• LINTAS FLOBAMORA
  • NASIONAL
  • INTERNASIONAL
  • LIFESTYLE
  • TRAVEL
  • BOLA
  • OPINI
  • REDAKSI
  • HUBUNGI KAMI
  • REGISTER     LOGIN      BANTUAN
    REGISTER     LOGIN      BANTUAN

    Minggu, 18 November 2018

     

     
    Home   »  Lintas Flobamora
     
    Kita Bisa Memulainya dari Nusa Tenggara Timur
    ALBERT VINCENT REHI | Rabu, 25 November 2015 | 13:05 WIB            #LINTAS FLOBAMORA

    Kita
    Kadis Pendidikan dan Kebudayaan NTT, Sinun Petrus Manuk

     

    Wawancara Kadis Pendidikan dan Kebudayaan NTT, Sinun Petrus Manuk :

     

    Melontarkan sebuah gagasan untuk menjadikan daerah ini sebagai Provinsi Literasi Pertama di Indonesia. di tengah masih terlampau kuatnya  budaya tutur, adalah sebuah ide bernas, cerdas dan menantang. Ide tersebut muncul dari  Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan NTT, Sinun Petrus Manuk.  Ia ingin agar NTT menyamai Kota Surabaya yang menjadi kota literasi pertama di Indonesia.

     

    Memang tidak mudah membangun budaya baca – tulis di NTT, di tengah kian berkembangnya kemajuan ilmu pengetahuan dan teknlogi . Masalah tersebut harus dilihat dalam konteks Kesadaran dan Gerakan Kolektif, sehingga kita bisa dimulai dari generasi muda.

     

    Seperti apa gagasannya? Berikut penuturan mantan Kadis Sosial Provinsi NTT  yang semasa kuliah di Universitas Nusa Cendana Kupang pernah menjadi Ketua Senat Mahasiswa Fakultas Keguruan dan Ilmu Penddikan kepada Albert Vincent Rehi dari Flobamora News Jumat pekan lalu di ruang kerjanya :

        

    Apa yang menjadi dasar pemikiran Anda sehingga menggulirkan gagasan menjadikan NTT sebagai Provinsi Literasi pertama di Indnesia ?

     

    Mmm…. (diam sejenak) Ide ini muncul ketika saya diminta UPT Bahasa untuk membuka kegiatan terkait tugas-tugas kebahasaan bagi guru Mata pelajaran Bahasa Indonesia beberapa bulan lalu di Kupang. Di situ Saya bertemu dengan pencetus gerakan literasi sekolah. Beliau menceritakan tentang gerakan yang dia cetuskan dan disetujui. Bahkan satu-satunya kota di Indoneisia yang sudah menjadi kota literasi adalah Surabaya.

     

    Beliau menantang saya, apakah bisa menjadikan NTT Provinsi Literasi pertama di Indonesia Dari penjelasan beliau, saya kemudian tetarik dan menyetujui gagasan tersebut.  Saya akan diundang ke Surabaya untuk melihat  seperti apa hal tersebut dikembangkan. Nanti, kita coba adopsi untuk gerakan literasi di NTT.

     

    Saya juga tertarik dengan ide tersebut dan  saya tidak tahu prosentasenya, tetapi ada keluhan tentang minimnya minat baca di kalangan generasi muda. Kemudian dari membaca baru menulis.

     

    Kita mulai dari kebiasaan membaca. Kita biasakan anak-anak untuk membaca. Kebetulan saya di dinas pendidikan. Waktu itu, saya sepakati dengan para guru mata pelajaran Bahasa Indonesia, agar gerakan ini langkah pertamanya mulai dari guru-guru Bahasa Indonesia. Salah satu langkah konkritnya adalah 10 – 15 menit, sebelum Pelajaran Bahasa Indonesia dimulai, anak diminta untuk  membaca. Ini kan kita ingin agar anak-anak mulai biasakan diri membaca. Untuk bangkitkan kebiasaan membaca. Kemudian, sampai pada satu ketika akan jadi gerakan di sekolah. Semua pelajaran, semua siswa akan kita arahkan seperti itu.

     

    Dulu di tahun 60-an sampai 70-an  kita diajarkan untuk membaca nyaring dan membaca diam oleh para guru, khususnya di tingkat sekolah dasar. Mengapa kebiasaan itu tidak dikembangkan lagi sekarang ini?

     

    Betul sekali… kebiasaan itu sudah mulai hilang. Dulu kita diajarkan  membaca dengan baik. Membaca indah. dengan intonasi yang baik. Kebiasaan itu membudaya bagi anak-anak yang bersekolah di era 70-an.

     

    Mungkin langkah awal untuk  mendorong anak didik mencintai membaca dan menulis ini, kita mulai dari gerakan membaca Kemudian kita menuju ke tahap selanjutnya yakni mengarahkan mereka untuk menulis.

     

    Di NTT hingga saat ini masih kuat budaya tutur. Seberapa jauh pengaruh budaya itu, jika  kita ingin kembangkan budaya membaca dan menulis di kalangan masyarakat?

     

    Tiga-tiganya mesti dipelihara. Budaya tutur itu adalah warisan nenek-moyang yang turun – temurun. Ada hal yang tidak dibukukan tetapi dituturkan berbab - bab. Ini yang mesti ditulis. Ketakutan kita, sesewaktu akan putus atau hilang. Padahal, budaya tutur sangat luar biasa dan mewariskan biasaan dalam kehidupan masyarakat yang dipertahankan hingga saat ini.

