• LINTAS FLOBAMORA
  • NASIONAL
  • INTERNASIONAL
  • LIFESTYLE
  • TRAVEL
  • BOLA
  • OPINI
  • REDAKSI
  • HUBUNGI KAMI
  • REGISTER     LOGIN      BANTUAN
    REGISTER     LOGIN      BANTUAN

    Rabu, 21 Februari 2018

     

     
    Home   »  Travel
     
    Mengenang Jejak Putra Sang Fajar
    ALEX | Rabu, 08 Juni 2016 | 12:09 WIB            #TRAVEL

    Mengenang
    Wakil Butai Ende H.Djafar Achmad menyerahkan Lambang Garuda kepada Bupati Marselinus Y.W Petu pada acara Pawai Kebangsaan di Ende (Foto : Huimas Pemkab Ende)

     

    UNTUK ketiga kalinya pemerintah dan masyarakat Kabupaten Ende menggelar Parade Kebangsaan menjelang peringatan Hari Lahir Pancasila setiap tanggal 1 Juni. Ende telah memberikan spirit kebangsaan bagi Republik Indonesia.

     

    Selasa, 31 Mei 2016  siang, suasana Pelabuhan Bung Karno di Kota Ende, Nusa Tenggara Timur (NTT)  sangat meriah. Warga tumpah ruah di area pelabuhan itu.  Suara musik bergema di sepanjang pantai yang bersumber dari pengeras suara. Lagu-lagu perjuangan yang diputar pun memecahkan keheningan.

     

    Maklum siang itu untuk ketiga kalinya, pemerintah dan masyarakat Kabupaten Ende menggelar Pawai Kebangsaan menjelang peringatan Hari Lahir Pancasila 1 Juni 2016.    

     

    Menyebut Kota Ende, tak dapat dipisahkan dengan nama besar Sukarno atau Bung Karno. Di kota sunyi inilah pada tahun 1934-1938 Bung Karno diasingkan oleh pemerintah Hindia Belanda. Meski jauh dari hiruk pikuk politik saat itu, justru di kota pesisir selatan Pulau Flores ini, Bung Karno mendapat inspirasi sehingga lahirlah Pancasila.

    Kota Ende tak akan pernah melupakan Bung Karno. Oleh karena itu untuk mengenang nama besar Bung Karno wajib dilakukan warga Ende. Parade Kebangsaan jawabannya yang digelar setiap tahun untuk memperingati Hari Kelahiran Pancasila.

     

    Wakil Bupati Ende Djafar Achmad dan Ketua DPRD NTT Anwar Pua Geno yang menumpang KRI Untung Surapati  memimpin rombongan parade laut yang diikuti sekitar 120 perahu menyentuh Pulau Flores.

    Lambang Garuda Pancasila dibawa turun dari kapal. Kedatangan rombongan parade laut disambut oleh Bupati Ende Marselinus Y.W Petu dan jajaran Forkopimda serta ribuan warga yang sangat gembira mengikuti acara itu.

     

    Bupati Marsel saat menerima peserta parade laut mengatakan Kabupaten Ende memiliki peran sangat strategis dalam perjalanan sejarah bangsa ini karena dari Kota Ende idelogi bangsa yakni Pancasila tumbuh. “Tanpa Kota Ende ideologi bangsa Indonesia belum tentu ada,” ujarnya yang langsung disambut tepuk tangan warga yang hadir.

     

    Dia mengatakan, Ende sudah memberikan spirit kebangsaan bagi Republik Indonesia. Spirit itu tampak dalam keberadaan Bapak Bangsa Soekarno ketika diasingkan ke Ende dan menemukan butir-butir Pancasila.Karena itu tidak mengherankan jika  event bertemakan kebangsaan ini sudah berakar kuat dalam sejarah panjang RI khususnya sejarah keberadaan Soekarno  ketika berada di Ende.

     

    "Keberadaan di Ende adalah sebuah fakta sejarah yang tak terbantahkan dan sangat berarti bagi Indonesia. Ende dengan dinamika kehidupan sosial budaya telah memberikan spirit yang istimewa bagi Bung Karno dan bagi Indonesia," tuturnya.

