• LINTAS FLOBAMORA
  • NASIONAL
  • INTERNASIONAL
  • LIFESTYLE
  • TRAVEL
  • BOLA
  • OPINI
  • REDAKSI
  • HUBUNGI KAMI
  • REGISTER     LOGIN      BANTUAN
    REGISTER     LOGIN      BANTUAN

    Selasa, 21 Agustus 2018

     

     
    Home   »  Gaya Hidup
     
    Cegah Hipertensi, Restoran Harusnya Stop Sediakan Garam Tambahan
    ANA DEA | Kamis, 14 Mei 2015 | 09:38 WIB            #GAYA HIDUP

    Cegah
    Ilustrasi

     
    JAKARTA - Konsumsi garam secara berlebihan dapat menyebabkan hipertensi atau tekanan darah tinggi. Sering kali, kita tidak menyadari asupan garam dalam tubuh semakin melebihi batas. Apalagi ketika makan di restoran cepat saji.

    Dokter Spesialis Jantung dan Pembuluh Darah Arieska Ann Soenarta mengatakan, saat ini banyak masyarakat di perkotaan yang lebih sering makan di restoran cepat saji. Menurut dia, gaya hidup seperti ini turut menjadi salah satu faktor meningkatnya angka hipertensi di Indonesia.

    "Saat ini, terjadi pergeseran pola makan yang mengarah pada makanan cepat saji dan yang diawetkan. Kita ketahui itu mengandung garam tinggi, lemak jenuh, dan rendah serat dan ini mulai menjamur terutama di kota-kota besar di Indonesia," kata Arieska dalam diskusi yang digelar Indonesian Society of Hypertension (InaSH) di Jakarta, Rabu (13/5/2015).

    Makanan asli Indonesia pun banyak mengandung garam, seperti kerupuk, kecap, dan sambal. Belum lagi, saat makan di restoran cepat saji, pengunjung biasanya dapat menambahkan sendiri garam yang tersedia di meja makan. Pola makan inilah yang berdampak pada tingginya angka penderita hipertensi di Indonesia.

    Menurut Ketua InaSH dokter Nani Hersunarti, pemerintah seperti Kementerian Kesehatan dapat turut andil dalam menekan angka hipertensi di Indonesia. Misalnya, dengan membuat gerakan tidak menyediakan garam tambahan di meja makan pada restoran cepat saji.

    Nani mengatakan, hal ini sudah dilakukan di negara-negara maju dan penelitian menunjukkan adanya penurunan angka penderita hipertensi di negara tersebut.

    "Yang saya tahu di negara-negara Eropa, di Inggris, di Amerika pun sudah mulai tidak menyediakan garam tambahan. Ada juga sesuai request (permintaan), tapi tidak ditaruh di meja. Tidak menyediakan garam di meja saja, bisa mengurangi berapa persen hipertensi," ungkap Nani.

    Hipertensi atau tekanan darah tinggi adalah salah satu penyakit yang banyak diderita masyarakat Indonesia. Berdasarkan Riset Kesehatan Dasar tahun 2013, jumlah penderita hipertensi di Indonesia sebanyak 25,8 persen.

    Hipertensi salah satu penyumbang terbesar meningkatnya penyakit tidak menular di Indonesia. Sebab, hipertensi pun menjadi faktor utama terjadinya penyakit stroke, jantung, dan ginjal.

     

    URL SUMBER
    BERITA TERKAIT
     
     
    BACA JUGA
       
       

      KOMENTAR ANDA                                                             Pedoman Mengirim Komentar

       
      KOMENTAR VIA WEBSITE                                             Pedoman Mengirim Komentar
        0 komentar

      KIRIM KOMENTAR
      Silakan LOG IN untuk memberi komentar.
       



      Copyright © 2013-2018 by FLOBAMORA NETWORK. All rights reserved.