• LINTAS FLOBAMORA
  • NASIONAL
  • INTERNASIONAL
  • LIFESTYLE
  • TRAVEL
  • BOLA
  • OPINI
  • REDAKSI
  • HUBUNGI KAMI
  • REGISTER     LOGIN      BANTUAN
    REGISTER     LOGIN      BANTUAN

    Selasa, 11 Desember 2018

     

     
    Home   »  Nasional
     
    Ketua MUI: Penyerangan di Jogyakarta Rusak Kehidupan Beragama
    ANA DEA | Sabtu, 31 Mei 2014 | 12:30 WIB            #NASIONAL

    Ketua
    Keluarga Keraton Ngayogyakarta yang datang ke lokasi yakni Permasuri Sultan HBX GKR Hemas, Gusti Prabukusumo dan wakil Bupati Sleman Yuni Setia Rahayu saat menemui Julius. KOMPAS.com/wijaya kusuma

     

    JAKARTA - Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Din Syamsuddin menilai, perbuatan sekelompok orang yang melakukan penyerangan di Yogyakarta telah merusak suasana kerukunan umat beragama di Indonesia. Din mendorong pihak kepolisian untuk mengusut kasus tersebut hingga tuntas.

     

    "Hal-hal semacam itulah yang merusak suasana kehidupan beragama yang sudah berlangsung cukup baik," ujar Din di Asrama Haji Pondok Gede, Jakarta Timur, Jumat (30/5/2014).

     

    Menurutnya, perilaku tersebut tidak bisa ditolerir. Ia berharap masyarakat tidak membesar-besarkan perbedaan. Penyerangan pada kelompok yang tengah beribadah, bertentangan dengan nilai-nilai kemanusiaan.

     

    "Saya mendorong kepolisian untuk mengusut terus, jangan sampai terulang-ulang kembali," ucapnya.

     

    Penyerangan terjadi di rumah Julius Felicianus (54) di Perumahan Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Yayasan Keluarga Pahlawan Negara (STIE YKPN) Dusun Tanjungsari, Desa Sukoharjo, Kecamatan Ngaglik. Julius adalah Direktur Galang Press, penerbit buku di Yogyakarta. Ketika itu, sejumlah umat Katolik tengah berdoa.

     

    Menurut Hendricus Subandono (22), putra Julius, penyerangan terjadi sekitar pukul 20.30. Para penyerang yang mengendarai sepeda motor berhenti di dekat rumah Julius dan berteriak-teriak. Saat bertemu peserta doa bersama, mereka menyerang dengan potongan besi dan alat setrum. Mereka juga melempari rumah Julius dengan batu sehingga kaca-kaca rumah pecah dan taman di depan rumah rusak parah.

     

    ”Jumlah penyerang sekitar delapan orang dan memakai gamis. Ketika mereka datang, orangtua saya sedang tak di rumah,” kata Hendricus di rumahnya seperti dikutip Harian Kompas.

     

    Sekitar pukul 21.15, Julius tiba di rumahnya bersama beberapa teman. Tak lama kemudian Julius diserang dengan potongan besi oleh orang-orang yang sama. Selain Julius, sedikitnya dua peserta doa bersama juga terluka.

     

    Hendricus menjelaskan, pada Kamis malam di rumahnya sedang digelar doa rosario bersama dan latihan paduan suara. ”Doa bersama ini diadakan sejak awal Mei lalu. Sudah hampir sebulan, tetapi sebelumnya enggak ada gangguan,” ujarnya. Para peserta doa berjumlah sekitar 15 orang dan sebagian besar ibu-ibu.

     

    Hendricus menambahkan, dia mengenal sebagian penyerang. Dua orang di antaranya tinggal di depan rumah Julius.

     

    Wartawan Kompas TV, Michael Aryawan, yang sedang meliput kejadian itu, juga diserang. Kamera milik Michael dirampas para penyerang. Pada Jumat siang, Michael dan perwakilan Kompas TV DIY melaporkan penganiayaan dan perampasan kamera ke Kepolisian Daerah (Polda) DIY.

     

    Polisi sudah menangkap satu orang berinisial Kh yang diduga terlibat penyerangan. Kh ditangkap di rumahnya yang tak jauh dari lokasi kejadian.


     

    URL SUMBER
    BERITA TERKAIT
     
     
    BACA JUGA
       
       

      KOMENTAR ANDA                                                             Pedoman Mengirim Komentar

       
      KOMENTAR VIA WEBSITE                                             Pedoman Mengirim Komentar
        0 komentar

      KIRIM KOMENTAR
      Silakan LOG IN untuk memberi komentar.
       



      Copyright © 2013-2018 by FLOBAMORA NETWORK. All rights reserved.