• LINTAS FLOBAMORA
  • NASIONAL
  • INTERNASIONAL
  • LIFESTYLE
  • TRAVEL
  • BOLA
  • OPINI
  • REDAKSI
  • HUBUNGI KAMI
  • REGISTER     LOGIN      BANTUAN
    REGISTER     LOGIN      BANTUAN

    Rabu, 12 Desember 2018

     

     
    Home   »  Siapa & Siapa
     
    Maria Geong Mengubah Wajah Politik NTT
    ALBERT VINCENT REHI | Minggu, 06 Maret 2016 | 14:08 WIB            #SIAPA & SIAPA

    Maria
    Maria Geong

     

    ADA satu figur yang menjadi pusat perhatian , saat berlangsungnya acara pelantikan bupati dan wakil bupati di sembilan kabupaten di NTT hasil pilkada serentak 9 Desember 2015 lalu. Dialah Drh. Maria Geong, PhD, Wakil Bupati Manggarai Barat. Dia adalah satu-satunya perempuan yang dilantik saat itu.

    Realita tersebut telah mengubah peta politik patrlineal di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), yang lebih banyak memunculkan kamum pria di kancah politik. Maria Geong, sosok kelahiran Ruteng 21 November 1957 merupakan sosok perempuan pertama yang mendapatkan kepercayaan publik untuk memegang posisi sebagai Wakil Bupati Manggarai Barat periode 2016-2021 sekaligus mengubah wajah politik Partilineal di daerah ini.

    Saat prosesi para bupati dan wakil bupati bersama Gubernur Frans Lebu Raya, Wagub Benny Litelnony dan Ketua DPRD NTT, Anwar Pua Geno, menuju Aula Utama Ben Mboi, ratusan pegawai perempuan di lingkup Pemprov NTT memanggil-manggil  nama Maria Geong sambil bertepuk tangan, mengiringi langkah Wakil Bupati Manggarai Barat itu ke tempat pelantikan.

    Maria adalah  perempuan pertama di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) berani mengambil risiko tinggalkan profesinya sebagai PNS  untuk membuka jalan bagi perempuan NTT lainnya agar tidak ragu maju berkarir di dunia politik.

    “Ya, saya harus berani ambil risiko tinggalkan profesi untuk maju sebagai wakil bupati, agar perempuan NTT tidak ragu lagi ke depan, “ kata Maria seusai di lantik Gubernur NTT Frans Lebu Raya di Kupang, Rabu (17/2).

    Maria yang dalah mantan Kepala Bidang Veteriner pada Dinas  Peternakan NTT ini berharap ke depan semakin banyak perempuan NTT yang menjadi pemimpin, sehingga bisa memperjuangkan  kepentingan kaumnya.

    Mayoritas perempuan NTT, menurut Maria Geong adalah petani yang berada di pedesaan dan sering terlupakan dalam pembangunan.

    “Sebagai bekas penyuluh pertanian, saya akan mendedikasikan semua ilmu dan pengalaman yang ada untuk meningkatkan taraf hidup kaum wanita di pedesaan,“ ujarnya.

    Wakil Bupati Drh. Maria Geong, PhD dilantik bersama Agustinus Ch. Dula sebagai Bupati Kabupaten Manggarai Barat untuk periode lima tahun, 2016 – 2021.

    Pasangan Agustinus Ch Dula dan Maria Geong merupakan salah satu dari 9 pasangan Bupati/Wakil Bupati Terpilih pada Pilkada serentak 2015 lalu yang dilantik Gubernur NTT atas nama Presiden RI.

    Pasangan yang dikenal dengan tagline Bersama Gusti – Maria Kita Bisa ini meraih 29.358 suara atau 25,45 persen pada pelaksanaan Pilkada , 9 Desember 2015 di Manggarai Barat.
    Tanggal 29 Januari 2016 lalu, pasangan calon ini ditetapkan sebagai pemenang Pilkada oleh KPU setempat, setelah Mahkamah Konstitusi (MK) menolak permohonan perselisihan hasil pemilihan kepala daerah serentak 2015 di Kabupaten Manggarai Barat pada Senin 25 Januari 2016 lalu.

    Tokoh Pemberantasan Rabies

    Sosok yang tegas dan lugas gaya bicaranya ini lama dikenal sebagai tokoh pemberantasan rabies. Pada 9 Oktober 2012 lalu ia dianugerahi penghargaan sebagai Tokoh Pejuang Pemberantasan Rabies, oleh Kementerian Kesehatan Indonesaia, bertepatan dengan puncak peringatan World Rabies Day tingkat nasional di Maumere, Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur.

