• LINTAS FLOBAMORA
  • NASIONAL
  • INTERNASIONAL
  • LIFESTYLE
  • TRAVEL
  • BOLA
  • OPINI
  • REDAKSI
  • HUBUNGI KAMI
  • REGISTER     LOGIN      BANTUAN
    REGISTER     LOGIN      BANTUAN

    Senin, 25 Juni 2018

     

     
    Home   »  Nasional
     
    Jokowi-JK Diingatkan Soal Kelompok A-nasional
    RSKY | Selasa, 29 Juli 2014 | 14:34 WIB            #NASIONAL

    Jokowi-JK
    KH Hasyim Muzadi (Foto;Web)

     

    Surabaya - Mantan ketua umum PBNU KH Hasyim Muzadi mengingatkan pasangan presiden terpilih Joko Widodo-Jusuf Kalla untuk berhati-hati dengan kelompok “a-nasional” yang pasti turut mengitari keduanya untuk kepentingan jabatan dalam kabinet mendatang.

     

    “Faktanya, Jokowi-JK benar-benar terpilih sebagai presiden/wakil presiden. Andaikan ada gugatan di MK pun tidak akan banyak berarti. Ini adalah anugerah Allah yang spektakuler, tidak cukup didekati hanya rasio,” katanya seperti dilansir Antara di Surabaya, Kamis (24/7) lalu.

     

    Menurut dia, fakta itu menunjukkan gelagat bahwa Allah akan memberikan kesempatan “kejujuran dan kesederhanaan hidup” untuk berkembang di Indonesia guna menggantikan “kepalsuan dan keserakahan”.

     

    “Separuh masalah Indonesia sebenarnya tergantung faktor kejujuran pemimpin serta ditinggalkannya keserakahan hedonis, lalu separo lagi menyangkut berbagai ‘aturan yang tidak ada aturan’ dan menyeleweng dari ‘kompas’ Pancasila,” tuturnya.

     

    Masalahnya, apakah Jokowi-JK mengembangkan kejujuran dan kesederhanaan hidup dalam alur regulasi/birokrasi, ataukah malah tergusur oleh ketatnya kelompok kepentingan “a-nasional” yang pasti turut mengitari Jokowi-JK pasca-penetapan hasil Pilpres 2014.

     

    “Yang mengitari tentu banyak yang jujur, tapi lebih banyak lagi yang berminyak air sebagai lazimnya teori kepentingan. Idealnya, Jokowi-JK harus membangun kombinasi nasionalis tulen dan Islamis moderat, karena kombinasi keduanya-lah yang menjamin keselamatan NKRI,” ucapnya.

     

    Dia mengaku kombinasi itu sering terganggu, karena kelompok nasionalis sering “diganggu” oleh liberalis/atheis, sedangkan kelompok Islamis sering “diganggu” oleh radikalisme/terorisme yang mengatasnamakan agama.

     

    “Kedua gangguan itu harus dieliminasi dan hal itu dalam implementasi perlu kerja bersama, apalagi kalau kita ingin menuju Trisakti Indonesia yang berdaulat dalam politik, berdikari dalam ekonomi dan berkepribadian dalam budaya,” ujarnya.

     

    Apalagi, kekuasaan bukanlah kesewenang-wenangan, tapi amanat. “Kalau kita tepati akan merupakan berkah kebangsaan, namun kalau kita khianati akan memperpanjang malapetaka nasional yang selama 10 tahun menimpa, bahkan malapetaka untuk penguasa itu sendiri,” tandasnya.

     

    Dalam keputusannya, KPU Pusat telah menetapkan perolehan suara masing-masing pasangan dari 133.574.277 suara sah Pilpres 2014 yakni Prabowo Subianto-Hatta Rajasa sebanyak 62.576.444 (46,85 persen) dan Joko Widodo-Jusuf Kalla sebanyak 70.997.833 (53,15 persen).


     

    URL SUMBER
    BERITA TERKAIT
     
     
    BACA JUGA
       
       

      KOMENTAR ANDA                                                             Pedoman Mengirim Komentar

       
      KOMENTAR VIA WEBSITE                                             Pedoman Mengirim Komentar
        0 komentar

      KIRIM KOMENTAR
      Silakan LOG IN untuk memberi komentar.
       



      Copyright © 2013-2018 by FLOBAMORA NETWORK. All rights reserved.