• LINTAS FLOBAMORA
  • NASIONAL
  • INTERNASIONAL
  • LIFESTYLE
  • TRAVEL
  • BOLA
  • OPINI
  • REDAKSI
  • HUBUNGI KAMI
  • REGISTER     LOGIN      BANTUAN
    REGISTER     LOGIN      BANTUAN

    Rabu, 15 Agustus 2018

     

     
    Home   »  Siapa & Siapa
     
    Tenun Ikat, Mahakarya dari Sikka
    YOS G. LEMA | Jumat, 10 Juli 2015 | 18:48 WIB            #SIAPA & SIAPA

    Tenun
    Penulis, Yos G.Lema (kedua dari kiri) bersama Alfonsa Horeng dan para penenun di Lepo Lorun

     

    Bersama Alfonsa Horeng di Sanggar Lepo Lorun

     

    SENJA menggantung, mentari tergelincir di ufuk barat. Pijarannya tak lagi garang. Rona Sikka begitu lembut.Terkesan dingin.Ya, udaranya basah, diguyur sedikit tiupan angin semilir, bikin menggigil. Apakah hawa dingin ini yang membuat orang Sikka senantiasa doyan minum moke (arak). Moke adalah minuman keras, beralkohol, rasanya sangat khas, tajam, bahkan dibakar menyala. Cairan dibakar menyala inilah yang dikonsumsi lelaki Sikka dalam bingkai persahabatan, persaudaraan, adat budaya dan persatuan.

     

    Saya pernah mencobanya, seteguk cukup, rasanya ‘tajam’. Tapi banyak orang justru doyan, bahkan ketagihan. Rupanya moke seolah bikin hidup lebih berwarna. Pesta sambut baru, pernikahan atau kenduri di Sikka atau Flores pada umumnya, bahkan di Kupang selalu dibarengi moke dari tanah Sikka. Seorang lelaki memegang botol dan sloki berjalan keliling menawarkan moke kepada tamu. Hasilnya, mata merah, mabuk, lalu sedikit ribut. Ini baru namanya pesta, tuan rumah dan tamu sama-sama mabuk.

     

    Tapi hari ini saya ke Nita tidak untuk mencari moke. Saya dan Katon Fernando dari Rogate FM sedang mencari Alfonsa Horeng, pimpinan Sanggar Lepo Lorun yang sangat terkenal itu. Dia perempuan Sikka yang menghentak dunia dengan karya besar di bidang kain tenun ikat. Kini kami berada persis di depan pintu masuk sanggarnya. Gong Waning berbunyi, empat wanita dalam balutan busana tenun ikat khas Sikka menari, meliuk mengikuti irama. Kami berdua disambut dengan tarian, sekaligus ikut menari bersama keempat penari tersebut. Sebuah kejutan teramat manis dan penghormatan bagi tamu yang datang.

     

    “Semua tamu yang datang kami sambut dengan tarian. Ini bentuk penghormatan sesuai adat budaya kita,” tutur Alfonsa Horeng sambil tersenyum ceria.

     

    Sejumlah wanita terlihat asyik menenun, yang lain menggulung benang, ada yang melayani pengunjung. Wanita-wanita itu ramah. Sepasang wisatawan lokal, lelaki dan perempuan tampak asyik berbincang dengan para penenun. Keduanya kelihatan begitu terkesan dengan kain tenun ikat buah karya wanita-wanita desa ini.

     

    “Hari ini ada beberapa rombongan wisatawan kunjungi kami.Ada mancanegara, ada juga yang lokal. Mereka sudah tahu tempat saya, bahkan ada wisatawan bule yang memilih menginap di sanggar ini. Mereka ingin tahu lebih banyak tentang kain tenun ikat Sikka,” ucap Alfonsa Horeng apa adanya. 

     

    Sanggar ini khas, terdiri dari sebuah bangunan tradisional beratap ilalang yang menjadi lokasi expo kain tenun ikat. Di ruang ekspo ada berbagai motif kain tenun ikat Sikka, baik yang dalam bentuk kain maupun busana. Ada juga benda-benda budaya seperti seperangkat peralatan gong waning, gading gajah dengan panjang sekitar satu meter yang diletakan diatas lemari, ada juga barang-barang anyaman danpuluhan bendera dari berbagai negara yang pernah dikunjungi Alfonsa bersama para penenunnya.

