• LINTAS FLOBAMORA
  • NASIONAL
  • INTERNASIONAL
  • LIFESTYLE
  • TRAVEL
  • BOLA
  • OPINI
  • REDAKSI
  • HUBUNGI KAMI
  • REGISTER     LOGIN      BANTUAN
    REGISTER     LOGIN      BANTUAN

    Senin, 18 Juni 2018

     

     
    Home   »  Lintas Flobamora
     
    Tolak Perbudakan Manusia, Ampera Gelar Long March ke Mapolda NTT
    ALBERTO | Selasa, 17 Juni 2014 | 15:14 WIB            #LINTAS FLOBAMORA

    Tolak
    Peserta Long March Ampera (Foto : Polce Aamalo)

     

    Kupang, Flobamora.net - Ratusan Orang GRatusan orang yang tergabung dalam Aliansi Menolak Perdagangan Orang (Ampera) long march  menolak perdagangan dan perbudakan terhadap warga Nusa Tenggara Timur di sejumlah daerah di tanah air. Seperti kasus perbudakan yang terjadi di Medan, Sumatera Utara yang mengakibatkan tewasnya dua pekerja. Long march yang sama juga digelar di Medan.

     

    Long march mulai dari depan Kampus Universitas Widya Mandira (Unwira) Kupang menuju Polda Nusa Tenggara Timur (NTT), Selasa (17/6) pagi.

     

    Lembaga yang tergabung dalam aliansi ini berjumlah 84, antara lain Senat dan BPM Fakultas Hukum Unwira, BEM Fakultas Kedokteran Undana, KMK Fisip Undana, Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI), Perkumpulan Pikul, Rumah Perempuan, dan CIS Timor.

     

    Sesuai siaran pers yang diterima sejumlah media menyebutkan, kematian dua perempuan asal NTT di Medan pada Februari 2014 yakni Marni Baun, 22 dan Rista Botha 22, merupakan tanda tragedi kemanusiaan di NTT.

     

    Selama ini NTT merupakan surga perdagangan orang. Anak-anak dipaksa bekerja, identitas mereka dipalsukan. Orang NTT dicari karena harganya murah, dan mati pun tak ada yang mempersoalkan. Bahkan Mohar, pelaku utama kasus kematian dua perempuan ini dibebaskan dari tahanan di Polresta Medan.

     

    Anak-anak perempuan telah diibaratkan seperti sapi, mereka dicari oleh para makelar dari kampung ke kampung, dan dijanjikan akan mendapatkan hidup lebih baik, dengan gaji maupun kebaikan majikan. Tetapi janji tinggal janji, dan mereka pun terjebak dalam ilusi. Meskipun korban berjatuhan. Orang diam memandang kematian.

     

    Tak hanya itu, salah satu pekerja, Yenny Fuakan dipulangkan dan diculik dari rumah sakit  dalam keadaan lumpuh pada tanggal 28 Mei 2014, sementara sang pelaku utama Mohar dan dua pelaku lainnya, Hariati Ongko (istri) dan Vina Winseli (keponakan), di Medan masih bebas dan tak tersentuh sama sekali oleh hukum.

     

    Seharusnya kasus Kupang dan Medan bisa menjadi pintu masuk untuk membuka kasus perdagangan manusia di Indonesia. Mabes Polri seharusnya jangan hanya diam dan menonton ketidakadilan.***


     
    BERITA TERKAIT
     
     
    BACA JUGA
       
       

      KOMENTAR ANDA                                                             Pedoman Mengirim Komentar

       
      KOMENTAR VIA WEBSITE                                             Pedoman Mengirim Komentar
        0 komentar

      KIRIM KOMENTAR
      Silakan LOG IN untuk memberi komentar.
       



      Copyright © 2013-2018 by FLOBAMORA NETWORK. All rights reserved.