• LINTAS FLOBAMORA
  • NASIONAL
  • INTERNASIONAL
  • LIFESTYLE
  • TRAVEL
  • BOLA
  • OPINI
  • REDAKSI
  • HUBUNGI KAMI
  • REGISTER     LOGIN      BANTUAN
    REGISTER     LOGIN      BANTUAN

    Kamis, 26 April 2018

     

     
    Home   »  Regional
     
    Politik Pencitraan Dominasi Tata Kelola Pemerintahan di Flores
    ALBERT VINCENT REHI | Sabtu, 05 Maret 2016 | 13:32 WIB            #REGIONAL

    Politik
    Petrus Selestinus

     

    KUPANG, FLOBAMORA.NET - Budaya dan peradaban di Flores telah dikacaukan oleh sistem tata kelola pemerintahaan yang lebih mengutamakan persoalan politik pencitraan diri atau tebar pesona, sementara persoalan budaya dan peradaban yang seharusnya menjadi potret Kota di Flores diabaikan.

    Penilaian ini disampaikan Koordinator Tim Pembela Demokrasi Indonesia (TPDI), Petrus Selestinus dalam keterangan persnya yang diterima media ini, Jumat (4/3).

    Menurut Petrus, potret 10 kota kabupaten atau lima daerah etape event Tour de Flores 2016, masih menyedihkan. Karena secara umum masih menggambarkan bahwa selama bertahun-tahun, terlebih- lebih para bupati yang lahir dari pilkada ke pilkada belum ada satu pun yang secara sungguh-sungguh ingin menata dan mengurus kota dan masyarakatnya dengan memadukan antara peradaban dengan  budaya dan eksotikanya dalam satu bingkai wajah kota yang eksotik dan humanis yang tersebar di setiap Kabupaten di Flores.

     

    “Kebersihan, keindahan dan keteraturan diabaikan. Sehingga memberi kesan kota-kota kabupaten di Flores tidak dikelola oleh sebuah pemerintahaan yang mengedepankan potret kota yang menyatukan budaya dan peradaban dalam satu tata kelola yang baik,” kata Petrus.

    Advokat Peradi tinggal di Jakarta ini menyampaikan, Tour de Flores 2016 yang sedianya digelar pada 16- 26 Mei 2016, tidak terlalu lama lagi. Kesiapan pemerintah pusat dan panitia penyelenggara  pusat patut di apresiasi. Ini membuktikan bahwa pemerintah dan sejumlah tokoh masyarakat NTT di Jakarta berupaya keras untuk menjadikan event berskala internasional itu sebagai upaya mempromosikan Pariwisata Flores dengan tagline "Explore the Amazing Land" yang diisi dengan kegiatan Balap Sepeda Internasional dan juga dengan wisata olahraga lainnya.

    Petrus mempertanyakan bagaimana kesiapan masyarakat Flores dan seberapa besar keterlibatan masyarakat, baik sebagai salah satu unsur pelaku pariwisata maupun sebagai tujuan atau target yang akan dicapai dari Tour de Flores 2016.

    Peran  Gubernur NTT Frans Lebu Raya dan para Bupati se-daratan Flores juga dipertanyakan dalam menerjemahkan dan mewujudkan tujuan paling hakiki dari Tour de Flores 2016. Pertanyaan ini penting dan relevan untuk dijawab, mengingat karakter birokrat di daerah selama ini sangat minim dalam melakukan inovasi dan miskin kreatif.

    Padahal, kata dia, sejak otonomi daerah digulirkan melalui UU Pemerintahan Daerah, masalah Inovasi Daerah dan Kreatif Daerah sudah diamanatkan untuk dijadikan sebagai salah satu mesin penggerak ekonomi masyarakat di daerah dalam rangka meningkatkan daya saing daerah.

    “Birokrat kita lebih suka melayani kepentingan orang- orang pusat, ketimbang mencari terobosan untuk menciptakan hal-hal baru yang lebih inovatif dan kreatif untuk memberdayakan masyarakat kita agar mampu berinovasi dan berkreasi guna meningkatkan daya saing diri, keluarga, masyarakat dan sekaligus daya saing daerahnya,” ujar Petrus.

    Dia menegaskan, karakter birokrat pada umunya hanya mau mengabdi ke atas, menyikut ke samping dan menginjak ke bawah (politik gaya kodok), terlebih-lebih ketika menghadapi event-event berskala nasional bahkan internasional.

    “Inilah yang menyebabkan birokrat minim inovasi dan miskin kreatif. Karena birokrat-birokrat lebih senang mengabdi kepada atasannya ketimbang kepada masyarakat yang harus mereka layani,” paparnya.

    Karena itu efek ekonomi, tuturnya, berupa multiplier effect dan trickle down effect sulit diharapkan diperoleh masyarakat dalam event Tour de Flores 2016, semakin jauh panggang dari api. Selain karena rendahnya partisipasi masyarakat, juga pemerintah daerah kurang melibatkan masyarakat untuk berperan serta dalam event internasional ini sebagai bagian dari hak masyarakat untuk berperan serta sebagai salah satu unsur dalam usaha kepariwisataan.

    Kepala Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif NTT, Marius Ardu Jelamu mengatakan, Tour de Flores yang direncanakan akan berlangsung pada Mei 2016, “pesertanya berasal dari 30 negara di empat benua. Para peserta akan memulai titik star di Larantuka, Kabupaten Flores Timur dan finis di Labuan Bajo, Kabupaten Manggarai Barat. Diharapkan, event berskala internasional itu memberi nilai ekonomi bagi masyarakat di pulau Flores,” katanya.***


     
      TAG:
    • khas
    •   
    •   
    •   
    BERITA TERKAIT
     
     
    BACA JUGA
       
       

      KOMENTAR ANDA                                                             Pedoman Mengirim Komentar

       
      KOMENTAR VIA WEBSITE                                             Pedoman Mengirim Komentar
        0 komentar

      KIRIM KOMENTAR
      Silakan LOG IN untuk memberi komentar.
       



      Copyright © 2013-2018 by FLOBAMORA NETWORK. All rights reserved.