• LINTAS FLOBAMORA
  • NASIONAL
  • INTERNASIONAL
  • LIFESTYLE
  • TRAVEL
  • BOLA
  • OPINI
  • REDAKSI
  • HUBUNGI KAMI
  • REGISTER     LOGIN      BANTUAN
    REGISTER     LOGIN      BANTUAN

    Jumat, 21 September 2018

     

     
    Home   »  Lintas Flobamora
     
    Anggota Dewan Cat Pintu Gerbang Perbatasan Indonesia-Timor Leste
    ALBERTO | Minggu, 22 Februari 2015 | 22:57 WIB            #LINTAS FLOBAMORA

    Anggota
    Para anggota dewan foto bersama dengan petugas di pintu perbatasan Indonesia-Timor Leste setalah menggelar aksi Bhakti untuk Bangsa, Minggu (22/2) (Foto : Jefry Unbanunaek) i

     

    Kefamenanu, Flobamora.net - Ini adalah sebuah aksi yang patut ditiru dan diapresiasi. Betapa tidak? Sejumlah anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS) dan anggota DPRD Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) melakukan kegiatan mengecat pintu gerbang perbatasan Indonesia dan Timor Leste.

     

    Aksi bertajuk “Bhakti untuk Negeri “ ini dilakukan karena pintu gerbang di perbatasan tak terurus sejak dibangun tahun 2007 silam. Para anggota dewan yang turun langsung mengecat pintu gerbang perbatasan adalah Jefry Unbanunaek (Anggota DPRD Provinsi NTT), Jean Neonufa (Ketua DPRD Kabupaten TTS), dan Roy Babys serta Egy Usfunan (anggota DPRD Kabupaten TTS).

     

    Pintu gerbang perbatasan yang dicat itu terletak di Desa Humusu C, Kecamatan Insana Utara, Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU). Selain mengecat pintu gerbang perbatasan, mereka juga mengganti bendera merah putih yang sudah usang dengan yang baru.   


    Jefry Unbanunaek, kepada wartawan Minggu (22/2), mengaku prihatin dengan kondisi gerbang perbatasan yang usang dan tidak terurus. Atas dasar keprihatinan itu, dia bersama teman-teman anggota dewan lainnya secara spontan melakukan kegiatan itu.


    “Apa yang kami lakukan hanyalah bentuk dan rasa cinta kami kepada Bangsa Indonesia. Gerbang adalah wajah Indonesia dan sungguh sangat disayangkan gerbang batas yang menggambarkan wajah dan wibawa bangsa, tidak terurus dan bila dibandingkan dengan Timor Leste yang baru merdeka, perbedaannya sangat jauh. Di Timor Leste, fasilitas maupun sarana yang ada sangat baik dan layak,” katanya.


    Dalam aksi ini, Jefry mengaku sempat berbincang dengan Komandan Pos dan Manajer Pos Timor Leste. Dari perbincangan itu diketahui, di Timor Leste ada manajer yang mengurus kebersihan dan manajemen pos perbatasan. Sehingga, petugas keamanan tidak terganggu dengan urusan lain yang bukan menjadi tugas mereka.


    Menurutnya, pada malam hari, lampu penerangan jalan di wilayah Timor Leste terang benderang, sedangkan di wilayah RI tidak menunjukkan adanya pos perbatasan.

     

    “Gerbang batas pun catnya sudah usang, beberapa bagian trotoar dan jembatan yang sudah sempat dicat oleh petugas perbatasan, namun kini kembali luntur,” ujarnya.


    Kata dia, kondisi yang minim perhatian di perbatasan sangat dikhawatirkan dapat menimbulkan gejolak sosial. Mungkin saja, masyarakat yang melihat kondisi ini dapat berpikir bahwa dengan merdeka bisa lebih cepat maju dan bisa lebih cepat merasakan pelayanan.

     

    “Keadaan begini kalau dibiarkan, maka bisa terjadi gejolak di kemudian hari. Untuk itu perhatian Pemerintah melalui pembangunan di wilayah perbatasan yang ada di Provinsi NTT harus segera diberi perhatian oleh pemerintah pusat. Distrik Oekusi, Timor Leste sudah jadi wilayah otonom dan pembangunan sekarang sedang berlangsung," tambahnya.***


     
    BERITA TERKAIT
     
     
    BACA JUGA
       
       

      KOMENTAR ANDA                                                             Pedoman Mengirim Komentar

       
      KOMENTAR VIA WEBSITE                                             Pedoman Mengirim Komentar
        0 komentar

      KIRIM KOMENTAR
      Silakan LOG IN untuk memberi komentar.
       



      Copyright © 2013-2018 by FLOBAMORA NETWORK. All rights reserved.