• LINTAS FLOBAMORA
  • NASIONAL
  • INTERNASIONAL
  • LIFESTYLE
  • TRAVEL
  • BOLA
  • OPINI
  • REDAKSI
  • HUBUNGI KAMI
  • REGISTER     LOGIN      BANTUAN
    REGISTER     LOGIN      BANTUAN

    Minggu, 22 April 2018

     

     
    Home   »  Ekonomi & Investasi
     
    Faisal Basri: Terlalu Cepatkah Rupiah Menguat?
    ANA DEA | Selasa, 08 Maret 2016 | 09:01 WIB            #EKONOMI & INVESTASI

    Faisal
    Ilustrasi

     
    JAKARTA - Ekonom Universitas Indonesia (UI) Faisal Basri menyoroti kekhawatiran Menteri Koordinator Perekonomian Darmin Nasution yang khawatir jika penguatan rupiah diatas fundamentalnya.

    Beberapa pejabat tinggi memang khawatir rupiah menguat terlalu cepat. Penguatan yang terlalu cepat hanya akan mengganggu ekspor dan meningkatkan impor terutama impor barang konsumsi.

    "Mereka barangkali lupa bahwa rupiah sudah tergolong lama mengalami kemerosotan. Tahun lalu saja nilai tukar rupiah merosotan sebesar 9,39 persen," tulis Faisal dalam blog pribdinya, faisalbasri01.wordpress.com.

    Menurut Faisal, jika dibandingkan dengan aras tertingginya pada 2 Agustus 2011, nilai tukar rupiah hari ini melemah sebesar 35,1 persen.

    Jadi, penguatan rupiah selama tahun ini sebesar 5,64 persen masih belum menutup kemerosotan tahun lalu, apalagi dibandingkan posisi 2 Agustus 2011.

    "Kekhawatiran penguatan rupiah bakal mengganggu ekspor rasanya kurang beralasan. Toh sewaktu rupiah melorot, ekspor boro-boro naik, malahan terus merosot," lanjut Faisal.

    Mengingat mayoritas ekspor kita adalah komoditas, perubahan harga karena faktor nilai tukar tidak sensitif terhadap permintaan.

    Lebih lanjut, Faisal juga menyoroti ekspor manufaktur. Menurut dia, produk manufaktur yang diekspor memiliki kandungan impor relatif tinggi. Artinya, harga bahan baku yang diimpor dalam rupiah turun.

    Jadi kenaikan harga barang ekspor Indonesia dalam mata uang pengimpor dikompensasikan oleh penurunan harga bahan baku yang diimpor. Jadi pengaruh neto-nya bisa dikatakan netral.

    Menurut Faisal, para pejabat tinggi khawatir atas penguatan nilai tukar rupiah boleh jadi karena mereka tahu betul faktor penopangnya belum meyakinkan.

    Pertama, meskipun menunjukkan trend penurunan, laju inflasi di Indonesia masih yang tertinggi di ASEAN-5.

    Kedua, penopang utama perolehan valuta asing adalah dari selisih antara ekspor dan impor barang dan jasa (current account) yang masih defisit, sedangkan kebanyakan negara ASEAN menikmati surplus.

    Dalam penilaian mereka, penguatan rupiah belakangan ini lebih disebabkan karena pelemahan dollar AS dan sentimen positif yang membuat peningkatan dana asing masuk. Dana asing itu kebanyakan bersifat jangka pendek yang sewaktu-waktu bisa keluar.

    "Namun, jika pemerintah bisa menjaga sentimen positif dengan konsisten melaksanakan penyesuaian struktural, kita patut optimistis perekonomian akan terus membaik. Tidak pula menempuh jalan pintas yang kontraproduktif," pungkas Faisal.


    Sebelumnya berdasarkan data Bloomberg, rupiah mengalami kenaikan harian 13 hari berturut-turut, terlama dalam enam tahun terakhir.

    Hingga hari ini (8/3/2016) nilai tukar rupiah telah menguat 5,64 persen, terbaik kedua di antara Emerging Markets setelah Brazilian real.

     

    URL SUMBER
    BERITA TERKAIT
     
     
    BACA JUGA
       
       

      KOMENTAR ANDA                                                             Pedoman Mengirim Komentar

       
      KOMENTAR VIA WEBSITE                                             Pedoman Mengirim Komentar
        0 komentar

      KIRIM KOMENTAR
      Silakan LOG IN untuk memberi komentar.
       



      Copyright © 2013-2018 by FLOBAMORA NETWORK. All rights reserved.