     

    Tema besar Parade Kebangsaan Pancasila Rumah Kita dari Ende untuk Indonesia mau mengenangkan kembali Putra Sang Fajar di Kota Ende melalui ide kebangsaannya.Nilai kebangsaan, perbedaan dalam kebersamaan, nasionalisme menjadi bagian keseharian masyarakat Kabupaten Ende pada khususnya dan Indonesia pada umumnya. Untuk itu masyarakat kabupaten Ende harus terus mengenangkan Bung Karno melalui Parade Kebangsaan ini.

     

    Seperti yang disaksikan, Parade Kebangsaan mengambil titik start dari Pulau Ende. Sekitar 120 perahu motor,dan tiga speed boat dikawal KRI Untung Surapati menuju Pelabuhan Bung Karno.

     

    Saat di Pelabuhan Bung Karno,rombongan disambut dengan Tarian Orowoko dari Sanggar Wonga Pora Ende didampingi tiga etnis yakni Jawa, Bali dan Sabu. Di sini dilakukan penyerahan Plakat Burung Garuda dan Bendera Merah Putih serta Lambang Daerah.

     

    Narasi tentang Soekarno ketika pertama kali tiba di Pelabuhan Ende ketika itu dibacakan dan selanjutnya sapaan Bupati Ende dan dilanjutkan menyanyikan lagu Ende "Deku Dengu".

     

    Dari Pelabuhan Bung Karno peserta  menuju Markan Detasemen PM Ende tempat tahanan politik  di zaman itu. Disini  rombongan diterima dengan tarian dari kelompok etnis Batak didampingi etnis Sumba dan Rote Ndao juga dilakukan penerimaan secara militer.Narasi tentang Bung Karno yang melaporkan diri di Markas Polisi Militrer juga dibacakan.  

     

    Selanjutnya menuju situs Bung Karno di Jalan Perwira. Di situs Bung Karno disambut dengan tarian etnis Sikka bersama etnis Alor dan Kupang. Di sini juga dibacakan narasi tentang keberadaan Soekarno bersama keluarga selama menjalani masa pengasingan.

     

    Setelah sholat dzuhur di Masjid Babul Fath dengan mengambil wudhu di rumah pengasingan peserta menuju Gedung Imakulata diterima oleh etnis Tionghoa, Belu dan Ngada serta menyaksikan tonil di Gedung Imakulata.

     

    Dari Gedung Imakulata prosesi menuju ke makam Ibu Amsi, ibu mertua Bung Karno.Di tempat ini diterima etnis Nagekeo bersama Manggarai dan Arab. Setelah melakukan tahlilan di makam Ibu Amsi peserta parade menuju Pohon Sukun di sebelah barat Lapangan Pancasila dan diletakannya plakat Lambang Garuda, Bendera Merah Putih dan Lambang Daerah. Di tempat ini peserta dijemput etnis Sabu. 

     

    Pelaksanaan Prosesi Kebangsaan menjelang peringatan Hari Lahir Pancasila 1 Juni 2016 tahun ini tampaknya berbeda dengan tahun sebelumnya. Tahun ini, prosesi yang dimulai dari Pulau Ende, pada Selasa dikawal sebuah kapal perang yakni KRI Untung Surapati yang sudah berada di Pelabuhan Bung Karno sejak Senin (30/5). 

     

    Pada malam sebelum proses laut akan dilakukan dzikir atau deba bersama warga Pulau Ende. Kemudian pagi harinya bergerak untuk mengikuti Parade Kebangsaan menuju Pelabuhan Bung Karno.

     

    Itulah Kota Ende. Kota yang ikut mewarnai sejarah perjuangan bangsa ini. Dari kota ini ilham tentang Pancasila tercetus oleh Bung Karo, selama masa pengasingannya menggali inspirasi dari kota pelabuhan ini. Bahkan Gubernur NTT Frans Lebu Raya sendiri telah menggagas mulai tahun depan menggelar Soekarno Week di Ende, sebagai pengejawantahan kecintaan akan Sang Proklamator Kemerdekaan Indonesia itu.  ***

     
    BERITA TERKAIT
     
     
    BACA JUGA
       
       

      KOMENTAR ANDA                                                             Pedoman Mengirim Komentar

       
      KOMENTAR VIA WEBSITE                                             Pedoman Mengirim Komentar
        0 komentar

      KIRIM KOMENTAR
      Silakan LOG IN untuk memberi komentar.
       



      Copyright © 2013-2018 by FLOBAMORA NETWORK. All rights reserved.