     

    Maha Karya

     

    Yang menarik, Alfonsa Horeng, sang pemimpin sanggar Lepo Lorun telah melanglang buana setidaknya ke 38 negara, baik di kawasan Amerika, Eropa, maupun Asia. Beberapa di antaranya adalah Amerika Serikat, Meksiko, Brasil, Kuba, Equador, Panama, Peru, Chili, Bolivia, Argentina, Bolivia, Honduras, Nicaragua, Guatemala, dll. Di Eropa seperti, Belanda, Polandia, Italia, Perancis, Inggris, Portugal, Swiss, Belgia, Jerman, dll. Di Asia, China, Philipina, Thailand dan Jepang.

     

    Dalam kunjungan ke luar negeri dia selalu menjadi pembicara. Setidaknya sudah sekitar 60 universitas terkemuka mendengar pandangan-pandangannya. Ia membeberkan filosofi kain tenun ikat sebagai sesuatu yang sangat prinsip. Ia juga membagi pengetahuan mengenai motif, bahan, alat, serta bagaimana proses menenun selembar kain tenun ikat. Ia lalu mendemonstrasikan bagaimana caranya wanita Sikka menenun menggunakan peralatan tradisional warisan leluhur.

     

    “Saya keliling dunia sambil membawa alat untuk menenun. Saya cerira tentang kain tenun ikat dan mendemostrasikan bagaimana membuatnya. Mereka terkagum-kagum. Para pakar di berbagai negara mempelajari dengan saksama. Mereka mengacungkan jempol dan mengaku kain tenun ikat Sikka sebagai sebuah maha karya. Sebuah karya besar yang bertumpu pada adat budaya,” ucap Alfonsa Horeng dengan mimik penuh kebanggaan.

     

    Pertahankan Keaslian

     

    Konon, kain tenun ikat Sikka berbeda dengan kain tenun ikat manapun. Kain tenun ikat Sikka karya para penenun Sanggar Lepo Lorun memiliki sesuatu yang tak ternilai harganya, yaitu keasliannya. Sebab, yang hakiki dari sebuah kain tenun ikat adalah bagaimana mempertahankan keasliannya. Kenapa? Karena kain tenun ikat adalah barang adat budaya, jatidiri, harkat dan martabat masyarakat Sikka. Nilainya ada di titik ini.

     

    Karenanya, Alfonsa tak ingin para penenun di sanggarnya disebut sebagai pengrajin. Baginya, sebutan itu salah, melecehkan para penenun. “Kami menenun untuk menghormati nenek moyang, menghormati adat budaya kita. Yang kami hasilkan adalah barang adat yang berkaitan dengan jati diri kita. Kain tenun ikat selalu ada hubungan dengan upacara adat, sistem belis dalam proses kawin mawin, kematian atau seluruh roda kehidupan masyarakat Sikka,” ucap Alfonsa yang  berkeliling dunia atas undangan berbagai pihak di mancanegara.

     

    Bahan yang digunakan juga asli. Kapas, tarum, nila, mengkudu, dll. mesti ditanam. Bahkan di sekitar sanggar terdapat tanaman tarum sebagai pewarna alami warisan leluhur. “Saya mesti ingatkan, kita wajib menjaga keasliannya, baik bahan, motif atau pewarnaannya. Keaslian inilah yang membuat semua orang menghormati kita. Keaslian inilah yang membuat kain tenun ikat kita nilainya sangat tinggi,” tandas Alfonsa.

     

    Target yang hendak dicapai dari kesungguhan menjaga dan merawat keaslian kain tenun ikat Sikka agar suatu saat kelak kain tenun ikat Sikka bisa memperoleh pengakuan dari UNESCO seperti halnya batik dari Jawa.

