• LINTAS FLOBAMORA
  • NASIONAL
  • INTERNASIONAL
  • LIFESTYLE
  • TRAVEL
  • BOLA
  • OPINI
  • REDAKSI
  • HUBUNGI KAMI
  • REGISTER     LOGIN      BANTUAN
    REGISTER     LOGIN      BANTUAN

    Rabu, 26 September 2018

     

     
    Home   »  Lintas Flobamora
     
    Pemenuhan Kebutuhan Lapangan Kerja Adalah Tugas Negara
    DEWA HAYON | Jumat, 20 Juni 2014 | 20:00 WIB            #LINTAS FLOBAMORA

    Pemenuhan
    RD. Leo Mali Bersama Buruh Migran

     

    Kupang, Flobamora.net - Dosen Fakultas Filsafat Universitas Katolik Widya Mandira (UNWIRA) Kupang dan  Pembina Jaringan Relawan untuk Kemanusiaan, RD. Leo Mali  mengatakan, pemenuhan kebutuhan akan lapangan kerja harus diupayakan dan dipikirkan oleh negara. Pasalnya, Salah satu tujuan dasar dari terbentuknya negara ini adalah  mengupayakan kesejahteraan seluruh rakyat Indonesia. 

     

    Hal tersebut disampaikan RD. Leo Mali pada seminar migrasi aman dengan para tokoh lintas agama se-Kabupaten Kupang yang diselenggarakan oleh  Yayasan Tifa dan Lembaga Rumah Perempuan Kupang di Hotel Olive Kupang,Jumat (20/6).

     

    Melalui materinya “Peran Tokoh Agama dalam Memberikan perlindungan Terhadap Buruh Migran Indonesia (BMI)”, dia mengatakan, kebutuhan akan lapangan kerja adalah sebagian dari hak asasi setiap orang.

     

    Menurutnya, hak ini terkait dengan hak atas kesejahteraan (hak ekonomi) dan menjadi hal paling fundamental bagi hak hidup seseorang.Untuk itu  secara konstitusional mengupayakan lapangan kerja  adalah mandat resmi birokrasi pemerintah yang melayani negara.

     

    “Berbicara lapangan kerja tentunya  hak pemerintah untuk  menyiapkan lapangan kerja. Saya melihat kadang seorang pemimpin daerah baik gubernur dan bupati  mengharapkan bagaimana generasi muda  menciptakan lapangan kerja. Sebanar hal itu tidak boleh dikatakan seorang pemimpin daerah , karena secara konstitusional yang mengupayakan lapangan kerja  adalah mandat resmi negara bagi birokrasi pemerintah,” katanya.

     

    Sementara berkaitan dengan tugas tokoh agama,lanjutnya, dalam perspektif Katolik  setiap orang anggota gereja,terutama tokoh agama, mengemban tiga tugas Kristus  yakni, sebagai Nabi yang mengajar umat beriman agar mengenal Allah dan menghayati hidup  dalam terang iman. Sebagai  gembala  menuntun umat dengan ajaran-ajaran iman yang benar,yang mana termasuk di dalamnya ajaran-ajaran moral,dan sebagai Imam, menguduskan  umatnya dengan doa dan cara hidup yang suci.

     

    Berkaitan dengan buruh migrant, kata dia, apa yang bisa dilakukan  oleh tokoh agama, mengajarkan penghargaan yang benar terhadap  martabat manusia, mengajarkan penghargaan terhadap setiap bentuk pekerjaan, dan mengajar umat untuk menghargai semua profesi  yang didalam  termasuk mengajar umat (yang adalah pembuat kebijakan publik)  untuk memikirkan sistem tata kelola yang manusiawi pada bentuk-bentuk profesi dan lapangan kerja.  

     

    Selain itu,tambahnya, kepada para pencari kerja seorang tokoh agama juga dapat mengajarkan umat/ para pencari kerja  untuk menyiapkan diri dengan baik dengan mengikuti aturan-aturan sebagai syarat  untuk membuat profesi atau pekerjaan yang dipilih itu bermartabat dan dihargai orang lain. Gereja atau masjid juga bisa menjadi pusat informasi tentang lapangan kerja serta syarat-syarat untuk bekerja dengan aman.

     

    “Seorang tokoh agama dalam perspektif Katolik  juga adalah seorang gembala dengan  tugas utamanya adalah menjaga keselamatan umat.Maka ia harus memastikan bahwa umatnya, yang hendak bekerja di tempat lain akan mengalami keadaan yang lebih baik. Untuk itu semua proses harus dipastikan dengan baik sejak persiapan, penempatan dan perlindungan selama di tempat bekerja,” ujarnya.

     

    Tugas lain yang tidak kalah penting,katanya, peran tokoh agama juga memperhatikan kebutuhan rohani para pekerja migran. Dalam banyak kasus, para pekerja tidak dipenuhi  hak mereka untuk berdoa atau beribadah.

     

    “Tugas pendampingan rohani juga sedapat mungkin diarahkan kepada keluarga pekerja. Dalam banyak kasus di daerah-daerah asal pekerja migran itu, banyak janda dan “single parent”  yang membutuhkan pendampingan rohani ,” katanya.

     

    Selain itu juga, paparnya, tokoh agama itu secara informal juga memiliki pengaruh yang significant dalam masyarakat. Ia menjadi kekuatan perubahan yang riil dalam masyarakat sipil. Maka tugasnya bukan hanya bersifat internal eksklusif dalam lingkungan agama saja. Ia bisa menjadi modal sosial yang mendorong perubahan sehat dalam masyarakat.***


     
    BERITA TERKAIT
     
     
    BACA JUGA
       
       

      KOMENTAR ANDA                                                             Pedoman Mengirim Komentar

       
      KOMENTAR VIA WEBSITE                                             Pedoman Mengirim Komentar
        0 komentar

      KIRIM KOMENTAR
      Silakan LOG IN untuk memberi komentar.
       



      Copyright © 2013-2018 by FLOBAMORA NETWORK. All rights reserved.