• LINTAS FLOBAMORA
  • NASIONAL
  • INTERNASIONAL
  • LIFESTYLE
  • TRAVEL
  • BOLA
  • OPINI
  • REDAKSI
  • HUBUNGI KAMI
  • REGISTER     LOGIN      BANTUAN
    REGISTER     LOGIN      BANTUAN

    Rabu, 21 November 2018

     

     
    Home   »  Regional
     
    Pemerintah Provinsi NTT Perlu Lindungi Sapi Betina Produktif
    ALBERT VINCENT REHI | Senin, 15 Februari 2016 | 10:01 WIB            #REGIONAL

    Pemerintah
    Direktur Utama Puskud NTT, Beny Subagyo

     
    KUPANG, FLOBAMORA.NET - Upaya pengembangan sapi yang dilakukan Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) dalam lima tahun belakangan menunjukkan hasil yang menggembirakan. Hal ini dilihat dari antusiasme masyarakat memelihara sapi melalui Program Desa Mandiri Anggur Merah.

    Apa yang dilakukan pemerintah ternyata sama dan  sebangun dengan apa yang dilaksanakan Pusat Koperasi Unit Desa (Puskud) NTT.  Puskud sendiri punya program khusus untuk meningkatkan  pendapatan masyarakat terutama para peternak.

    “Kami punya misi bagaimana meningkatkan pendapatan masyarakat, sehingga apapun program pemerintah, kita tetap laksanakan pengembangan peternakan yang melibatkan peternak yang ada di desa. Tujuannya, dengan usaha ini masyarakat bisa meningkatkan pendapatannya melalui pemeliharaan yang baik. Sistem yang kita miliki adalah terpadu, mulai dari pengadaan sampai pascapanen. Kemudian kita dampingi, kita dilengkapi dengan adanya petugas pendamping, dokter hewan, pengurus kelompok dan pengurus koperasi peternak sendiri di desa,” kata Direktur Utama Puskud NTT, Beny Subagyo saat ditemui beberapa waktu lalu di Kupang.

    Menurut Beny, sampai saat ini Puskud melakukan pembinaan di daratan Timor dan di Nagekeo. Sudah 139 kelompok yang tergabung dalam 45 koperasi peternakan.Kemudian petani-binaan sudah mencapai 7.149 KK. Dan secara  komulatif populasi yang dikembangkan Puskud sudah 52 ribu ekor dan kemudian yang dijual 46 ribu lebih. Stok sampai saat ini meski belum mencukupi, karena banyak petani binaan tetap memelihara sapi.

    Puskud sendiri dalam beberapa tahun terakhir mengembangkan sistem kemitraan. Yang disiapkan Puskud adalah dana untuk pembelian sapi, kemudian menyiapkan dana untuk obat-obatan, termasuk anting dan tali.Sedangkan  yang disiapkan petani adalah lahan hijauan, pembuatanikandang dan tenaga untuk memelihara sapi.

    “Kita menganut sistem keterbukaan, mulai dari pengadaan sampai penjualan. Bahkan calon penerima diikutkan dalam pengadaan sapi saat masa pemeliharaan kami damping,” paparnya. Menyinggung tentang pakan ternak yang menjadi masalah serius pengembangan sapi di NTT, menurut dia, pakan tetap menjadi perhatian serius, dan menjadi masalah klasik karena faktor cuaca yang sering ekstrem. Sebab, biasanya dalam pemeliharaan sapi, mulai September sampai Desember mengalami kekurangan pakan. Pihaknya menyiasati dengan sistem pemeliharaan paling tidak sampai September.

    Untuk mengatasi keterbatasan pakan, Puskud NTT sejak tahun 1980 sampai saat ini mendambakan adanya pabrik pakan. Kemudian, guna mengatasi masalah ini dilakukan pengembangan sendiri lahan hijauan pakan ternak dengan Lamtoro Terambah. Lamtoro ini ditanam, harapannya bisa menambah pakan pada musim kemarau. Dalam jangka panjang, lamtoro yang ada selama ini bisa diganti dengan lamtoro terambah, sehigga pada waktu tertentu hanya ada lamtoro terambah. Memang diakui, selama ini lamtoro yang lain telah memberi nilai tambah. Tetapi kalau pada musim panas lamtoro biasa daunnya gugur. Sedangkan jenis terambah, tidak gugur dan daunnya lebih rindang.

    Menjawab pertanyaan tentang kerja sama dengan Pemerintah DKI Jakarta, Beny mengakui tidak pernah mengikuti MoU tersebut. Yang jelas, hingga kini sapi-sapi yang dipelihara di NTT pengirimannya adalah ke Jakarta maupun Kalimantan. Ada atau tidaknya MoU  itu, sapi dari NTT tetap dikirim ke sana.

    Beny mendukung sepenuhnya rencana pemerintah untuk meningkatkan populasi sapi di NTT menjadi 1 juta ekor di tahun 2018. “Target itu bagus sekali. Yang  perlu kita ketahui peternakan di NTT adalah milik rakyat, sehingga sapi-sapi yang dipeliharan oleh masyarakat jika sudah saatnya dijual, tidak boleh ditahan-tahan. Sebab, bisa mempengaruhi tingkat pendapatan petani. Kalau pemerintah menargetkan populasi 1 juta ekor bisa dikembangkan dengan baik. Apapun program tersebut,paling penting kebutuhan petani harus didukung,” tambahnya.

    Ke depan, pemerintah juga perlu memperhatikan sapi betina produktif untuk dimanage sedemikian rupa, sehingga sapinya bisa leluasa dipelihara untuk menghasilkan anak, demi meningkatkan populasi. Artinya, sapi betina produktif tidak boleh dikirim ke luar daerah atau dipotong. Sapi betina produktif harus dilindungi.

    Target Puskud tidak terlalu muluk. Yang ada hanyalah bagaimana petani memelihara sapi dan kehidupan mereka terangkat atau terjamin kesejahteraannya. Selain itu peternak dilibatkan dalam perencanaan apapun untuk pemgembangan sapi di NTT. Peternak pun sangat menerima alih teknologi. Dan yang membuat Puksud optimistis adalah tidak ada kredit macet di tangan peternak.***

     
    BERITA TERKAIT
     
     
    BACA JUGA
       
       

      KOMENTAR ANDA                                                             Pedoman Mengirim Komentar

       
      KOMENTAR VIA WEBSITE                                             Pedoman Mengirim Komentar
        0 komentar

      KIRIM KOMENTAR
      Silakan LOG IN untuk memberi komentar.
       



      Copyright © 2013-2018 by FLOBAMORA NETWORK. All rights reserved.