• LINTAS FLOBAMORA
  • NASIONAL
  • INTERNASIONAL
  • LIFESTYLE
  • TRAVEL
  • BOLA
  • OPINI
  • REDAKSI
  • HUBUNGI KAMI
  • REGISTER     LOGIN      BANTUAN
    REGISTER     LOGIN      BANTUAN

    Kamis, 16 Agustus 2018

     

     
    Home   »  Lintas Flobamora
     
    "Mengeroyok" Filaria dari Maukaro
    HELEN MEY | Rabu, 04 November 2015 | 11:21 WIB            #LINTAS FLOBAMORA

    Mengeroyok
    Ilustrasi

     

    KABUPATEN  Ende, Nusa Tenggara Timur (NTT) hingga saat ini termasuk daerah endemis Penyakit Kaki Gajah (Filariasis atau Elephantiasis). Jumlah penderita di daerah itu pun masih cukup banyak.  

     

    Ibukota Kecamatan Maukaro, Senin (26/0) itu terlihat beda dari hari-hari sebelumnya. Wilayah yang terletak di pesisir utara Kabupaten Ende ini dipadati oleh tamu yang datang menyambangi. Bukan saja tamu dari ibu kota kabupaten, tetapi tamu yang datang dari wilayah sekitarnya.

     

    Hari itu, digelar acara Pencanangan Bulan Eliminasi Kaki Gajah (BELKAGA) , Deklarasi Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM) Tingkat Kecamatan Maukaro dan Perayaan Hari Cuci Tangan Pakai Sabun (CTPS) Sedunia Tingkat Kabupaten Ende.

     

    Yang menjadi fokus utama adalah BELKAGA, lantaran Maukaro juga termasuk salah satu wilayah di Kabupaten Ende yang endemis Filariasis. Tidaklah berlebihan jika Bupati Ende, Marselinus Y.W Petu secara tegas mengatakan, untuk membasmi Penyakit Kaki Gajah  harus “dikeroyok”.

     

    Artinya, pelibatan seluruh pemangku kepentingan utamanya masyarakat menjadi hal yang penting untuk menurunkan angka prevalensi filariasis  atau Microfilariasis Rate (MFR) secara bertahap selama lima tahun berturut-turut dimana tahun ini merupakan tahun terakhir karena sudah dimulai sejak 2011 silam.

     

    “Bulan eliminisasi kaki gajah ini dimaksudkan agar penduduk yang tinggal di daerah endemis  filariasis termasuk Kabupaten Ende secara serentak meminum obat pencegah filariasis, sehingga diharapkan akan mengeliminir penularan cacing filarial,” kata Bupati Marsel.

     

    Penyakit Kaki Gajah  adalah golongan penyakit menular yang disebabkan oleh cacing Filaria yang ditularkan melalui berbagai jenis nyamuk. Setelah tergigit nyamuk, parasit (larva) akan menjalar dan ketika sampai pada jaringan sistem lympa maka berkembanglah menjadi penyakit tersebut.

     

    Penyakit ini bersifat menahun (kronis) dan bila tidak mendapatkan pengobatan, dapat menimbulkan cacat menetap berupa pembesaran kaki, lengan dan alat kelamin baik perempuan maupun laki-laki. Penyakit Kaki Gajah bukanlah penyakit yang mematikan, namun demikian bagi penderita mungkin menjadi sesuatu yang dirasakan memalukan bahkan dapat mengganggu aktifitas sehari-hari.

     

    Penyakit Kaki Gajah umumnya banyak terdapat pada wilayah tropis. Menurut info dari WHO, urutan negara yang terdapat penderita mengalami penyakit kaki gajah adalah Asia Selatan (India dan Bangladesh), Afrika, Pasifik dan Amerika. Belakangan banyak pula terjadi di negara Thailand dan Indonesia (Asia Tenggara).

     

    Penyakit ini ditularkan melalui nyamuk yang menghisap darah seseorang yang telah tertular sebelumnya. Darah yang terinfeksi dan mengandung larva dan akan ditularkan ke orang lain pada saat nyamuk yang terinfeksi menggigit atau menghisap darah orang tersebut.

     

    Tidak seperti Malaria dan Demam berdarah, Filariasis dapat ditularkan oleh 23 spesies nyamuk dari genus Anopheles, Culex, Mansonia, Aedes & Armigeres. Karena inilah, Filariasis dapat menular dengan sangat cepat.

