• LINTAS FLOBAMORA
  • NASIONAL
  • INTERNASIONAL
  • LIFESTYLE
  • TRAVEL
  • BOLA
  • OPINI
  • REDAKSI
  • HUBUNGI KAMI
  • REGISTER     LOGIN      BANTUAN
    REGISTER     LOGIN      BANTUAN

    Kamis, 21 Juni 2018

     

     
    Home   »  Nasional
     
    Jejak Effendi Simbolon yang Tak Pernah Cocok dengan Jokowi
    ANA DEA | Kamis, 20 November 2014 | 12:12 WIB            #NASIONAL

    Jejak
    Ketua DPP PDIP Effendi Simbolon

     

    JAKARTA, FLOBAMORA.NET - Ketua DPP PDIP Effendi Simbolon (49) terancam dipecat PDIP karena melawan perintah partai yang mendukung kebijakan Presiden Joko Widodo untuk menaikkan harga BBM. Jika ditelisik, Effendi Simbolon punya jejak panjang ketidakkecocokan dengan Jokowi.

    Entah apa alasan Effendi kerap memilih sikap berbeda dibandingkan para pendukung Jokowi. Namun Effendi sudah sering berbeda pendirian dengan para pendukung Jokowi sejak awal kemunculan Jokowi di survei capres.

    Pada saat awal kemunculan Joko Widodo di survei capres awal tahun 2013 silam, Effendi sudah tak sepakat Jokowi nyapres. Menurut Effendi, Jokowi seharusnya menyelesaikan tugas lebih dulu di Gubernur DKI.

    "Dia kan dipilih rakyat, jadi kita akan kawal mandat itu untuk dia laksanakan tugas kampanye sampai tuntas, kan Jakarta butuh Jokowi," kata Effendi seperti dilansir detikcom, Rabu 1 Mei 2013 silam.

    Dia juga meminta semua pihak tidak mendorong-dorong Jokowi untuk tidak menyelesaikan tugasnya di DKI Jakarta. Termasuk mendorong Jokowi maju di Pilpres 2014. "Saya kira jangan ditarik-tarik ke kolam politik yang menyesatkan," kata Effendi.

    Namun saat Jokowi ditetapkan sebagai capres PDIP, Effendi pun wajib mendukung keputusan partainya. Orang dekat Puan Maharani ini pun sempat masuk barisan yang mendorong 'Tuan Putri' Puan untuk menjadi cawapres Jokowi.

    "Puan adalah politikus yang berkarier dan berkomitmen bagus, kenapa tidak? Sepanjang belum ada keputusan," katanya.

     

    Kini Pilpres telah selesai, Jokowi mengangkat sejumlah orang dekat Effendi seperti Sekjen PDIP Tjahjo Kumolo dan Puan Maharani menjadi menteri di kabinetnya. Effendi lama tak muncul sampai kemudian mengungkap penolakan terhadap kenaikan harga BBM yang baru-baru diputuskan Presiden Jokowi.

    Karena sikap kerasnya itu Effendi terancam sanksi dari PDIP. Effendi yang merasa argumennya sudah tepat pun pasrah menghadapi risiko apa pun. Hanya dia berpesan agar partai banteng tak asal mengeluarkan sanksi.

    "Kita memang nothing, makanya saya katakan saya ini outsourcing, tapi tolong hargai rakyat yang mendukungmu. Jangan lukai hati mereka. Apa artinya partai tanpa rakyat, nggak ada artinya, kosong. Belajarlah dari partai yang terus menurun setiap pemilu," katanya.

    Lalu adakah alasan lain yang membuat Effendi tak pernah cocok dengan Jokowi?


     

    URL SUMBER
    BERITA TERKAIT
     
     
    BACA JUGA
       
       

      KOMENTAR ANDA                                                             Pedoman Mengirim Komentar

       
      KOMENTAR VIA WEBSITE                                             Pedoman Mengirim Komentar
        0 komentar

      KIRIM KOMENTAR
      Silakan LOG IN untuk memberi komentar.
       



      Copyright © 2013-2018 by FLOBAMORA NETWORK. All rights reserved.