• LINTAS FLOBAMORA
  • NASIONAL
  • INTERNASIONAL
  • LIFESTYLE
  • TRAVEL
  • BOLA
  • OPINI
  • REDAKSI
  • HUBUNGI KAMI
  • REGISTER     LOGIN      BANTUAN
    REGISTER     LOGIN      BANTUAN

    Senin, 20 Agustus 2018

     

     
    Home   »  Lintas Flobamora
     
    Jumlah Sapi Mati Kehausan di TTS Bertambah
    ALBERTO | Jumat, 07 November 2014 | 15:00 WIB            #LINTAS FLOBAMORA

    Jumlah
    Ilustrasi Sapi

     

    Kupang, Flobamora.net - Jumlah sapi yang mati kehausan akibat kekeringan atau kemarau panjang di Kabupaten Timor Tengah Selatan, Nusa Tenggara Timur sampai Jumat (7/11) dilaporkan bertambah.

    Jika selama periode September-Oktober sapi mati mencapai 200 ekor, mulai awal November jumlah sapi mati dilaporkan bertambah 15 ekor terdiri dari 11 ekor di Desa Oel'ekam, Kecamatan Mollo Tengah, dan Desa O'of, Kecamatan Kuatnana berjumlah empat ekor.

    Anggota DPRD Nusa Tenggara Timur (NTT) Jefri Un Banunaek yang baru saja kembali dari dua desa tersebut mengatakan, penyebab sapi mati karena kahausan akibat tempat penampungan air seperti embung sudah mengering. Saat ini satu-satunya sumber air ialah sumur milik warga.

    Hanya saja air di sumur harus dikeluarkan sebelum diberikan ke sapi. "Sapi-sapi di sana dilepas mencari pakan dan air. Karena tidak ada air, sapi akhirnya mati kehausan," kata Jefri di Kupang, Jumat (7/11).

     

    Dia mengatakan beberapa sapi mati karena terjatuh dari tebing ketika mencari air di sungai. ”Masyarakat tidak bisa berbuat banyak karena kekeringan terjadi di seluruh wilayah yang berdampak luas terhadap persoalan air bersih untuk manusia dan kebutuhan makan dan minum ternak,” jelasnya.

    Sementara itu sapi mati sebelumnya berjumlah 200 ekor terjadi di Desa Salbait, Kecamatan Mollo Barat. Sapi-sapi tersebut milik enam kelompok penerima bantuan pembibitan sapi potong dari Dinas Peternakan NTT.

    Melki Batu, Ketua Kelompok Moenmese di Desa Salbait yang duhubungi pada kesempatan terpisah mengatakan, setiap kelompok kebagian 110 sapi terdiri dari 100 betina dan 10 jantan. Mulai Agustus 2014, petani mulai kesulitan air dan pakan.

     

    Selain itu, kata dia, sapi-sapi mudah terserang penyakit karena ketika disalurkan, banyak sapi dalam kondisi tidak sehat. Kenyatan itu mengakibatkan kondisi sapi terus memburuk apalagi tidak ada pasokan pakan dan minum memadai.

    "Kami cari pakan dan air antara 5-10 kilometer dan saat seperti ini (kemarau panjang) sapi sulit mendapat air," ujarnya.

     

    Adapun sapi yang mati menurut dia, dipotong kemudian daging sapi dibagi bersama anggota kelompok.

     

    Meskipun persoalan sapi mati kehausan sudah terjadi sejak September, sampai saat ini belum ada penanganan dari Dinas Peternakan NTT maupun Dinas Peternakan Timor Tengah Selatan.***


     
    BERITA TERKAIT
     
     
    BACA JUGA
       
       

      KOMENTAR ANDA                                                             Pedoman Mengirim Komentar

       
      KOMENTAR VIA WEBSITE                                             Pedoman Mengirim Komentar
        0 komentar

      KIRIM KOMENTAR
      Silakan LOG IN untuk memberi komentar.
       



      Copyright © 2013-2018 by FLOBAMORA NETWORK. All rights reserved.