• LINTAS FLOBAMORA
  • NASIONAL
  • INTERNASIONAL
  • LIFESTYLE
  • TRAVEL
  • BOLA
  • OPINI
  • REDAKSI
  • HUBUNGI KAMI
  • REGISTER     LOGIN      BANTUAN
    REGISTER     LOGIN      BANTUAN

    Minggu, 23 September 2018

     

     
    Home   »  Lintas Flobamora
     
    Curah Hujan di NTT Cenderung Naik
    ALBERTUS | Jumat, 18 September 2015 | 11:46 WIB            #LINTAS FLOBAMORA

    Curah
    Ilustrasi Hujan

     
    Kupang, Flobamora.net - Curah Hujan di NTT dalam 30 tahun terakhir cenderung mengalami kenaikan dari tahun ke tahun. Meski demikian, suhu di wilayah ini juga ikut mengalami kenaikan.


    Kepala Stasiun Klimatologi Lasiana,Kupang, Juli Setyanto mengatakan hal ini ketika berbicara pada kegiatan Sosiaslisasi Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika yang diselenggarakan BMKG Klas I Kupang, Rabu (16/9) lalu.

    Menurutnya, di satu sisi curah hujan mengalami kenaikan, namun daerah ini juga selalu mengalami kekeringan. Rekor terpanjang wilayah yang tidak terjadi hujan adalah di Kabupaten Rote Ndao. Di kabupaten ini, pernah tidak terjadi hujan selama 129 hari atau selama empat bulan lebih.


    Dalam kondisi seperti ini, kata Juli Setyanto, namun Rote Ndao merupakan kabupaten di NTT yang mengalami surplus beras tahun ini. Ini menunjukan, kondisi ketersediaan air di NTT masih lebih baik dari beberapa wilayah di Pulau Jawa yang sama sekali tak ada air pada waktu tertentu.


    Untuk mengetahui kondisi hujan di NTT, pihaknya terus membuat prakiraan hujan bulanan adalah agar dapat digunakan dan dimanfaatkan oleh pengguna, khususnya disektor pertanian dan pengairan untuk membuat perencanaan.


    Informasi prakiraan hujan bulanan, lanjutnya, dapat digunakan sebagai bahan pertimbangan untuk menetapkan kebijakan dan rencana tetap jangka menengah maupun jangka panjang, misalnya penetapan tataguna lahan, pola tanam, pendistribusian pertanian dan lain-lain.


    Dengan prakiraan hujan, kata dia, diharapkan para pengguna dapat melakukan upaya-upaya antisipasi dan mitigasi  guna mencegah atau mengurangi risiko kegagalan akibat adanya anomali iklim dan dampak El Nino atau La Nina.

    Dia menjelaskan, klasifikasi iklim yang banyak digunakan di Indonesia khususnya untuk pertanian tanaman pangan adalah klasifikasi iklim oldeman yakni unsur curah hujan dan klasifikasi Iklim Schmidt-Ferguson yang banyak digunakan untuk kehutanan dan perkebunan
    .

    Kepala Dinas Pertanian dan Perkebunan Provinsi NTT Anis Tay Ruba sebelumnya, pihaknya senantiasa berkoordinasi dengan BMKG Kupang untuk mengetahui perkembangan prakiraan iklim untuk disampaikan kepada para petani untuk mempersiapkan diri, baik menghadapi musim hujan maupun musim kemarau.

    Selain itu, katanya, dengan mengikuti perkembangan iklim, pihaknya dapat menyusun kebijakan maupun perencanaan di bidang pertanian dan perkebunan sesuai kondisi yang dialami di daerah ini. ***


     
    BERITA TERKAIT
     
     
    BACA JUGA
       
       

      KOMENTAR ANDA                                                             Pedoman Mengirim Komentar

       
      KOMENTAR VIA WEBSITE                                             Pedoman Mengirim Komentar
        0 komentar

      KIRIM KOMENTAR
      Silakan LOG IN untuk memberi komentar.
       



      Copyright © 2013-2018 by FLOBAMORA NETWORK. All rights reserved.