• LINTAS FLOBAMORA
  • NASIONAL
  • INTERNASIONAL
  • LIFESTYLE
  • TRAVEL
  • BOLA
  • OPINI
  • REDAKSI
  • HUBUNGI KAMI
  • REGISTER     LOGIN      BANTUAN
    REGISTER     LOGIN      BANTUAN

    Minggu, 18 November 2018

     

     
    Home   »  Lintas Flobamora
     
    Obituari dr.Hendrikus Fernandez, Pemimpin yang Tegas dan Rendah Hati
    ALBERTO | Minggu, 07 September 2014 | 09:43 WIB            #LINTAS FLOBAMORA

    Obituari
    Gubernur NTT Periode 1998-1993, dr.Hendrik Fernandez

     
    BUMI Flobamora kembali kehilangan seorang tokoh . NTT kembali berduka. Gubernur Nusa Tenggara Timur periode 1988-1993 dr. Hendrikus Fernandez, Sabtu (6/9), sekitar pukul 11.15 Wita, meninggal dunia dalam usia 82 tahun, akibat faktor ketuaan dan serangan stroke yang dideritanya selama empat tahun terakhir.

     

    Pria kelahiran Weetebula, Sumba Barat Daya pada 7 November 1932 dari pasangan Andreas Fernandez dan Fransisca Riberu itu, meninggal di RS Kartini Kupang setelah masuk di rumah sakit swasta yang dirintisnya tersebut pada Kamis (4/9). Ia dirawat sendiri oleh anaknya dr Andreas Fernandez.

    Almarhum Hendrikus Fernandez adalah anak ke-6 dari 11 bersaudara. Fernandez lahir di Tanah Sumba ketika ayahnya bekerja sebagai seorang guru sekolah dasar (SD) di Weetebula.

    Dia pergi meninggalkan seorang isteri, tiga orang anak dan tujuh orang cucu. Almarhum hanya titipkan pesan kepada anak dan cucu-cucunya untuk tetap hidup sederhana dan banyak berdoa yang telah menjadi moto panggilan hidupnya.

    Saat bertugas di Sumba Barat, ayahanda almarhum dr Fernandez, tidak hanya sebatas menjadi seorang kepala SD, tetapi juga membantu Pastor Limbrock, seorang imam Katolik asal Jerman untuk mengabarkan injil kepada masyarakat di ujung barat Pulau Sumba itu.

    Ketika memasuki usia sekolah, Fernandez sempat mengenyam pendidik SD di Sumba Barat Daya selama tiga tahun, sebelum melanjutkan pendidikan serupa di Schakel School (SS) di Ndao, Ende, Flores, mengikuti kepindahan sang ayah.

    Dia memilih SS sebagai sekolah pindahannya, karena berobsesi kuat untuk melanjutkan ke Landbouw School (Sekolah Pertanian) agar dapat diangkat oleh pemerintah sebagai Landbouw Opzichter atau ke Kweek School, SPG berbahasa Belanda yang nantinya menjadi guru.

    Setelah menyelesaikan studi SR 6 tahun pada 1945 di Ende, Fernandez kemudian berlayar ke Makassar, Sulawesi Selatan, untuk melanjutkan pendidikan Algemene Lager School (ALS) atau setara SLTP pada jaman koloni Belanda atas bantuan seorang pastor asal Jepang, Pater Michael Iwagana.

    Setelah tamat di ALS Makassar pada 1948, ia melanjutkan ke Middelbare School (MS), yaitu sekolah menengah umum (SMU) Bahasa Belanda setara MULO di Makassar.

    Ketika berlangsungnya bergolakan Andi Azis dan Kahar Muzakar pada 1950 di Makassar, Fernandez dilanda kegelisahan yang hebat, karena sekolahnya ditutup. Namun, ia akhirnya berhasil menyelesaikan studi SMA-nya di Makassar pada 1953.

    Selepas itu, ia kembali berlayar menuju Surabaya, Jawa Timur, untuk melanjutkan pendidikan di perguruan tinggi. Tidak tanggung-tanggung, Fernandez menjatuhkan pilihannya pada Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga Surabaya.

    Dia akhirnya berhasil menyelesaikan studinya di Fakultas Kedokteran Unair Surabaya dan meraih gelar dokter atau Ars pada 1963.

    Selepas dari Unair Surabaya, Fernandez bersama beberapa orang rekan dokter melapor diri ke Departemen Kesehatan di Jakarta agar dapat diproses menjadi pegawai negeri sipil (PNS).

    Setelah menjadi PNS Fernandez kembali ke kampung halamannya di Larantuka, Flores Timur untuk mengabdikan dirinya sebagai seorang dokter di lingkungan Pemda Flores Timur, setelah dinyatakan lolos menjadi PNS.

    Ketika memasuki usia 32 tahun, Hendrikus Fernandez menikahi Maria Sapora Ola Boleng SH, seorang wanita asal Pulau Adonara yang lahir di Magelang, Jawa Tengah.

    Pasangan ini, dikaruniakan tiga orang anak, masing-masing, dr Andreas Fernandez, Fransisca Fernandez dan Ir Michael Fernandez.

