• LINTAS FLOBAMORA
  • NASIONAL
  • INTERNASIONAL
  • LIFESTYLE
  • TRAVEL
  • BOLA
  • OPINI
  • REDAKSI
  • HUBUNGI KAMI
  • REGISTER     LOGIN      BANTUAN
    REGISTER     LOGIN      BANTUAN

    Senin, 25 Juni 2018

     

     
    Home   »  Lintas Flobamora
     
    Anggota TNI/Polri Dianjurkan Pakai Seragam Saat Masuk Gereja
    ALBERTUS | Kamis, 29 Oktober 2015 | 11:50 WIB            #LINTAS FLOBAMORA

    Anggota
    Ilustrasi Pakaian Dinas TNI

     

    Kupang, Flobamora.net - Anggota TNI/Polri yang beragama Katolik dianjurkan memakai seragam ketika mengikuti misa di gereja, sehingga ketika terjadi masalah seperti penistaan terhadap tanda atau simbol keagamaan, bisa langsung diambil tindakan.

     

    Pernyataan ini disampaikan Vikjen Keuskupan Agung Kupang, RD Yeremias Siono pada Dialog Antar Tokoh Agama dan Tokoh Adat Tingkat Provinsi NTT yang diselenggarakan Badan Kesbangpol Linmas NTT, Rabu (28/10).

     

    Pernyataan RD Yeremias yang biasa disapa Yono itu menanggapi komentar salah seorang peserta tentang sejumlah kasus pencemaran hostia di gereja pada perayaan ekaristi.

     

    Yono mengakui, memang persoalan terkait pencemaran hostia agak sulit diungkap aktor intelektualnya. Karena yang melakukan pencemaran itu beragama lain dan tidak mau menyebut siapa yang menyuruhnya. Karena tidak ada aparat keamanan negara di situ, umat sering melakukan tindakan terhadap pelaku.

     

    “Mereka yang bukan beragama Katolik bisa berada di dala gereja dan mengikuti perayaan Ekaristi,tetapi tidak boleh melakukan sesuatu ,” kata Yono.

     

    Lebih lanjut dia mengatakan, untuk membangun hubungan antar umat beragama yang harmonis, bukan saja melihat aspek kesamaan, tapi juga perbedaan. Karena itu, perbedaan yang ada pada setiap agama, harus dihargai.

     

    Tokoh Agama Budha, Aryadi Setiawira menyarankan agar, semua umat harus cek kebenaran terhadap setiap peristiwa yang muncul, sehingga tidak terjadi masalah pribadi dibawa ke konflik antaragama. Karena itu, pengendalian diri sangat dibutuhkan untuk menyikapi munculnya sebuah kejadian.

     

    Aryadi menyatakan, dalam kehidupan sosial kemasyarakatan antar umat beragama, perlu juga disampaikan sisi perbedaan masing- masing agama. Sehingga tidak saling persalahkan satu sama lain, karena sudah tahu perbedaan.

     

    Senada disampaikan tokoh agama Hindu, Anak Agung G. S. M. Putra. Menurutnya, bersatu tidak selamanya dilihat dari aspek kesamaan. Perlu juga disampaikan tentang perbedaan antar agama, sehingga bisa tahu dan menghargai perbedaan itu. Walaupun kehidupan antar umat beragama di NTT sangat rukun, tapi harus selalu disampaikan tentang pentingnya kerukunan antarumat beragama.

     

    “Hal ini penting karena manusia sering lupa atau lalai akan sesuatu yang pernah dijalani,” tandas Anak Agung.

     

    Tokoh Agama Islam yang juga Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) NTT, Abdulkadir Makarim menyampaikan, semua agama pasti mengajarkan bahwa agamanya paling benar. Jika diajarkan bahwa agamanya salah, pasti orang akan berpindah dari satu agama ke agama lain. Walau meyakini bahwa agamanya paling benar, tapi tidak boleh persalahkan agama lain.

     

    Kepala Badan Kesbangpol Linmas NTT, Sisilia Sona mengatakan, dialog yang diselenggarakan ini melahirkan sejumlah rekomendasi yang dijadikan sebagai salah satu acuan dalam membangun kerukunan hidup antar umat beragama di daerah ini.

     

    “Perbedaan yang ada di setiap agama, tidak boleh diperdebatkan tapi harus dimaknai sebagai kekayaan dalam membangun kerukunan antar umat beragama,” paparnya. ***


     
    BERITA TERKAIT
     
     
    BACA JUGA
       
       

      KOMENTAR ANDA                                                             Pedoman Mengirim Komentar

       
      KOMENTAR VIA WEBSITE                                             Pedoman Mengirim Komentar
        0 komentar

      KIRIM KOMENTAR
      Silakan LOG IN untuk memberi komentar.
       



      Copyright © 2013-2018 by FLOBAMORA NETWORK. All rights reserved.