• LINTAS FLOBAMORA
  • NASIONAL
  • INTERNASIONAL
  • LIFESTYLE
  • TRAVEL
  • BOLA
  • OPINI
  • REDAKSI
  • HUBUNGI KAMI
  • REGISTER     LOGIN      BANTUAN
    REGISTER     LOGIN      BANTUAN

    Rabu, 19 September 2018

     

     
    Home   »  Nasional
     
    Soekarno Melawan Takhayul Akik dan Piring Retak
    ANA DEA | Minggu, 27 September 2015 | 20:28 WIB            #NASIONAL

    Soekarno
    Foto: Blog Roso Daras

     
    JAKARTA - Selain pergolakan politik, pergolakan religius juga dialami oleh Soekarno. Presiden pertama Indonesia ini pernah berusaha keras melepaskan takhayul untuk pantang makan menggunakan piring retak.

    Pergolakan dalam diri Soekarno ini dialami ketika dia diasingkan di Ende, Flores, Nusa Tenggara Timur, sekitar tahun 1934 hingga 1938.

    Peristiwa ini diceritakan kembali oleh Cindy Adams dalam buku yang ditulisnya, 'Penjambung Lidah Rakjat Indonesia', yang versi digitalnya bisa dibaca di www.soekarno.net.

    "Di Pulau Bunga (Flores) aku membersihkan diri dari segala takhayul," kata Soekarno sebagaimana ditulis Cindy Adams.

    Saat itu umur Soekarno menginjak pertengahan 30 tahun. Sebelum di pulau ini, Soekarno mengaku sangat percaya takhayul. Soekarno pernah menjadi orang yang meyakini adanya hari baik, hari buruk, pantangan, jimat, dan batu cincin bertuah.

    Tak terkecuali soal piring retak dan batu akik. Soal akik, dia pernah diberi batu cincin dengan bentuk yang spesifik. Dia dapati batu cincin itu dari seseorang di Bandung.

    "Di Bandung ada orang yang memberiku sebentuk cincin pakai batu. Dalam batu itu terlihat lobang berisi cairan hitam yang tidak pernah tenggelam. Seperti biji kecil yang mengapung dan selalu berada di atas. Seorang pengagum memberikan benda yang aneh ini kepadaku," kata Soekarno.

    Harapan dari si pemberi cincin, agar Soekarno tetap berada di atas seperti biji dalam cincin. Ada kekuatan ilmu gaib dalam cincin ini, dan Soekarno percaya kekuatan cincin ini. "Karena aku memerlukan segala kekuatan yang bisa kuperoleh," kata Soekarno.

    Namun batu bertuah ini akhirnya berhasil dilepas oleh Soekarno, sekalian dengan takhayul-takhayulnya. Di Pulau Bunga, Soekarno merasa kepercayaan yang gila-gilaan ini harus dihentikan. Soekarno berhasil lepas dari cincin itu, atau lebih tepatnya cincin itu bisa lepas dari Soekarno, saat keadaan keuangan beranjak memburuk.

    "Keadaanku sangat melarat ketika aku berkenalan dengan seorang saudagar kopra yang makmur di kota itu. Aku memutuskan untuk menjual pembawa untung yang besar ini kepadanya," kata Soekarno.

    Namun bukan berarti Soekarno sudah benar-benar bersih dari takhayul. Masih ada satu lagi phobia Soekarno yang tersisa dan sangat sulit diusir dari jiwa.

    "Engkau sudah melihat, penyakit takhayul yang jahat, akan tetapi mengapa engkau tidak pernah makan di piring retak, oleh karena engkau percaya bahwa bencana akan menimpamu kalau engkau melakukannya?" kata Soekarno bermonolog sebagaimana ditulis Cindy Adams.

    Demi membebaskan diri dari kungkungan kepercayaan beracun, Soekarno memberanikan untuk makan menggunakan piring retak. Ternyata tak semudah yang dikira. Tangan menjadi gemetar. Di tengah ketakutan tak masuk akal itu, Soekarno membentak piringnya.

    "Kemudian aku berpidato kepada piring yang ganjil ini yang begitu berkuasa terhadap jiwaku. Kataku, 'Hei engkau ....  engkau barang yang
    mati, tidak bernyawa dan dungu. Engkau tidak punya kuasa untuk menentukan nasibku. Kutantang kau. Aku bebas darimu. Sekarang aku makan dari dalammu.'," kata Soekarno.

     

    URL SUMBER
      TAG:
    • khas
    •   
    •   
    •   
    BERITA TERKAIT
     
     
    BACA JUGA
       
       

      KOMENTAR ANDA                                                             Pedoman Mengirim Komentar

       
      KOMENTAR VIA WEBSITE                                             Pedoman Mengirim Komentar
        0 komentar

      KIRIM KOMENTAR
      Silakan LOG IN untuk memberi komentar.
       



      Copyright © 2013-2018 by FLOBAMORA NETWORK. All rights reserved.