• LINTAS FLOBAMORA
  • NASIONAL
  • INTERNASIONAL
  • LIFESTYLE
  • TRAVEL
  • BOLA
  • OPINI
  • REDAKSI
  • HUBUNGI KAMI
  • REGISTER     LOGIN      BANTUAN
    REGISTER     LOGIN      BANTUAN

    Sabtu, 21 Juli 2018

     

     
    Home   »  Nasional
     
    Dilaporkan ke Polisi, Ini Tanggapan Denny Indrayana
    ANA DEA | Kamis, 05 Februari 2015 | 09:20 WIB            #NASIONAL

    Dilaporkan
    Denny Indrayana

     

    JAKARTA - Eks Wamenkum HAM Denny Indrayana dilaporkan ke Polres Jakarta Barat oleh Pembela Kesatuan Tanah Air (Pekat) bersama tim pengacara Komjen Budi Gunawan yang merasa tidak terima dengan pernyataan Denny yang menyebut Budi Gunawan sedang menggunakan jurus pendekar mabuk dengan berbagai manuvernya. Denny menganggap pelaporan itu adalah konsekuensi yang harus diterimanya karena telah memilih berjuang untuk membela KPK.

    Denny dilaporkan ke Polres Jakarta Barat, Rabu (4/2) malam. Atas laporan kepadanya itu, guru besar hukum tata negara UGM itu mengaku akan tetap konsisten untuk membela KPK. Melalui pesan tertulis, Kamis (5/2/2015) Denny buka suara soal pelaporannya.

    Berikut pernyataan Denny Indrayana terkait pelaporan dirinya ke Polres Jakbar oleh Pekat dan tim pengacara Komjen Budi Gunawan:

    Saya memandang pelaporan semacam ini sebagai konsekuensi perjuangan karena membela KPK yg diserang balik setelah menetapkan Budi Gunawan sebagai tersangka korupsi kepemilikan rekening gendut.‎ Padahal, tidak hanya KPK, saya juga membela Polri dari digunakan dan ditarik-tarik ke dalam perkara pribadi sangkaan korupsi Budi Gunawan tersebut.

    Dengan pelaporan polisi ini saya merasa terhormat karena disejajarkan dengan para pimpinan KPK yang juga satu demi satu telah dilaporkan polisi, lagi-lagi karena mentersangkakan korupsi Budi Gunawan atas kepemilikan rekening gendut.

    Sebenarnya komentar saya bahwa tersangka korupsi Budi Gunawan menggunakan "jurus pendekar mabuk" adalah pendapat dengan menggunakan kiasan dan analogi.

    Bagi saya yang normal dan "tidak mabuk" ada‎lah sikap ksatria Bambang Widjojanto yang bersedia hadir memenuhi panggilan penyidik Polri, bukan sebaliknya sikap menghindar Budi Gunawan yg tidak memenuhi panggilan KPK.

     

    Bagi saya yang normal dan "tidak mabuk" adalah sikap ksatria Bambang Widjojanto yang mengajukan pengunduran diri setelah ditetapkan Polri tersangka, dan bukan sikap malah maju terus Budi Gunawan setelah ditetapkan tersangka korupsi oleh KPK.

    Bagi saya yang normal dan "tidak mabuk" adalah sikap ksatria Bambang Widjojanto yang tidak mengajukan gugatan praperadilan penetapan tersangkanya, padahal dia berhak melakukannya karena telah ditangkap dengan sewenang-wenang; dan bukan pengajuan praperadilan atas penetapan tersangka korupsi Budi Gunawan yang nyata-nyata tidak berdasar secara KUHAP.

    Pilihan-pilihan sikap tidak normal oleh Budi Gunawan itulah yang saya analogikan sebagai "jurus pendekar mabuk", karena memberikan contoh buruk, dan bisa merusak tatanan hukum acara pidana. Sikap yang tidak dapat dijadikan contoh demikian sayangnya dilakukan oleh calon Kapolri, yang harusnya menjadi tauladan, dan karenanya saya merasa berkewajiban menyampaikan penolakan dengan pernyataan yang jelas dan tegas.

    Jika sikap jelas dan tegas saya dengan menggunakan analogi "jurus pendekar mabuk" itu malah dikriminalisasi, tentu ini sangat disayangkan. Ini adalah pemasungan atas kebebasan berpendapat. Pembungkaman dengan cara-cara otoriter seperti ini tentu tidak dapat ditoleransi, dan harus dilawan.

    Demikian penjelasan saya. 


     

    URL SUMBER
    BERITA TERKAIT
     
     
    BACA JUGA
       
       

      KOMENTAR ANDA                                                             Pedoman Mengirim Komentar

       
      KOMENTAR VIA WEBSITE                                             Pedoman Mengirim Komentar
        0 komentar

      KIRIM KOMENTAR
      Silakan LOG IN untuk memberi komentar.
       



      Copyright © 2013-2018 by FLOBAMORA NETWORK. All rights reserved.