• LINTAS FLOBAMORA
  • NASIONAL
  • INTERNASIONAL
  • LIFESTYLE
  • TRAVEL
  • BOLA
  • OPINI
  • REDAKSI
  • HUBUNGI KAMI
  • REGISTER     LOGIN      BANTUAN
    REGISTER     LOGIN      BANTUAN

    Rabu, 15 Agustus 2018

     

     
    Home   »  Lintas Flobamora
     
    Penahanan Caleg PKS Sikka Dinilai Dipaksakan
    ALBERTO | Selasa, 11 Februari 2014 | 14:10 WIB            #LINTAS FLOBAMORA

    Penahanan
    Ilustrasi

     
    Kupang, Flobamora.net - Penahanan terhadap salah seorang calon anggota legislatif (Caleg) Partai Keadilan Sejahtera (PKS), Eusebius Lameng alias Mese oleh Kejaksaan Negeri (Kejari) Maumere di rumah tahanan (Rutan) Maumere pada 6 Februari lalu dinilai dipaksakan dan syarat dengan muatan kepentingan.

    Kakak kandung Mese, William (Well) Lameng menyampaikan ini kepada wartawan di Kupang, Selasa (11/2), mengatakan, penahanan terhadap Mese sangat tidak memenuhi syarat formal dan materiil.

    Karena itu penahanan yang dilakukan Kejari Maumere sangatlah tidak sah. Pasalnya, masa penahanan terhadap Mese sudah kedaluarsa. Dimana, kasus tindak pidana ringan sudah terjadi pada tahun 2010 dan pelapor atas nama Gabriel Rudy Tri Novianta Lameng (Rudy) pada Juni 2012 sudah membuat surat pernyataan perdamaian dan pencaputan laporan di Polres Sikka. Dengan demikian, perkara penghinaan tersebut dihentikan prosesnya.

    Selain itu, lanjut Well, pasal yang digunakan aparat penegak hukum untuk menahan tersangka, yakni pasal 355 ayat 1 dan pasal 310 ayat 1 KUHP sudah tidak berlaku lagi. “Kami pertanyakan ada apa sikap Kejari Maumere dibalik penahanan terhadap Mese,” tanya Well retoris.

    Dia menyatakan, kejanggalan lain yang dipertontonkan aparat penegak hukum di Sikka adalah surat perintah penahanan dikeluarkan pada Januari tapi penahanan baru dilakukan pada Februari 2014.

    Selain itu, selama berada dalam tahanan Rutan Maumere, keluarga terutama isteri dan anak, tidak dizinkan mengunjungi atau membesuk tersangka. Sehingga keluarga dan tersangka merasakan perlakuan yang diskriminasi serta berlebihan seolah- olah tersangka diisolasi atau diasingkan dari dunia luar.

    Well lebih lanjut mengatakan, alasan penahanan terhadap tersangka pun sangat tidak masuk akal. Karena selama rentang waktu dari tahun 2010 sampai dengan 4 Februari 2014, tersangka selalu berada di Maumere.

    "Sehari- hari tersangka bertugas sebagai tenaga pengajar di SMK Santo Thomas Maumere dan anggota dewan pembina Yayasan Budi Mulia. Sehingga unsur melarikan diri tidak mungkin terpenuhi," jelasnya.

    Sedangkan unsur merusak atau menghilangkan barang bukti, tidak terpenuhi karena tidak ada barang bukti phisik, dimana sangkaan yang dituduhkan adalah penghinaan berupa ucapan. Selain itu, selama enam bulan berturut- turut, sejak pelaporan dan dakwaan tindak pidana yang dituduhkan kepada tersangka pada Oktober 2010, tersangka tidak pernah mengulang lagi perbuatannya.

    “Kami patut menduga adanya tindakan penyimpangan dalam prosedur dan penerapan pasal dakwaan yang dilakukan oleh oknum penyidik Polres Sikka dan Jaksa Penuntut Umum (JPU) Kejari Maumere, serta diduga adanya pemaksaan delik perkara untuk kepentingan pihak tertentu,” tegasnya.

    Dia menambahkan, mengingat tersangka saat ini sudah dalam tahanan jaksa di Rutan Maumere, pihaknya telah menemui Wakil Kepala Kejaksaan Tinggi (Wakajati) NTT untuk meminta keadilan hukum.

    Dari pertemuan itu, Wakajati terlihat sangat menyesali penahanan terhadap tersangka karena pasal yang dituduhkan tidak berlaku lagi.***

     
    BERITA TERKAIT
     
     
    BACA JUGA
       
       

      KOMENTAR ANDA                                                             Pedoman Mengirim Komentar

       
      KOMENTAR VIA WEBSITE                                             Pedoman Mengirim Komentar
        0 komentar

      KIRIM KOMENTAR
      Silakan LOG IN untuk memberi komentar.
       



      Copyright © 2013-2018 by FLOBAMORA NETWORK. All rights reserved.