• LINTAS FLOBAMORA
  • NASIONAL
  • INTERNASIONAL
  • LIFESTYLE
  • TRAVEL
  • BOLA
  • OPINI
  • REDAKSI
  • HUBUNGI KAMI
  • REGISTER     LOGIN      BANTUAN
    REGISTER     LOGIN      BANTUAN

    Senin, 21 Mei 2018

     

     
    Home   »  Nasional
     
    Ada Lima Pesan dari Pertemuan Jokowi-Prabowo
    ANA DEA | Minggu, 01 Februari 2015 | 08:02 WIB            #NASIONAL

    Ada
    Presiden Joko Widodo bersama Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto di Istana Bogor, Kamis (29/1/2015). indra/kompas.com

     

    JAKARTA - Presiden Joko Widodo pada Kamis (29/1/2015) lalu menggelar pertemuan dengan Ketua Umum Partai Gerindra yang juga petinggi Koaisi Merah Putih Prabowo Subianto. Bagi Kepala Pusat Studi Politik dan Keamanan Universitas Padjajaran Bandung Muradi pertemuan dua mantan peserta Pilpres 2014 itu menarik dicermati.

    Menurut dia setidaknya ada lima pesan yang ingin disampaikan Presiden Jokowi.

    Pertama, pesan untuk partai politik pendukungnya yang tergabung dalam Koalisi Indonesia Hebat (KIH). Jokowi menginginkan agar KIH selaku koalisi partai pendukung harus solid menyokong dirinya. Selama ini Jokowi merasa bahwa dalam kasus penundaan pelantikan Budi Gunawan (BG) sebagai Kapolri justru partai yang all out menyokong hanya PDI Perjuangan, partai lainnya cenderung wait and see.

    Padahal masalah pemilihan Kapolri ini makin rumit dan butuh soliditas partai pendukung.

    "Dan pertemuan dengan Prabowo membawa pesan bahwa tidak mungkin akan terjadi reshuffle kabinet yang berasal dari partai-partai di KIH dan digantikan dengan partai lain dari KMP apabila tidak solid dalam menyokong pilihan Jokowi atas kisruh yang berkembang antara KPK versus Polri ini," kata Muradi saat berbincang dengan detikcom hari ini Minggu (1/2/2014).

    Kedua, pesan untuk elite politik non-partai yang diangkat menjadi menteri dan atau pejabat setingkat menteri agar ikut juga memikirkan permasalahan tersebut.

    Selama ini menurut Muradi, pejabat yang sibuk membantu Presiden dalam menghadapi isu politik terkait konflik KPK vs Polri hanya beberapa saja. Seperti Sekretaris Kabinet Andi Widjadjanto dan Mensesneg, Pratikno.

     

    "Padahal seharusnya ada juga Luhut Panjaitan, Kepala Staf Kantor Kepresidenan yang seharusnya melakukan komunikasi politik, sebagaimana yang menjadi deskripsi kerjanya," kata Muradi.

    Pesan ketiga ditujukan kepada aliansi dan organisasi masyarakat sipil yang cenderung mendikte dan memaksakan Presiden membatalkan pelantikan Komjen Budi Gunawan sebagai calon Kapolri.

    Melalui pertemuan dengan Prabowo, Jokowi menurut Muradi ingin menunjukkan bahwa desakan tersebut bisa saja menarik gerbong dukungan dari Prabowo, KMP dan Gerindra.

    Padahal di Pilpres lalu salah satu alasan masyatakat Sipil mendukung Jokowi karena Prabowo yang menjadi lawannya.

    "Artinya presiden jokowi sudah menangkap pesan apa yang menjadi konsern dari koalisi masyarakat sipil tersebut dan biarkan presiden memutuskan mana yang terbaik," papar Muladi.

    Keempat, pesan untuk KPK dan Polri. Menurut Muradi Jokowi ingin menunjukkan pesan bahwa, akibat konflik dua institusi penegak hukum tersebut bisa berakhir pada transaksi di tingkat elite politik.

    Apabila transaksi tersebut maka akan terjadi kerugian yang lebih besar bagi KPK dan Polri.

    Pesan kelima ditujukan untuk DPR. Menurut Muradi konstelasi politik dapat saja berubah bergantung pada kepentingan dan kemungkinan dukungan yang saling menguntungkan.

    "Artinya pesan yang harus digarisbawahi bahwa perlu penekanan bahwa dukungan KIH harus tetap bulat pada presiden apapun pilihan Presiden Jokowi," kata Muradi.


     

    URL SUMBER
    BERITA TERKAIT
     
     
    BACA JUGA
       
       

      KOMENTAR ANDA                                                             Pedoman Mengirim Komentar

       
      KOMENTAR VIA WEBSITE                                             Pedoman Mengirim Komentar
        0 komentar

      KIRIM KOMENTAR
      Silakan LOG IN untuk memberi komentar.
       



      Copyright © 2013-2018 by FLOBAMORA NETWORK. All rights reserved.