     

    “Unesco bisa mengakui sepanjang kita mampu menjaga keaslian identitas diri kita. Di Meksiko dan Peru ada komunitas yang memang mempersembahkan seluruh hidupnya untuk menjaga keaslian budaya, termasuk tenun ikat mereka. Saya mau katakan bahwa para wanita penenun di sanggar ini semuanya berkomitmen untuk menjaga dan melestarikan keaslian kain tenun ikat Sikka,” tandas Alfonsa Horeng dengan mata berbinar-binar.

     

    Kesungguhan seorang Alfonsa bersama para penenunnya telah mengilhami sejumlah sineas untuk mendokumentasikan aktivitas di sanggar ini dalam bentuk sebuah film dokumenter. ‘Hau Lorun atau Saya Menenun’ adalah judul film yang mengangkat keseharian penenun di Sanggar Lepo Lorun yang telah sangat mendunia tersebut.

     

    Mencuri Perhatian

     

    Dalam obrolan ini,saya menemukan adanya kiat yang dilakukan Alfonsa Horeng dalam menembus global. Ke mana saja dia bepergian, baik Amerika, Eropa, maupun Asia, Alfonsa selalu mengenakan tata busana khas budaya Sikka. Tataan rambut, baju, sarung, gelang gading, aneka asesoris adat, dll semuanya serba Sikka. Sikka banget, katanya. Kehadirannya di manapun selalu ‘mencuri’ perhatian. Bahkan dalam suatu kesempatan di mancanegara, putri Indonesia dengan kecantikan dan busana serba gemerlap kalah bersaing dengannya. Orang lebih tertarik untuk berpose dengan saya yang serba tradisional dari pada seorang Putri Indonesia.

     

    “Mula-mula mereka minta foto, baik perorangan maupun rombongan. Setelah itu pasti dilanjutkan dengan pertanyaan. Ketika mereka bertanya, saat itulah jangan pernah membuang kesempatan untuk menjelaskan tentang kain tenun ikat yang kita kenakan. Kita mesti bisa menyampaikan secara benar tentang filosofi kain tenun ikat dalam perspektif budaya kita. Kita jelaskan semua itu dalam bahasa Inggris. Kalau kita bisa jelaskan dengan baik, yakinlah mereka akan tertarik. Selanjutnya kita tinggal menunggu tanggapan mereka. Luar biasa, saya akhirnya bisa keliling kemana-mana atas undangan mereka,” beber Alfonsa Horeng dengan penuh semangat.

     

    Begitu pun ketika mendemonstrasikan cara menenun menggunakan peralatan tradisional yang dibawa dalam lawatan budaya ini. “Jangan malu, lakukan dengan senang hati dan penuh rasa bangga. Saya menenun di depan mereka sambil menjelaskan dalam bahasa Inggris. Mereka melihat atraksi saya dengan mata tak berkedip.Woooouuuuh, mereka terheran-heran dan minta mencoba untuk menenun. Mereka ganti berganti, semuanya mengaku takjub,” ujar Alfonsa dengan penuh rasa bangga.

     

    Itulah Alfonsa Horeng, seorang wanita penenun dari Sikka. Ia telah mengukir sejarah untuk memenangkan harkat dan martabat masyarakat Sikka, NTT dan Indonesia negaranya tercinta. Tentu, hal yang sama juga bisa dilakukan siapa saja, termasuk para penenun dari bumi Flobamora lainnya. Saya ingat betul, betapa indahnya motif kain tenun ikat Ende, Ngada, Manggarai, Flotim, Helong, Insana, Rote, Sabu, Sumba, Alor, Solor, Adonara, Lembata, dll. Pertanyaannya, apakah keasliannya masih terawat dan terjaga? Semoga ...!


     
      TAG:
    • khas
    •   
    •   
    •   
    BERITA TERKAIT
     
     
    BACA JUGA
       
       

      KOMENTAR ANDA                                                             Pedoman Mengirim Komentar

       
      KOMENTAR VIA WEBSITE                                             Pedoman Mengirim Komentar
        0 komentar

      KIRIM KOMENTAR
      Silakan LOG IN untuk memberi komentar.
       



      Copyright © 2013-2018 by FLOBAMORA NETWORK. All rights reserved.