    Ketika menjelang Pemilu 1971, Fernandez bergabung dengan Sekretariat Bersama (Sekber) Golkar Flores Timur, dan dicalonkan menjadi anggota DPR/MPR.

    Akhirnya ia lolos ke Senayan menjadi anggota DPR-RI dan duduk di Komisi VIII yang antara lain membidangi masalah kesehatan, kependudukan dan keluarga berencana.

    Selepas menjadi anggota DPR/MPR, Fernandez kembali ke Kupang. Pada 1 April 1978, Fernandez dilantik Gubernur NTT, dr Ben Mboi menjadi Direktur RSUD Prof Dr WZ Johannes Kupang menggantikan Drg Widya.

    Setahun memimpin rumah sakit milik pemerintah Provinsi NTT itu, Gubernur Ben Mboi mengusulkan Fernandez menjadi Kepala Kantor Wilayah Kesehatan NTT. Akhirnya, ia dilantik menjadi Kakanwil Kesehatan NTT pada 1 April 1979 oleh Menteri Kesehatan/Kepala BKKBN Pusat saat itu.

    Guna memperdalam manajemen di bidang kesehatan, Fernandez ditugaskan oleh Departemen Kesehatan untuk mendalami ilmu tersebut di Boston, AS dan beberapa tempat lainnya di negeri Paman Sam, seperti New York, Washington DC serta beberapa kota di Eropa seperti London dan Amsterdam.

    Menjelang Pemilu 1987, Fernandez dipercayakan menjadi anggota DPRD NTT dari Golkar. Ia akhirnya menjadi anggota DPRD NTT periode 1987-1992 dan menjadi Ketua DPRD NTT pada periode tersebut.

    Ketika berakhirnya masa jabatan kedua dr Ben Mboi sebagai Gubernur NTT pada 1988, DPRD NTT kemudian mengusulkan nama Hendrikus Fernandez sebagai calon Gubernur NTT periode 1988-1993 bersama dua orang calon wakil gubernur, yakni SHM Lerrick dan Godlief Boeky.

    Dalam pemilihan Gubernur-Wakil Gubernur NTT periode 1988-1993 oleh DPRD NTT, pasangan Hendrikus Fernandez dan SHM Lerrick terpilih sebagai gubernur dan wakil gubernur.

    Selama lima tahun memimpin NTT, figur kebapakan dan rendah hati yang memegang motto for titer in re – suaviter in modo, kokoh dalam pendirian namun lembut cara ini, menelorkan Gerakan Meningkatkan Pendapatan Asli Rakyat (Gempar) sebagai salah satu program pembangunan di daerah ini, antara lain dengan menanam sejuta anakan jambu mete dan tanaman bernilai ekonomi lainnya.

    Para petani NTT kemudian menikmati hasil dari menanam jambu mete tersebut lewat program Gempar yang ditabuhkan Hendrikus Fernandez.

    Fernandez merasa kurang puas jika membiarkan para petani mengolah lahannya sendiri tanpa adanya pendampingan sebagai salah satu langkah untuk meningkatkan hasil produksi petani.

    Dia kemudian mengirim para sarjana ke desa-desa untuk membantu para petani dalam mengembangkan lahan pertaniannya lewat program Gerakan Membangun Desa (Gerbades).

    Para sarjana menjadi ujung tombak dalam misi pembangunan pertanian dimaksud. Selama menjadi Gubernur NTT, Fernandez menerima empat penghargaan dari Menteri Kependudukan dan Keluarga Berencana sebagai bentuk penghormatan atas jasanya dalam upaya meningkatkan kesejahteraan masyarakat lewat program-program pembangunan yang ditelorkannya.

     

    Menjelang akhir masa kepemimpinannya di periode ini, Fernandez begitu terpukul dengan sebuah bencana alam maha dahsyat. Pulau Flores dilanda Gempa Tektonik dahysat berkekuatan 7. 00 skala richter pada 12 Desember 1992, yang menelan sekitar 2000-an jiwa. Tiga kabupaten yakni Sikka, Ende, dan Flores Timur, luluh lantak diterjang gempa itu. Fernandez menangis, karena bencana ini terjadi delapan hari menjelang NTT merayakan ulang tahun ke-34.

     

    Juga di masa kepemimpinan mantan Kakawanwil Kesehatan dan Ketua DPRD NTT ini pula, NTT dikunjungi, pemimpin umat Katolik dunia,  Sri Paus Johanes Paulus II di Kota Maumere dan bermalam di Seminari Tinggi Ritapiret.

     

    Selamat jalan Pak Fernandez... NTT tetap mengenangmu sebagai pemimpinan yang tegas dan rendah hati. Beristirahat dalam Keabadian.***


     

    URL SUMBER
      TAG:
    • khas
    •   
    •   
    •   
    BERITA TERKAIT
     
     
    BACA JUGA
       
       

      KOMENTAR ANDA                                                             Pedoman Mengirim Komentar

       
      KOMENTAR VIA WEBSITE                                             Pedoman Mengirim Komentar
        0 komentar

      KIRIM KOMENTAR
      Silakan LOG IN untuk memberi komentar.
       



      Copyright © 2013-2018 by FLOBAMORA NETWORK. All rights reserved.