• LINTAS FLOBAMORA
  • NASIONAL
  • INTERNASIONAL
  • LIFESTYLE
  • TRAVEL
  • BOLA
  • OPINI
  • REDAKSI
  • HUBUNGI KAMI
  • REGISTER     LOGIN      BANTUAN
    REGISTER     LOGIN      BANTUAN

    Minggu, 19 Agustus 2018

     

     
    Home   »  Nasional
     
    60 Persen Daerah Otonomi Baru Dinilai Gagal
    ALBERTUS | Sabtu, 22 Agustus 2015 | 09:15 WIB            #NASIONAL

    60
    Pakar Hukum Tata Negara Undana Kupang, Jhon Stefanus Kottan

     

    Kupang, Flobamora.net -  Sejak tahun 1999 hingga kini, tercatat penambahan sebanyak 542 Daerah Otonomi Baru (DOB). Dari jumlah tersebut, 60 persen diantaranya dinilai gagal dalam meningkatkan pendapatan asli daerah (PAD) dan kesejahteraan rakyat sebagaimana diamanatkan UU23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah.

     

    “Daerah pemekaran dinilai masih menjadi beban pemerintah pusat melalui dana alokasi khusus (DAK) dan dana alokasi umum (DAU),” kata Pakar Hukum Tata Negara Undana Kupang, Jhon Stefanus Kottan pada rapat sinkronisasi daerah dalam rangka konsolidasi anggota DPD RI dengan Pemangku Kepentingan di NTT untuk percepatan pembangunan daerah di Kupang, Jumat (21/8)kemarin.

     

    Jhon menerangkan, hasil penelitian yang dilakukan di 34 daerah, dimana 10 diantaranya merupakan DOB, menunjukkan hasil cukup buruk. “Hanya dua DOB yang nilainya berada di atas rata- rata nasional, yaitu Siak dan Lombok Utara. Sedangkan delapan daerah lainnya yakni Ternate, Tanjung Jabung Timur, Tanjung Pinang, Pulau Pisau, Saluma, Bangka Selatan, Tangerang Selatan, dan Sigi berada di bawah rata- rata,” katanya.

     

    Dia menuturkan, dari hasil evaluasi dan penelitian memperlihatkan pembentukan DOB bermasalah. Hal ini terlihat dari belum elum berhasil menjelmakan tujuannya, karena pemberian/pemekaran DOB lebih bernuansa politik. DOB menjadi beban pemerintah pusat. Tata kelola pemerintah di daerah tersebut masih buruk, mulai dari aspek kebijakan, penganggaran, pengawasan, kepemimpinan, pelayanan publik, pendapatan daerah, dan penegakan peraturan daerah.

     

    Menyikapi permasalahan dimaksud, Jhon menawarkan agar perlu dilakukan penataan ulang desentralisasi yang disesuaikan dengan karakteristik dan kebutuhan lokal. Karakteristik khusus tersebut misalnya, daerah kepulauan, daerah perbatasan, kawasan rawan bencana, kawasan dengan keunikan budaya dan kesejarahan, daerah- daerah dengan keterbatasan  kapasitas dalam pengelolaan fungsi dasar pemerintahan, dan daerah- daerah yang menyimpan konflik dengan nasional.

     

    “Daerah- daerah dengan karakteristik demikian, uniformitas desain desentralisasi gagal menjadi kerangka untuk menyelesaikan berbagai masalah yang dihadapi,” ujarnya.

     

    Sementara Anggota Komite I DPD RI, Syafrudin Atasoge mengatakan, UU 23 Tahun 2014 dengan tegas mengamanatkan pembentukan DOB harus dapat meningkatkan kesejahteraan rakyat. Namun hasil evaluasi menunjukkan, hanya sekitar 20 persen DOB yang dinilai berhasil. Sedangkan selebihnya dinilai gagal dalam meningkatkan PAD dan kesejahteraan rakyat.

     

    Anggota DPD RI asal NTT ini berargumen, walau hasil evaluasi menunjukkan mayoritas DOB dinilai gagal, tapi usulan pemekaran atau pembentukan DOB tetap diperjuangkan. Misalkan, di NTT sudah ada usulan pembentukan DOB kabupaten/kota seperti pembentukan Kota Maumere, Kabupaten Adonara, dan Kabupaten Pantar.

     

    “Kita boleh tetap mengajukan usulan pembentukan DOB, tapi jangan sampai dnyatakan gagal dalam hasil evaluasi,” ujar Syafrudin mengingatkan.

     

    Dia menambahkan, aturan yang berlaku sekarang terkait pembentukan DOB adalah sebelum ditetapkan menjadi daerah definitif, tiga tahun sebagai daerah persiapan. Jika hasil evaluasi memperlihatkan, calon daerah pemekaran itu dinilai gagal, maka dikembalikan ke daerah induk. UU 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah sangat memungkinkan adanya penggabungan kembali daerah pemekaran.***


     
    BERITA TERKAIT
     
     
    BACA JUGA
       
       

      KOMENTAR ANDA                                                             Pedoman Mengirim Komentar

       
      KOMENTAR VIA WEBSITE                                             Pedoman Mengirim Komentar
        0 komentar

      KIRIM KOMENTAR
      Silakan LOG IN untuk memberi komentar.
       



      Copyright © 2013-2018 by FLOBAMORA NETWORK. All rights reserved.