• LINTAS FLOBAMORA
  • NASIONAL
  • INTERNASIONAL
  • LIFESTYLE
  • TRAVEL
  • BOLA
  • OPINI
  • REDAKSI
  • HUBUNGI KAMI
  • REGISTER     LOGIN      BANTUAN
    REGISTER     LOGIN      BANTUAN

    Minggu, 19 Agustus 2018

     

     
    Home   »  Nasional
     
    Kisah Eni yang Hidup Sebatang Kara di Pinggir Kali Bekasi
    ANA DEA | Minggu, 22 Maret 2015 | 08:30 WIB            #NASIONAL

    Kisah
    Eni

     

    JAKARTA - Hidup sebatang kara di rumah gubuk di pinggir Kali Bekasi membuat para tetangga Eni iba. Eni (41) yang sudah ditinggal suaminya itu tak bekerja dan hanya berharap dari belas kasih para tetangga.

    Halimah (30) tetangga Eni mengatakan kondisi Eni yang lulusan SD itu agak kurang pikirannya. Meski begitu Eni tetap masih bisa bersosialisasi dengan para tetangga.

    "Eni itu orangnya agak kurang," ucap Halimah saat ditemui di rumahnya di Desa Sriamur RT 01 RW 05 nomor 58, Tambun Utara, Bekasi, Sabtu (21/3/2015).

    Menurut Halimah, Eni sehari-hari berkeliling ke tetangga untuk meminta makanan. Terkadang dia juga suka datang ke rumah Eni untuk membawa makanan.

    "Kalau ada rezeki kita kasih ke dia," kata Halimah yang sudah tinggal 30 tahun di sana.

    Halimah mengatakan Eni baru pindah ke daerah itu 2 tahun lalu. Saat dibeli rumah itu masih utuh ada ruang tamu, dapur, kamar mandi dan kamar.

    "Tapi pas hujan besar kalinya meluap dan tanah di rumah Eni longsor. Jadi tinggal setengah rumahnya," ucap Halimah.

     

    Sementara itu Inal Hamdah yang juga ketua RT mengatakan Eni kondisinya sehat dan biasa saja tak kurang mental. Eni bisa bersosialisasi, namun tak terlalu mengurus diri.

    "Yang saya tahu memang begitu dia mah, mungkin karena ditinggal mati ibunya jadi banyak pikiran, bukan kurang mental," ucap Inal.

    Seperti dilansir dari laman detikcom, pewarta yang berbincang dengan Eni selama satu jam lebih  melihat kondisi Eni normal seperti biasa. Hanya saja dia tidak mengurus diri sehingga terlihat berantakan dan tak rapi. Dia juga mengaku jarang mandi karena tak punya air dan kamar mandi, jadi sehari-hari meminta air dari tetangga.

    Saat ditanya tentang kehidupan dan cita-cita, Eni menceritakannya dengan jelas dan teratur. Cuma memang gaya bicaranya yang cepat dan mata kirinya yang bermasalah membuat penglihatannya sedikit terganggu saat berbicara dengan orang.

    Namun secara umum kondisi Eni normal, jika ada yang harus diperbaiki adalah perilakunya yang suka meminta kepada para tetangga. Di usia yang menginjak angka 42 tahun Eni masih mampu untuk bekerja dan mencari uang untuk kebutuhan sehari-hari. Mungkin dinas sosial setempat bisa memberi pelatihan agar Eni punya keahlian untuk bekerja.


     

    URL SUMBER
    BERITA TERKAIT
     
     
    BACA JUGA
       
       

      KOMENTAR ANDA                                                             Pedoman Mengirim Komentar

       
      KOMENTAR VIA WEBSITE                                             Pedoman Mengirim Komentar
        0 komentar

      KIRIM KOMENTAR
      Silakan LOG IN untuk memberi komentar.
       



      Copyright © 2013-2018 by FLOBAMORA NETWORK. All rights reserved.