Home   »  Nasional
     
    Jokowi Siap Perjuangkan Suara NU
    ANA DEA | Rabu, 28 Mei 2014 | 22:17 WIB            #NASIONAL

    Jokowi
    Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo bersama Ketua Umum PP Muslimat NU Khofifah Indar Parawansa dan Ketua PBNU Slamet Effendi Yusuf, di Asrama Haji Pondok Gede, Jakarta Timur, Selasa (27/5/2014). Arimbi Ramadhiani

     

    JAKARTA - Bakal calon presiden Joko Widodo menyatakan siap memperjuangkan suara kaum Nahdlatul Ulama (NU) jika dirinya terpilih sebagai presiden. Pernyataan itu diungkapkannya menyusul harapan Ketua Pengurus Besar NU Said Aqil Siradj agar presiden terpilih memperhatikan pesantren yang juga membutuhkan dana BOS (bantuan operasional sekolah).

     

    "Menurut saya, yang harus diberikan bantuan itu bukan sekolah, tapi anaknya. Sehingga mau sekolah di madrasah, sekolah umum, tetap akan dibantu," ujar Jokowi seusai menghadiri Rakernas dan Mukernas Muslimat NU di Asrama Haji Jakarta, Rabu (28/5/2014) siang.

     

    Gubernur DKI Jakarta itu mengatakan, kebijakan semacam itu telah dilakukan oleh pemerintah Provinsi DKI Jakarta saat menjabat sebagai gubernur, yakni melalui Kartu Jakarta Pintar atau KJP. Jokowi mengakui bahwa persoalan bangsa selalu menyangkut warga NU. Oleh sebab itu, dengan melaksanakan program pembangunan merata, dia berharap mampu meningkatkan taraf hidup warga NU juga.

     

    "NU adalah ormas Islam terbesar di Indonesia. Saya kira pemerintah harus menyelesaikan persoalan bangsa. Karena, apa-apa pasti juga menyangkut dengan warga NU," ujar Jokowi.

     

    Sebelumnya, Ketua Umum PBNU Said Aqil Siradj berpesan ke presiden terpilih agar mengakomodir suara kaum Nahdiyin. Aqil mengatakan, meski NU adalah organisasi muslim terbesar di Indonesia, tetapi masih banyak warga NU yang tidak tersentuh oleh imbas positif pembangunan pemerintah pusat, baik di bidang transportasi atau pelayanan kesehatan.

     

    "Anak-anak sekolah itu naik angkot setengah harga. Tapi santri tetap 100 persen. Anak-anak sekolah diberi BOS, tapi pesantren mana ada BOS. Padahal pesantren lebih dulu ada sebelum negara ini," ujar Aqil.


     

    URL SUMBER
    BERITA TERKAIT
     
     
    BACA JUGA
       
       

      KOMENTAR ANDA                                                             Pedoman Mengirim Komentar

       
      KOMENTAR VIA WEBSITE                                             Pedoman Mengirim Komentar
        0 komentar

      KIRIM KOMENTAR
      Silakan LOG IN untuk memberi komentar.
       



      Copyright © 2013-2018 by FLOBAMORA NETWORK. All rights reserved.