• LINTAS FLOBAMORA
  • NASIONAL
  • INTERNASIONAL
  • LIFESTYLE
  • TRAVEL
  • BOLA
  • OPINI
  • REDAKSI
  • HUBUNGI KAMI
  • REGISTER     LOGIN      BANTUAN
    REGISTER     LOGIN      BANTUAN

    Senin, 21 Mei 2018

     

     
    Home   »  Internasional
     
    AS dan Inggris Larang Warganya Bepergian ke Filipina Selatan
    ANA DEA | Minggu, 24 April 2016 | 09:22 WIB            #INTERNASIONAL

    AS
    Militan Abu Sayyaf di pulau Jolo, Filipina selatan. AP

     

    WASHINGTON DC – Pemerintah Amerika Serikat dan Inggris telah mengeluarkan peringatan perjalanan untuk Filipina selatan.

     

    Peringatan itu dikeluarkan karena menguatnya ancaman  keamanan akibat mulai maraknya kasus penculikan di perairan perbatasan Filipina dan Malaysia, yang dilakukan milisi Abu Sayyaf.

     

    Departemen Luar Negeri AS memperingatkan warganya agar menunda perjalanan yang tidak penting ke Filipina selata.

     

    “Sebab, ancaman penculikan wisatawan internasional, peningkatan ancaman penculikan terhadap kapal-kapal kecil,  dan aksi-aksi kekerasan terkait pemberontakan dan terorisme di kawasan itu,” kata Washington.

     

    Pemerintah Inggris sebelumnya sudah mengeluarkan peringatan perjalanan serupa, dengan alasan, “ancaman tinggi dari terorisme, termasuk penculikan.”

     

    Kelompok militan Abu Sayyaf diduga  sekitar 18 awak kapal dari Indonesia dan Malaysia di bawah todongan senjata.

     

    Serangan dilakukan terpisah di tiga kapal tunda dalam beberapa pekan terakhir, yang memicu kekhawatiran keamanan di wilayah itu.

     

    Malaysia, Indonesia, dan Filipina berencana untuk mengadakan pertemuan para pejabat maritim awal Mei mendatang.

     

    Para pejabat itu akan membahas cara-cara meningkatkan keamanan di sepanjang perbatasan laut mereka.

     

    Termasuk juga menggunakan teknologi satelit untuk menemukan kapal yang mencurigakan dan menghentikan mereka sebelum serangan mungkin.

     

    "Kami tidak ingin melihat daerah ini menjadi Somalia baru," kata Menteri Koordinator Politik, Hukum, dan Keamanan RI,  Luhut B Panjaitan kepada kantor berita AFP, Jumat (22/4/2016).

     

    Kelompok Abu Sayyaf, yang kini diduga memiliki 400 militan bersenjata, terpecah menjadi beberapa faksi.

     

    Militan mengandalkan uang tebusan besar yang didapat dari aksi-aksi penculikan, termasuk warga AS, wisatawan Barat lainnya, dan para misionaris.

     

    Imbauan Departemen Luar Negeri AS meminta warganya untuk menunda perjalanan “non-esensial” terutama ke Kepulauan Sulu dan ujung selatan Pulau Palawan.

     

    Warga AS juga diminta berlaku “sangat hati-hati” di tempat lain di wilayah Mindanao selatan.

     

    Maret lalu, 14 WNI telah diculik di perairan terdekat. Menlu RI, Malaysia dan Filipina akan bertemu di Jakarta pada 3 Mei untuk membahas usulan Indonesia untuk patroli bersama di wilayah penculikan baru-baru ini.

     

    Inggris juga telah ancaman penculikan di kawasan wisata pantai dan tempat menyelam di Mindanao. Sementara Kanada menyarankan warganya pekan lalu untuk menghindari perjalanan ke sebagian besar wilayah Filipina.


     

    URL SUMBER
    BERITA TERKAIT
     
     
    BACA JUGA
       
       

      KOMENTAR ANDA                                                             Pedoman Mengirim Komentar

       
      KOMENTAR VIA WEBSITE                                             Pedoman Mengirim Komentar
        0 komentar

      KIRIM KOMENTAR
      Silakan LOG IN untuk memberi komentar.
       



      Copyright © 2013-2018 by FLOBAMORA NETWORK. All rights reserved.