• LINTAS FLOBAMORA
  • NASIONAL
  • INTERNASIONAL
  • LIFESTYLE
  • TRAVEL
  • BOLA
  • OPINI
  • REDAKSI
  • HUBUNGI KAMI
  • REGISTER     LOGIN      BANTUAN
    REGISTER     LOGIN      BANTUAN

    Rabu, 18 Juli 2018

     

     
    Home   »  Nasional
     
    Ahli Forensik: Pembunuh Mirna Tak Ingin Beraksi Frontal
    ANA DEA | Jumat, 22 Januari 2016 | 07:56 WIB            #NASIONAL

    Ahli
    Rekonstruksi kasus Mirna yang tewas karena minum kopi di Kafe Olivier Jakarta

     
    JAKARTA - Siapa pembunuh Wayan Mirna yang meninggal beberapa saat setelah meminum kopi Vietnam di Kafe Olivier, Grand Indonesia, masih menjadi teka-teki. Bagaimana ahli forensik melihat kasus ini?

    Master Psikologi Forensik Reza Indragiri Amriel menilai, pelaku pembunuh Mirna tidak ingin aksinya terkesan frontal.

    "Mengapa pakai racun? Karena pelaku tidak ingin melancarkan aksinya secara frontal. Jadi pelaku bersembunyi dan berjarak dengan korbannya," kata Reza, Kamis (21/1/2016).

    Reza mengatakan, pelaku tampaknya sudah mengenal betul tentang bahaya racun sianida. Reza menduga, pelaku yang memasukkan zat sianida itu pengetahuan yang baik tentang sianida. Di beberapa negara, lanjut Reza, pembelian sianida hanya bisa melalui media online dan itu pun bersifat khusus.

    "Jadi, pelaku bukan orang awam atau biasa, melainkan orang dengan profesi, akses, atau otorisasi khusus," jelas Reza.

    Menurut pria yang juga sebagai dosen Psikologi Forensik di Perguruan Tinggi Ilmu Kepolisian (PTIK) ini, membunuh orang dengan menggunakan zat sianida sangatlah efektif. Namun, sangat sedikit kasus pembunuhan orang menggunakan sianida. Zat ini lebih sering dipakai untuk bunuh diri.

    "Seringkah orang membunuh pakai sianida? Sangat-sangat sedikit. Lebih sedikit daripada pemakaian sianida untuk bunuh diri," tambah Reza.

    Meski demikian, Reza menilai ada kejanggalan dalam kasus kematian Mirna ini. Menurutnya, jika benar ini adalah kasus pembunuhan, maka pelaku merupakan sosok yang berlatar belakang khusus.  

    "Aneh bahwa sianida dipakai untuk menghabisi korban yang berstatus sosial biasa-biasa saja. Terlalu costly. Effort tak sebanding dengan (maaf) nilai korban. Alhasil, kalau ini dianggap pembunuhan, maka pembunuhnya adalah orang dengan latar khusus. Atau, mungkinkah salah sasaran?" kata Reza. (Baca juga Mirna Mewarisi Perusahaan Ayahnya)

     

    URL SUMBER
    BERITA TERKAIT
     
     
    BACA JUGA
       
       

      KOMENTAR ANDA                                                             Pedoman Mengirim Komentar

       
      KOMENTAR VIA WEBSITE                                             Pedoman Mengirim Komentar
        0 komentar

      KIRIM KOMENTAR
      Silakan LOG IN untuk memberi komentar.
       



      Copyright © 2013-2018 by FLOBAMORA NETWORK. All rights reserved.