    Sejak tahun 2000, atau tiga tahun setelah kasus rabies pertama terjadi di Kabupaten Flores Timur pada tahun 1997, Maria sudah terlibat aktif dalam upaya pemberantasan rabies di daerah tersebut, baik secara pribadi maupun sebagai staf pada Dinas Peternakan Provinsi Nusa Tenggara Timur.

    “Secara pribadi saya merasa terpanggil untuk ikut terlibat dalam upaya pemberantasan penyakit rabies. Betapa sangat tidak manusiawinya kita, jika membiarkan sesama saudara, mati sia-sia karena penyakit itu,” tandasnya saat ditemui di Kupang, beberapa waktu lalu.

    Maria menuturkan, awal keterlibatannya dalam upaya pemberantasan penyakit rabies, karena ia melihat ada kebijakan yang salah dilakukan pemerintah daerah waktu itu dalam upaya pemberantasan rabies. Gerakan eliminasi total terhadap hewan penyebab rabies terutama anjing , menjadi pilihan utama dan dikampanyekan secara luas, sementara  upaya lain seperti melakukan vaksinasi diabaikan pemerintah.

    Dia merasa miris, ketika harus berhadap dengan Surat Keputusan Gubernur NTT,  tahun 1998, yang isinya menyebutkan, pemberantasan rabies di Flores, harus dilakukan dengan eliminasi total atau pembunuhan massal terhadap anjing dan kera serta hewan sebangsanya yang bisa tertular rabies.

    Tak pelak, ia berjuang mati-matian agar pola eliminasi total harus ditinggalkan, dan mengedepankan program vaksinasi terhadap hewan penyebab rabies. Untuk maksud itu, ia harus berjuang lewat Perhimpunan Dokter Hewan Indonesia  dan dukung penuh oleh sababat-sahabat para dokter hewan.

    “Saya merasa tertantang untuk berbuat lebih, demi memberantas penyakit rabies. Saya tak pernah bosan melakukan advokasi kepada pemerintah daerah, agar meninggalkan kebijakan eliminasi dan beralih ke cara yang lebih baik yakni melakukan vaksinasi,” jelas alumni  Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Gajah Mada, Yogyakarta tahun 1985 ini.

    “Kita belum bisa menurunkan prevalensi rabies. Kasus itu masih ada, secara insidentil  walaupun masih bisa dikontrol dibawah 0,6 %. Yang menggembirakan, sejak tahun 1997, rabies hanya menyebar di Flores dan Lembata, tidak sampai ke Timor, Sumba dan Alor,” ujarnya.

    Menurutnya, rendahnya target vaksinasi, karena sangat tergantung pada kebijakan keuangan atau financial support. Anggaran dari daerah untuk membeli vaksin jelas-jelas sangat terbatas.

    Meskipun demikian, doktor tamatan School of Veterinary and Biomedical Sciences, Murdoch University, Perth, Australia Barat, tahun 2000 ini, merasa perjuangan untuk memerangi penyakit rabies di daratan Flores dan Lembata, belum maksimal. Ia terus-menerus meminta perhatian pemerintah daerah, tokoh agama, tokoh masyarakat dan LSM serta pejuang yang peduli rabies, untuk bisa menyatukan tekad dan keseriusan guna membebaskan daerah ini dari masalah rabies yang telah menelan banyak korban.

    Ia telah menyiapkan peta rancangan (roadmap) pembebasan rabies dengan target 2017, Flores dan Lembata bebas rabies. Langkah ini dianggap sangat penting dan strategis, sehingga target  Flores dan Lembata bebas rabies bisa tercapai, karena mewujudkan sebuah wilayah bebas rabies, adalah kerja besar dan harus melibatkan semua komponen masyarakat.

    “Roadmap yang ada, harus didukung  dengan program vaksinasi. Jika vaksinasi terus- menerus dilaksanakan, dalam analisa saya daerah Flores dan Lembata benar-benar akan bebas rabies pada tahun 2020. Artinya tidak ada lagi orang  yang mati sia-sia karena rabies,” tambah Maria yang sudah purna tugas dengan jabatan terakhir  Kepala Bidang Pemberantasan Penyakit Hewan, Dinas Peternakan Provinsi Nusa Tenggara Timur. Selamat bertugas di medan pengabdian baru. ***


     
      TAG:
    • khas
    •   
    •   
    •   
    BERITA TERKAIT
     
     
    BACA JUGA
       
       

      KOMENTAR ANDA                                                             Pedoman Mengirim Komentar

       
      KOMENTAR VIA WEBSITE                                             Pedoman Mengirim Komentar
        0 komentar

      KIRIM KOMENTAR
      Silakan LOG IN untuk memberi komentar.
       



      Copyright © 2013-2018 by FLOBAMORA NETWORK. All rights reserved.