• LINTAS FLOBAMORA
  • NASIONAL
  • INTERNASIONAL
  • LIFESTYLE
  • TRAVEL
  • BOLA
  • OPINI
  • REDAKSI
  • HUBUNGI KAMI
  • REGISTER     LOGIN      BANTUAN
    REGISTER     LOGIN      BANTUAN

    Sabtu, 15 Desember 2018

     

     
    Home   »  Ekonomi & Investasi
     
    Delapan Kecamatan di TTS belum Berlistrik
    ALBERT VINCENT REHI | Jumat, 27 Mei 2016 | 21:12 WIB            #EKONOMI & INVESTASI

    Delapan
    Pekerjaan penarikan konduktor saluran udara tegangan tinggi (SUTT) 70 kV menuju Gardu Induk Nonohonis, Kecamatan Mollo Selatan, Kabupaten Timor Tengah Selatan. (Foto : Humas PLN NTT)

     

    KUPANG, FLOBAMORA.NET  Bupati Timor Tengah Selatan (TTS) Paul V.R Mella mengtakan, sebanyak delapan Kecamatan di daerah itu hingga saat ini belum berlistrik.

     

    Bupati Mella,mengatakan itu saat peresmian beroperasinya Gardu Induk 1x20 MVA Nonohonis, dan Saluran Udara Tegangan Tinggi (SUTT) 70 kV Bolok-Maulafa-Naibonat-Nonohonis, Selasa ( 24/5) lalu.

     

    Peresmian pengoperasian dilakukan oleh Direktur Bisnis PLN Regional Sulawesi dan Nusa Tenggara PT PLN (Persero), Machnizon Masri, didampingi General Manager Unit Induk Pembangunan XI, Octovianus Padudung, dan General Manager PLN Wilayah NTT, Richard Safkaur. Juga hadir pejabat dari Kabupaten Kupang, Wakil Bupati Kabupaten Timor Tengah Utara dan Sekretaris Daerah Kabupaten Belu.

     

    Bupati Paul Mella, menyambut gembira dan bangga dengan beroperasinya Gardu Induk Nonohonis, dan SUTT dari Bolok, Kabupaten Kupang hingga Nonohonis di TTS,  yang dengan sendirinya akan memberikan pelayanan kelistrikan yang lebih baik bagi masyarakat di kabupaten itu yang berhawa sejuk di Pulau Timor, dan sebagai daerah penghasil utama jeruk keprok, jagung dan ternak sapi.

     

    Dia mengatakan, daerah yang berjarak sekitar 110 kilometer arah timur Kota Kupang ini, menyimpan banyak potensi yang memikat para investor untuk berinvestasi.

     

    Sayangnya, sambung Melle, kapasitas listrik di Kota SoE dan sekitarnya hanya tersedia 5,4 MW, sehingga menjadi tantangan bagi aktivitas investasi. Dan saat ini masih ada sekitar delapan kecamatan yang sama sekali belum berlistrik, kecuali satu kecamatan yakni Kecamatan Kuanfatu yang sudah ada jaringan listrik dan tinggal  menunggu masuknya arus listrik.

     

    “Kami bisa memahami tentu ada banyak faktor yang menyebabkan belum semua daerah di TTS yang bisa terlayani listrik, tetapi dengan kehadiran Gardu Induk dan SUTT hingga Nonohonis, semoga bisa ada percepatan, sehingga warga di delapan kecamatan juga sudah bisa menikmati listrik,” ujarnya.

     

    Kecamatan di TTS yang belum berlistrik, yakni,  Kecamatan Nunbena dengan luas wilayah 198,65 Km2 berjarak 70 km dari Kota SoE, memiliki empat desa dengan jumlah penduduk pada tahun 2011 sebanyak 5.179 jiwa. Kecamatan Mollo Barat dengan luas wilayah 198,65 Km2, hanya 45 km dari kota SoE, terdoro dari lima desa dihuni 7.641 jiwa. Kecamatan Noebeba dengan ibukotanya di Noebana dengan luas wilayah 198,65 Km2, 71 km dari SoE berpenduduk 4.755 jiwa tersebar di empat desa.

     

    Kecamatan Fatukopa beribukota di Nunfutu dengan luas wilayah 198,65 Km2, 77 km dari kota SoE, memiliki empat desa dengan penduduk sebanyak 5.095 jiwa. Kecamatan Kot'Olin beribukota di Hoibeti, terdiri dari delapan desa  dengan luas wilayah 198,65 Km2, dihuni 11.345 jiwa, berjarak 55 km dari SoE. Kecamatan Noebana, luas Wilayah 49,63 Km2 terdiri dari empat desa, dihuni penduduk sebanyak 4755 jiwa. Kecamatan Santian, luas wilayahnya 198,65 Km2, berjarak 71 km dari SoE, memiliki empat  desa yang dihuni 6.605 jiwa.

     

    Terakhir, Kecamatan Kuanfatu dengan luas wilayah 198,65 Km2, berjarak 42 km dari SoE berpenduduk 19.353 jiwa tersebar di tujuh  desa. Jaringan listrik sudah dibangun, tinggal menunggu pasokan listrik.

     

    General Manager PLN Wilayah NTT, Richard Safkaur, mengakui masih banyak daerah di NTT yang belum menikmati listrik. Saat ini, katanya, rasio elektrifikasi NTT baru sebesar 58%, atau masih 42% yang belum berlistrik. Rasio elektrifikasi Kabupaten TTS hingga tahun 2015 sebesar 44,25%.

     

    “Untuk itu PLN Wilayah NTT terus berupaya mendapatkan tambahan anggaran dari APBN maupun Anggaran PLN, untuk terus menambah kapasitas pembangkit dan perluasan jaringan ke wilayah-wilayah yang belum berlistrik,” kata Safkaur.

     

    Direktur Bisnis Regional Sulawesi dan Nusa Tenggara PT PLN (Persero), Machnizon, mengatakan PLN memberi target sekitar tahun 2019 rasio elektrifikasi di NTT sudah mencapai 95%. Upaya menuju arah tersebut, katanya, saat ini PLN telah mengalokasikan tambahan pembangunan pembangkit, baik dari lanjutan program 10.000 mega watt (MW) maupun program 35.000 MW. Di antaranya tambahan PLTU IPP 2x15 MW dan Kapal Listrik 60 MW yang akan memperkuat Sistem Timor.

     

    Machnizon mengatakan  Provinsi NTT mendapatkan tambahan pembangkit listrik tersebar dengan total sebesar 225 MW yang meliputi Kupang 140 MW, Rote 5 MW, Alor 10 MW, Maumere 40 MW, Labuan Bajo 20 MW dan Waingapu 10 MW. Pembangunannya direncanakan sampai dengan tahun 2019.

     

    Sedangkan untuk meningkatkan Rasio Elektrifikasi provinsi NTT yang saat ini sekitar 58% dan target di tahun 2019 menjadi 80%  Pemerintah melalui Kementerian ESDM akan melaksanakan “Program Indonesia Terang” (PIT) dimana NTT mendapat alokasi 35 MW. Program tersebut untuk menjangkau daerah-daerah terisolir yang belum terlistriki oleh PLN.***


     

    URL SUMBER
    BERITA TERKAIT
     
     
    BACA JUGA
       
       

      KOMENTAR ANDA                                                             Pedoman Mengirim Komentar

       
      KOMENTAR VIA WEBSITE                                             Pedoman Mengirim Komentar
        0 komentar

      KIRIM KOMENTAR
      Silakan LOG IN untuk memberi komentar.
       



      Copyright © 2013-2018 by FLOBAMORA NETWORK. All rights reserved.