• LINTAS FLOBAMORA
  • NASIONAL
  • INTERNASIONAL
  • LIFESTYLE
  • TRAVEL
  • BOLA
  • OPINI
  • REDAKSI
  • HUBUNGI KAMI
  • REGISTER     LOGIN      BANTUAN
    REGISTER     LOGIN      BANTUAN

    Jumat, 19 Oktober 2018

     

     
    Home   »  Nasional
     
    Pakar: Soal Tanggul Laut Raksasa, Jangan Percaya Tawaran Belanda
    ANA DEA | Minggu, 15 Mei 2016 | 10:39 WIB            #NASIONAL

    Pakar:
    Penandatanganan LOI antara Pemerintah Belanda dengan KOICA dalam rangka bantuan studi untuk program NCICD, di Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat, Jakarta, Rabu (3/9/2015). Arimbi Ramadhiani

     

    JAKARTA – Proyek reklamasi di Indonesia, khususnya di Teluk Jakarta memiliki perbedaan persepsi dari reklamasi dalam arti sesungguhnya.

     

    Reklamasi Teluk Jakarta, dinilai lebih merusak alam daripada tujuan reklamasi sebenarnya, yaitu untuk mengembalikan lahan yang sebelumnya sudah ada.

     

    Dalam diskusi mengenai National Capital Integrated Coastal Development (NCICD) terungkap bahwa reklamasi Teluk Jakarta mengubah bentang alam.

     

    Koordinator Bidang Kajian Strategis Fakultas Perikanan dan Institut Pertanian Bogor (IPB) Alan F Koropitan menegaskan, reklamasi Teluk Jakarta sejatinya bukan reklamasi, melainkan mengubah bentang alam.

     

    "Yang tidak ada pulau menjadi ada pulau. Contohnya, di Dubai, Uni Emirat Arab, itu yang tadinya tidak ada pulau menjadi ada,” ujar Alan di Goethe Institute, Jakarta, Jumat (13/5/2016).

     

    Alan menuturkan, tujuan reklamasi di negara lainnya juga berbeda dibandingkan di Indonesia dan Dubai. Di Florida, Amerika Serikat, contonya. Reklamasi dilakukan pada pantai yang sudah mengalami abrasi.

     

    Dalam hal ini, pemerintah Florida ingin mengembalikan lahan yang sebelumnya ada. Lahan tersebut telah tergerus oleh gelombang dan berangsur-angsur hilang.

     

    Pasirnya sendiri, lanjut Alan, berasal dari lepas pantai. Pasalnya, jika pasir diambil dari dekat pantai atau pulau, justru akan membuat masalah baru.

     

    Masalah ini antara lain diakibatkan dari hempasan energi gelombang yang menggerus pantai di sekitarnya.

     

    Sementara di Belanda, reklamasi dibangun berdasarkan hal lain. Belanda telah mengalami penurunan muka tanah.

     

    Sejak era 1500-1600, Belanda mulai beradaptasi dengan penurunan muka tanah yang hampir merata di seluruh pesisir.

     

    “Apa yang mereka bangun? Dyke (bendungan), tapi jebol. Kemudian dibangun lagi dan ternyata jebol lagi. Nah, sejak tahun 1900-an, Belanda bangun dyke yang menyeluruh,” sebut Alan.

     

    Hal ini, lanjut dia, menunjukkan bahwa Belanda telah mengalami proses teknologi adaptasi yang cukup panjang.

     

    Mengacu pada kasus-kasus di atas, Alan menyarankan sebaiknya pemerintah Indonesia tidak langsung percaya begitu saja dengan tawaran Belanda yang ingin membantu membangun tanggul laut raksasa di Teluk Jakarta.

     

    Pasalnya, kondisi geografis Jakarta, berbeda dengan Belanda. Sistem yang akan diterapkan juga tidak sama. 


     

    URL SUMBER
    BERITA TERKAIT
     
     
    BACA JUGA
       
       

      KOMENTAR ANDA                                                             Pedoman Mengirim Komentar

       
      KOMENTAR VIA WEBSITE                                             Pedoman Mengirim Komentar
        0 komentar

      KIRIM KOMENTAR
      Silakan LOG IN untuk memberi komentar.
       



      Copyright © 2013-2018 by FLOBAMORA NETWORK. All rights reserved.