• LINTAS FLOBAMORA
  • NASIONAL
  • INTERNASIONAL
  • LIFESTYLE
  • TRAVEL
  • BOLA
  • OPINI
  • REDAKSI
  • HUBUNGI KAMI
  • REGISTER     LOGIN      BANTUAN
    REGISTER     LOGIN      BANTUAN

    Sabtu, 15 Desember 2018

     

     
    Home   »  Internasional
     
    Mengapa Tuhan Membiarkan Anak-anak Jadi Pelacur?
    ANA DEA | Senin, 19 Januari 2015 | 11:51 WIB            #INTERNASIONAL

    Mengapa
    Paus Fransiskus, dalam hari kedua kunjungannya di Filipina, menyapa anak-anak di ibu kota Manila (16/1/2015). OSSERVATORE ROMANO / AFP

     
    MANILA - Seorang gadis Filipina berusia 12 tahun dengan sambil menangis bertanya kepada Paus Fransiskus di Manila, Minggu (18/1/2015), bagaimana mungkin Tuhan membiarkan anak-anak jadi pelacur. Adegan tersebut mendorong Paus memeluk remaja itu dan meminta semua orang untuk lebih menunjukkan kasih sayang terhadap sesama.

    Glyzelle Palomar, seorang anak tunawisma yang kini ditampung sebuah badan amal gereja, menyampaikan permohonan emosionalnya dalam upacara di sebuah universitas Katolik di Manila, jelang misa yang dipimpin Paus bagi jutaan umat pada sore ini. "Banyak anak ditinggalkan oleh orang tua mereka. Banyak anak terlibat narkoba dan prostitusi," kata Palomar kepada Sri Paus saat dirinya berdiri di atas panggung bersama seorang remaja laki-laki usia 14 tahun yang sebelumnya juga seorang tunawisma.

    "Mengapa Tuhan membiarkan hal-hal semacam ini terjadi pada kami? Anak-anak tidak bersalah apa-apa."

    Palomar lalu jadi sedih dan menangis kencang. Hal itu mendorong Paus (78 tahun) itu merangkulnya dan memeluknya selama beberapa detik.

    Paus kemudian memotong sebagian besar pidatonya yang telah dipersiapkan untuk disampaikan dalam bahasa Inggris. Ia lalu menggunakan bahasa ibunya, yaitu bahasa Spanyol untuk memberikan tanggapan dadakan dan tulus atas pertanyaan itu.

    "Dia hanyalah salah seorang yang mengajukan sebuah pertanyaan yang tidak ada jawabannya dan dia bahkan tidak bisa mengungkapkannya dengan kata-kata tetapi dengan tangisan," kata Paus kepada orang banyak yang menurut penyelenggara mencapai 30.000 orang. "Inti dari pertanyaanmu ... hampir tidak punya jawabannya."

    Paus, yang berada di Filipina untuk kunjungan lima hari, mengatakan kepada mereka yang hadir bahwa mereka pertama-tama harus belajar untuk menangis bersama orang lain yang terpinggirkan dan menderita. Ia mengatakan kasih sayang yang dangkal, yang berujung hanya pada pemberian sedekah, yang ditunjukkan oleh banyak orang di dunia tidaklah cukup. "Jika Kristus memiliki kasih sayang semacam itu, Dia hanya akan lewat, menyalami tiga orang, memberi mereka sesuatu dan jalan terus," kata Fransiskus.

    Paus meminta mereka untuk menunjukkan perhatian yang nyata dan tulus bagi masyarakat miskin dan terpinggirkan. "(Ada) sejumlah realitas tertentu dalam hidup, (yang) kita hanya bisa lihat melalui mata yang dibersihkan dengan air mata kita," kata Paus.

    Ia mendesak mereka "untuk berpikir, merasakan dan melakukan," meminta mereka mengulangi kata-kata ini dalam sebuah paduan suara.

    Paus juga meminta para umat untuk meniru santo pelindung namanya, Santo Fransis (dari Asisi). "Dia meninggal dengan tangan yang hampa, dengan kantong yang kosong tetapi dengan hati yang sangat penuh," katanya.

    Paus juga mengatakan, topik pertanyaan Palomar menunjukkan bahwa perempuan tidak terwakili secara memadai dalam masyarakat. "Dalam masyarakat dewasa ini, perempuan punya banyak peran. Kadang-kadang, kita terlalu 'machista' (bangga akan maskulinitas secara berlebihan) dan kita tidak memberikan ruang bagi perempuan," katanya. "Perempuan mampu melihat hal-hal dengan sudut pandang yang berbeda dari kita. Perempuan dapat mengajukan pertanyaan yang kita para laki-laki tidak bisa mengerti."

    Paus menempatkan kasih sayang bagi orang miskin sebagai tema sentral perjalanannya ke Filipina, yang merupakan basis Gereja Katolik di Asia tetapi puluhan juta rakyatnya bertarung dalam kondisi kemiskinan yang ganas. Sekitar 80 persen dari 100 juta penduduk Filipina adalah orang Katolik.

    Dalam pidato perdananya di negara itu pada Jumat lalu, Paus mengecam para elite bangsa itu yang selama beberapa dekade menikmati kekuasaan sementara sebagian besar warga Filipina menderita. Dalam sebuah pidato di istana presiden, Paus berbicara tentang "kesenjangan sosial yang memalukan" di Filipina.

    "Dewasa ini, lebih penting dari sebelumnya, bahwa pemimpin politik harus menjadi sangat jujur, berintegritas dan berkomitmen untuk kebaikan bersama," kata Paus dalam pidato itu.

    Dia menantang "semua orang, di semua tingkat masyarakat, untuk menolak setiap bentuk korupsi, yang mengalihkan sumber daya dari orang-orang miskin".

    Berdasarkan data pemerintah, sekitar 25 juta warga Filipina, atau seperempat dari populasi, hidup dengan penghasilan 60 sen dollar atau kurang dari itu dalam sehari.

    Puncak perjalanan Paus ke negara itu adalah perayaan misa terbuka di central park Manila pada Minggu sore ini. Sekitar enam juta orang diperkirakan akan hadir pada misa itu.

     

    URL SUMBER
      TAG:
    • khas
    •   
    •   
    •   
    BERITA TERKAIT
     
     
    BACA JUGA
       
       

      KOMENTAR ANDA                                                             Pedoman Mengirim Komentar

       
      KOMENTAR VIA WEBSITE                                             Pedoman Mengirim Komentar
        0 komentar

      KIRIM KOMENTAR
      Silakan LOG IN untuk memberi komentar.
       



      Copyright © 2013-2018 by FLOBAMORA NETWORK. All rights reserved.