     

    Menurut Bupati Marsel, data yang dirilis Dinas Kesehatan Kabupaten Ende sampai penghujung tahun 2014 terdapat 105 kasus penderita kaki gajah kronis yang tersebar di beberapa kecamatan dan terbanyak yaitu sekitar 48 %  berada di wilayah kecamatan Maukaro.

     

    Kegiatan ini juga menurutnya untuk memastikan semua warga Kabupaten Ende berusia 2 hingga 70 tahun telah meminum obat filaria. Untuk tahun 2014 sekitar 197.285 orang telah meminum obat Filaria, dan target di tahun 2015 sejumlah 251. 040 orang.

     

    Guna mempercepat proses eliminasi penyakit ini Bupati Marsel menginstruksikan kepada semua pihak untuk tetap melakukan secara terencana dan berkelanjutan kegiatan promotif dan preventif berupa; kegiatan penyuluhan kesehatan kepada masyarakat yakni perilaku Pola Hidup Bersih dan Sehat (PHBS), pemutusan mata rantai penularan filarial serta penyakit berbasis lingkungan lainnya dengan meminum secara serentak obat filarial, serta menggunakan kelambu dan mencegah dan membatasi kecacatan.

     

    Dukungan LSM

     

    Direktur Firdaus Resource Development (FIRD)  Ende, sebuah LSM yang peduli terhadap pemberantasan penyakit ini, Vinsensius Sangu mengatakan, penyakit filaria ini merupakan penyakit kronis, walaupun tidak mematikan tetapi mempengaruhi stigmanisasi sosial. Masyarakat akan menilai bahwa penyakit filarias itu buruk, sehingga penderita filarias buruk. Karena stigma sosial ini buruk maka penderita akan mendapatkan sanksi sosial sehingga tidak bisa melakukan akses terhadap ekonomi dan sumber daya.

     

    “ini berarti  bagian dari pemiskinan jangka panjang, dimana orang itu akan mencari uang lebih besar untuk melakukan pengobatan terhadap penyakit ini” ujarnya.

     

    Sehubungan dengan persoalan tersebut, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menilai,  Indonesia sangat lamban dalam penangana filaria ini, padahal Indonesia termasuk dari 23 negara endemis filaria. Di Indonesia dari 511 kabupaten/kota terdapat 253 kabupaten/kota yang endemis filaria salah satunya adalah Kabupaten Ende. Sedangkan NTT merupakan propinsi urutan pertama di Indonesia tentang filaria ini.

     

    Kabupaten Ende  sangat beruntung karena  menjadi satu-satunya kabupaten/kota di NTT yang didukung dananya dari FIRD dan jaringan RTI untuk penanganan filaria. Alasan pihaknya memberikan dukungan dana bagi penanganan filaria ini adalah ingin menggerakan penyakit publik melalui kebijakan dan memobilisasi masyarakat agar masyarakat lebih memperhatikan penyakit-penyakit yang terlupakan dan terabaikan seperti filaria ini.

     

    Dalam jangka  panjang untuk mengatasi persoalan seperti ini, pemerintah daerah harus mengambil alih peran yang dilakukan LSM. LSM hanya berperan sebagai pendukung bukan yang utama.Sebagai pendukung LSM hanya mengisi, walaupun dalam  faktanya budgetnya LSM lebih besar dari pemerintah.

     

    “Kami memahami ada beberapa kendala yang ada di dalam pemerintah. Kami menginginkan ke depannya sekiranya Pemerintah melalui program kegiatan aksinya agar lebih memperhatikan pada persoalan-persoalan yang sesungguhnya dialami masyarakat di tingkat bawah,” tandasnya.

     

    Dia berharap, mulai tahun depan peran pemerintah harus lebih besar yaitu melalui perencanaan kebijakan anggaran guna mendukung pemberantasan penyakit yang terabaikan seperti filaria ini.

     

    Apapun alasannya, yang paling penting saat ini adalah sosialisasi mengenai Penyakit Filaria selain melakukan pembersihan lingkungan, dengan maksud menekan dan mengeliminir jumlah penderita penyakit ini.***

     

    URL SUMBER
    BERITA TERKAIT
     
     
    BACA JUGA
       
       

      KOMENTAR ANDA                                                             Pedoman Mengirim Komentar

       
      KOMENTAR VIA WEBSITE                                             Pedoman Mengirim Komentar
        0 komentar

      KIRIM KOMENTAR
      Silakan LOG IN untuk memberi komentar.
       



      Copyright © 2013-2018 by FLOBAMORA NETWORK. All rights reserved.