• LINTAS FLOBAMORA
  • NASIONAL
  • INTERNASIONAL
  • LIFESTYLE
  • TRAVEL
  • BOLA
  • OPINI
  • REDAKSI
  • HUBUNGI KAMI
  • REGISTER     LOGIN      BANTUAN
    REGISTER     LOGIN      BANTUAN

    Kamis, 15 November 2018

     

     
    Home   »  Opini
     
    Sekali Lagi tentang Pangan Lokal
    ALBERT VINCENT REHI | Senin, 02 November 2015 | 09:27 WIB            #OPINI

    Sekali
    Ilustrasi Pangan Lokal

     

    PANGAN adalah hak asasi setiap individu untuk memperolehnya dengan jumlah yang cukup dan aman serta terjangkau. Oleh karena itu, upaya pemantapan ketahanan pangan harus terus dikembangkan dengan memperhatikan sumberdaya, kelembagaan dan budaya lokal.

     

    Tentang pangan lokal, Undang –undang No 18 Tahun 2012 mendefinisikan sebagai "makanan yang dikonsumsi oleh masyarakat setempat sesuai dengan potensi dan kearifan lokal".

     

    Di Provinsi Nusa Tengara Timur (NTT), berbagai jenis pangan tersebar, dikembangkan dan dimanfaatkan oleh masyarakat setempat, untuk pemenuhan kebutuhan konsumsinya baik sebagai pangan pokok maupun substitusi.

     

    Pangan lokal NTT yang selama ini sudah dikembangkan dan dimanfaatkan oleh masyarakat perlu ditingkatkan pengembangannya, baik dari sisi produksi maupun pemanfaatan/pengelolaannya. Dalam hal ini tentu membutuhkan pendampingan yang intensif serta permodalan dan teknologi.

     

    Di sisi lain, pemantapan ketahanan pangan merupakan salah satu bagian yang sangat penting dalam menunjang keberhasilan pembangunan nasional. Untuk itu, upaya perwujudan ketahanan pangan baik melalui sub sistem ketersediaan, distribusi dan konsumsi perlu terus ditingkatkan.

     

    Di NTT hingga saat ini masih terdapat aneka jenis bahan pangan khususnya pangan lokal yang bisa dikonsumsi oleh masyarakat. Tidak heran, jika sejak tahun 2007 lalu pemerintah daerah setempat melakukan pengujian kandungan gizi terhadap lima jenis pangan lokal bekerja sama dengan Departemen Gizi Masyarakat Fakultas Ekologi Manusia, Institut Pertanian Bogor.

     

    Kelima jenis pangan lokal itu adalah Ubi Are dari Kabupaten Alor, Ubi Tongkat dari Ngada, Putak dari Kupang, Kacang Arbila dari Kabupaten Timor Tengah Selatan dan Bunga Gamal dari Kota Kupang.

     

    Hasil uji laboratorium menunjukkan, pemenuhan kebutuhan zat gizi dapat diperoleh melalui konsumsi pangan lokal tersebut. Ambil misal, satu porsi nasi setara dengan 3 porsi ubi are, 3,3 porsi ubi tongkat, 0,8 porsi putulaka (tepung putak) dan 1,2 porsi kacang arbila (karbohidrat).

     

    Kemudian, satu porsi kacang kedelai setara dengan 1,8 porsi kacang arbila (protein), satu porsi kangkung setara dengan 12,8 porsi bunga gamal (vitamin C) atau 1 porsi kangkung  setara dengan 0,5 porsi bunga gamal (zat besi).

     

    Selain kelima jenis pangan local di atas, kekayaan pangan NTT ternyata sangat luar biasa. NTT sendiri termasuk daerah yang memiliki keberagaman hayati atau Biodiversity. Tercatat, ada 57 jenis sumber karbohidrat, 55 jenis sumber lemak/ minyak, 26 jenis sumber protein nabati, 273 jenis buah-buahan, 178 jenis sayuran, 32 jenis bahan minuman serta 94 jenis rempah-rempah dan bumbu-bumbuan. Betapa kayanya potensi itu. Namun, sayangnya hingga kini belum dimanfaatkan secara optimal sebagai sumber pangan masyarakat.

     

    Menurut pengamat pertanaian agribisnis Universitas Nusa Cendana Kupang Levi Leta Rafael, belakangan masyarakat kita sudah sangat sulit mengonsumsi pangan lokal, karena sudah sekian lama masyarakat telah akrab dengan beras atau nasi.

     

    Mengonsumsi pangan lokal seperti jagung bose, pisang rebus, ubi-ubian, dinilai merendahkan martabat pengonsumsi, bahkan ketika kedapatan mengonsumsi pangan tersebut dianggap sudah kelaparan (ketiadaan beras), sehingga sangatlah berat menjadikan bahan makan lokal itu sebagai pangan pokok.

     

    Meskipun sulit dan berat dan dinilai melawan arus, pemerintah perlu terus melakukan sosialisasi dan kampanye berkelanjutan untuk mewujudkan pengurangan konsumsi beras. Provinsi NTT sudah memulainya sejak belasan tahun lalu dan gaungnya terus terasa hingga saat ini.

     

    Frans Lebu Raya ,sejak periode pertama tahun 2008 – 2013 menjadi Gubernur Nusa Tenggara Timur (NTT), tak henti-hentinya mengampanyekan pengembangan pangan lokal untuk mengurangi ketergantungan  masyarakat terhadap beras. Alasannya, sederhana. daerah ini punya banyak potensi pangan lokal yang bisa dikembangkan dan dimanfaatkan masyarakat.

     

    Imbauan demi imbuan terus dilakukan, agar masyarakat semakin mencintai pangan lokal dari hasil kerjanya sendiri, dari ladangnya sendiri, dari hasil kerja kerasnya sendiri.  Itulah sebenarnya yang dimaksudkan dengan hidup yang bermartabat. Kita punya lahan, kita punya potensi yang harus kita kembangkan.

     

    Mungkin juga berangkat dari persoalan tersebut, para petani sedaratan Flores, Lembata, Sumba, Rote dan Timor (Baca : NTT) menggelar rembug pangan dan festival benih di Desa Padjinian, Kecamatan Adonara Barat, Kabupaten Flores Timur , 23 – 25 Mei 2015 lalu. Mereka juga mendeklarasikan perhimpunan petani pangan lokal atau disingkat P3L.

     

    Deklarasi perhimpunan petani ini sebagai bentuk penguatan kapasitas para petani dan sebagai wujud komitmen untuk bergerak bersama, menyatukan visi dan misi dalam memperjuangan kembali pangan lokal. Selama ini pangan lokal sudah tidak diminati, bahkan hampir punah.

     

    Realitas di atas sungguh memprihatinkan. Masyarakat kita setiap tahun begitu merindukan kedatangan Raskin. Raskin seakan menjadi dewa penolong. Padahal, di hadapan kita terbentang luas lahan yang siap digarap dan ditanami aneka tanaman pangan lokal.  Jika kita sendiri sudah enggan berpaling untuk mengembangkan dan mengonsumsi pangan lokal, lalu muncul pertanyaan  yang menggelitik, sebetulnya pangan lokal punya siapa? ***

     
    BERITA TERKAIT
     
     
    BACA JUGA
       
       

      KOMENTAR ANDA                                                             Pedoman Mengirim Komentar

       
      KOMENTAR VIA WEBSITE                                             Pedoman Mengirim Komentar
        0 komentar

      KIRIM KOMENTAR
      Silakan LOG IN untuk memberi komentar.
       



      Copyright © 2013-2018 by FLOBAMORA NETWORK. All rights reserved.