     

    Apakah Dinas Pendidikan dan Kebudayaan NTT akan mendorong kebiasaan membaca sebagai gerakan kolektif  yang harus dimulai dari sekolah-sekolah ?

     

    Betul sekali…. Kita mulai dari guru Bahasa Indonesia. Nanti akan bergesar ke gerakan literasi di sekolah. Kemudiian kita bisa mendesain gerakan bersifat daerah dan provinsi . Kita perlu dalami, sehingga NTT bisa jadi provinsi literasi dengan menenuhi beberapa kriteria. Memang, di Indonesia masih belum banyak. tetapi kita bisa mulai dari NTT. Kita akan menuju ke sana.

     

    Apa perlu aturan atau keputusan yang menjadi dasar satu gerakan bersama?

      

    Persis… persis,.. nanti akan ada aturan yang bisa mengikat. Kalau kita bilang, gerakan membaca di sekolah kaitan tentunya dengan buku. Buku itu jendela ilmu pengetahuan. Dengan membaca buku, anak-anak terinsipirasi untuk menulis. Kita mulai dari langkah-langkah kecil. Akan ada regulasi ke arah itu

     

    Kalau demikian, perlukah penyediaan buku-buku bermutu di sekolah-sekolah  untuk menarik minat baca siswa?

     

    Kurang dari 50 persen sekolah di NTT memiliki perpustakaan, Saya kalau berkunjung ke sekolah selalu menyempatkan diri ke perpustakaan. Apakah perpustakaan di sekolah itu  ditata dengan baik, ada ruang buku, ruang baca dan ruang pelayanan. Banyak sekolah belakangan ini menjadikan ruangan perpustakaan sebagai ruang kelas.Kemudian  ada juga sekolah yang tidak mengisi perpustakaannya dengan buku-buku baru. Lalu banyak sekolah juga tidak merawat ruangan perpustakaan dengan baik. Padahal,ada aturan yang memungkinkan penggunan dana BOS untuk membeli  buku. Sekolah bisa gunakan dana itu sesuai proporsinya. Perpusataan harus dikelola secara baik agar menarik minat siswa.  

     

    Artinya sekolah perlu menyiapkan buku- buku yang baik dan bermutu bagi siswanya…

     

    Sudah menjadi kewajiban sekolah untuk menyediakan buku-buku bermutu. Tiap tahun harus bertambah baik judul buku maupun jumlahnya. Sekarang ini ada banyak perpustakaan daerah, siswa juga didorong untuk mengunjungi perpustakaan di luar sekolah. Begitupun  berkunjung ke toko buku entah sekedar membaca di sana atau membeli buku. Langkah ini demi mendorong kecintaan anak akan buku dan membaca.    

     

    Perlukan dikembangkan budaya menulis di kalangan generasi muda?

     

    Pasti… pasti… (sambil memperbaiki posisi duduknya) Sekarang ini saya masih dorong para guru untuk mulai menulis. Kalau sekarang guru makin banyak membaca tentu akan tertarik menulis. Jika guru bisa menulis akan bermanfaat bagi dirinya. Saat ini juga banyak guru yang pangkatnya mentok di golongan VI a karena tidak bisa menulis.

     

    Bagaimana upaya untuk mendorong  budaya membaca di masyarakat ?

     

    Banyak yang kalangan mengelola Taman Bacaan Masyarakat. Ada perpustakaan keliling. Masyarakat kita dorong untuk meningkatkan kebiasaan membaca. Tetapi, saya lebih fokus kepada anak-anak sekolah untuk meningkatkan budaya baca dan menulis.

     

    Kebanyakan anak-anak  sekolah dewasa ini lebih asyik dan lebih senang up date status di media sosial daripada membaca buku. Bagaimana upaya kita untuk mengarahkan anak-anak untuk membaca buku ?

     

    Kalau kita membaca buku ada hal baru yang kita dapatkan. Ada hal yang lebih luas yang kita peroleh saat membaca buku. Kita tidak bisa menghindari kenyataan ini. Anak-anak juga kita dorong untuk menggunakan sosial  media secara baik dan benar, tetapi jangan lupa mereka juga harus membaca buku.

     

    Apakah ada imbauan untuk para guru demi mewujudkan gerakan ini ?

     

    Soal provinsi literasi sedang kita upayakan. Tetapi saya imbau para guru untuk mendorong anak-anak. Paling efektif guru di kelas. Anak-anak didorong mencintai  buku.

     

    Untuk sekolah sendiri ….

     

    Untuk sekolah saya imbau tata kembali perpustakaan up date  buku dengan  jumlah yang cukup sehingga menarik minat anak-anak berkunjung ke perpustakaan.

     

    Omong-omong kapan rencana tersebut kita terealisir atau di- launcing? 

     

    Semuanya masih dalam persiapan . Mudah-mudahan dalam waktu yang tidak telalu lama. Target kita tahun 2016 atau paling lambat 2017. Kita akan lakukan studi banding terlebih dahulu, baru mengimplementasikannya.Kita harus memulai dari langkah pertama untuk menggapai seribu langkah selanjutnya.***  


     
    BERITA TERKAIT
     
     
    BACA JUGA
       
       

      KOMENTAR ANDA                                                             Pedoman Mengirim Komentar

       
      KOMENTAR VIA WEBSITE                                             Pedoman Mengirim Komentar
        0 komentar

      KIRIM KOMENTAR
      Silakan LOG IN untuk memberi komentar.
       



      Copyright © 2013-2018 by FLOBAMORA NETWORK. All rights reserved.