• LINTAS FLOBAMORA
  • NASIONAL
  • INTERNASIONAL
  • LIFESTYLE
  • TRAVEL
  • BOLA
  • OPINI
  • REDAKSI
  • HUBUNGI KAMI
  • REGISTER     LOGIN      BANTUAN
    REGISTER     LOGIN      BANTUAN

    Selasa, 25 September 2018

     

     
    Home   »  Lintas Flobamora
     
    Mutasi di Sikka Sarat Suka dan Tidak Suka
    VICKY DA GOMEZ | Rabu, 11 Februari 2015 | 20:27 WIB            #LINTAS FLOBAMORA

    Mutasi
    Wakil Ketua Komisi III DPRD Sikka, Alfridus Melanus Aeng

     

    Maumere, Flobamora.net - Kebijakan mutasi dan promosi jabatan di Kabupaten Sikka yang dilakukan oleh Bupati Sikka Yoseph Ansar Rera masih sarat dengan suka dan tidak suka. Kebijakan yang merupakan hak bupati ini, belum menunjukkan aspek kepentingan bagi masyarakat, terutama efektifitas pelayanan.

               

    Sentilan ini dikemukakan Wakil Ketua Komisi III DPRD Sikka, Alfridus Melanus Aeng dalam rapat dengar pendapat bersama Badan Kepegawaian Daerah Kabupaten Sikka dan Dinas Kesehatan Kabupaten Sikka di ruang Komisi 3, Selasa (10/2).

     

    Rapat dengar pendapat yang dipimpin Ketua Komisi 3 Markus Melo, dihadiri Kepala BKD Konstantianus Tupen dan Kadis Kesehatan Maria Bernadina Ninu.

               

    Alfridus yang juga Ketua Fraksi Partai Keadilan dan Persatuan Indonesia memberi contoh mutasi yang baru saja dilakukan pada Januari 2015 terhadap petugas medis di Kabupaten Sikka.

     

    Pasca mutasi, katanya, cukup banyak petugas medis secara pribadi mendatangi anggota DPRD Sikka untuk menyampaikan keberatan.

               

    Berbagai keberatan yang terungkap misalnya, ada yang tiga bulan lalu dimutasi dan Januari 2015 ini harus dimutasi lagi, ada yang tinggal di Kota Maumere lalu dimutasikan ke daerah-daerah pedalaman, dan ada penumpukan petugas medis di posyandu/pustu/polindes tapi ada yang sama sekali tidak memiliki petugas medis.

               

    “Dari banyak informasi yang kami rekam, sangat terkesan sekali mutasi dan promosi jabatan tidak terlepas dari rasa suka dan tidak suka. Padahal mestinya kebijakan-kebijakan seperti ini justeru harus sarat dengan aspek efektifitas pelayanan,” ujar anggota DPRD Sikka tiga periode itu.

               

    Dia pun memberi contoh tentang mutasi yang dilakukan terhadap seorang bidan yang adalah istri dari Ambrosius Alfonsus, anggota Fraksi PDI Perjuangan. Ambrosius Alfonsus sendiri merupakan adik ipar dari Alexander Longginus, mantan Bupati Sikka yang menjadi pesaing Yoseph Ansar Rera pada Pilkada 2013 lalu.

     

    Bidan ini dipindahkan dari Puskesmas Wolomarang ke Puskesmas Tanarawa di Kecamatan Waiblama. Menurut dia, pemerintah mestinya tahu bahwa anggota DPRD Sikka wajib tinggal di Kota Maumere, dan karena itu harus mendapatkan perlakuan khusus. Dalam hal mutasi terhadap istri anggota DPRD Sikka, mestinya ada pengecualian.

               

    “Kalau harus kerja di Tanarawa, sama sekali tidak ada efektifitas pelayanan. Bayangkan bidannya berangkat pagi dari Maumere dan tiba siang di Tanarawa. Sampai di Tanarawa sudah habis jam kantor. Padahal dia tinggal di Wolomarang yang jaraknya dekat dengan puskesmas di situ,” jelasnya. 

     

    Mutasi petugas medis baru-baru ini memang menguak sejumlah soal. Sekretaris Fraksi PDI Perjuangan Stephanus Sumandi yang juga anggota Komisi III DPRD Sikka berpendapat, mutasi ini sangat amburadul karena tidak menampilkan performance kinerja dan kepentingan pelayanan bagi masyarakat.***

     
    BERITA TERKAIT
     
     
    BACA JUGA
       
       

      KOMENTAR ANDA                                                             Pedoman Mengirim Komentar

       
      KOMENTAR VIA WEBSITE                                             Pedoman Mengirim Komentar
        0 komentar

      KIRIM KOMENTAR
      Silakan LOG IN untuk memberi komentar.
       



      Copyright © 2013-2018 by FLOBAMORA NETWORK. All rights reserved.