• LINTAS FLOBAMORA
  • NASIONAL
  • INTERNASIONAL
  • LIFESTYLE
  • TRAVEL
  • BOLA
  • OPINI
  • REDAKSI
  • HUBUNGI KAMI
  • REGISTER     LOGIN      BANTUAN
    REGISTER     LOGIN      BANTUAN

    Kamis, 02 April 2020

     

     
    Home   »  Ekonomi & Investasi
     
    Bank NTT dan Isu Perubahan Iklim
    ALBERTUS VINCENT REHI | Senin, 10 Oktober 2016 | 14:40 WIB            #EKONOMI & INVESTASI

    Bank
    Direktur Utama Bank NTT Daniel Tagu Dedo

     

    Isu perubahan iklim membutuhan perhatian semua kalangan. Masalah ini kian membumi, sehingga membutuhkan berbagai kebijakan dan implementasi program yang berorientasi ramah lingkungan.

     

    Masalah yang satu ini pun menjadi perhatian Bank NTT.Dalam tiga tahun terakhir bank ini peduli terhadap isu lingkungan terutama perubahan iklim yang terjadi di Nusa Tenggara Timur (NTT).

     

    Menyikapi masalah ini, Bank NTT bekerjasama dengan United Nation Development Program (UNDP) melalui program Strategic Planning and Acton to strengthen climate resilience of Rural Communities (SPARC), turut terlibat dan concern terhadap masalah perubahan iklim.

     

    Direktur Utama Bank NTT, Daniel Tagu Dedu, saat dengar pendapat dengan Komisi 3 DPRD NTT, Kamis 15 September 2016 lalu  mengatakan, keterlibatan bank ini, dalam Program financial inklusif yang diaplikasikan dalam project energi terbarukan bekerjasama dengan UNDP.  

     

    “Saat ini Bank NTT telah membiayai secara komersil proyek-proyek energi terbarukan di beberapa tempat di NTT. Project itu seperti Micro Hidro, PLTS dan beberapa proyek bio massa, “ ujarnya.

     

    Bank NTT bersama UNDP telah membiayai bersama dua project mikro hidro di Kabupaten Manggarai Timur dan di Kabupaten Sumba Timur dengan menggunakan pendekatan cost sharing. “Jadi kami sangat fokus dengan masalah ini. ini adalah komitemen bersama beberapa negara besar termasuk Indonesia. Kita sangat konsern, “ paparnya. 

     

    Menurutnya, berbicara tentang perubahan iklim harus dilakukan secara bersama-sama, tidak bisa dilakukansecara sendiri-sendiri sehingga Bank NTT bersama UNDP dan Pemerintah Kabupaten Manggarai Timur dan Kabupaten Sumba Timur   melibatkan masyarakat setempat.

     

    Keterlibatan Bank NTT dalam masalah perubahan iklim, Bank NTT telah diundang dalam acara yang diselenggarakan PBB. Undangan ini dikarenakan, Bank NTT sebagai bank pembangunan daerah yang fokus dan konsentrasi terhadap masalah perubahan iklim.

     

    Kecuali itu, masyaarakat yang berkeinginan dan mempunyai sensitifitas terhadap masalah perubahan iklim dapat mengakses bantuan dari Bank NTT dengan cara mengajukan proposal ke Bank NTT dengan tembusan kepada UNDP di Jakarta.

     

    Sementara itu Nasional Project Manager SPARC, Fransiska Sugi, mengatakan, kerjasama Bank NTT  dengan SPARC khusus untuk menyalurkan dana ke masayarakat. Pasalnya, dana program SPARC di desa-desa ditransfer langsung  dari UNDP ke Bank NTT.

     

    Malah,  dengan bantuan dana Coorporate Social Responsibility ( CSR) dari Bank NTT saat ini, wilayah kerja SPARC telah bertambah menjadi tiga kabupaten. Sebelumnya wilayah SPARC hanya di Kabupaten Sabu Raijua dan Sumba Timur, kini sudah bertambah dengan Manggarai Timur.

     

    Konsentrasi projek SPARC adalah di bidang adaptasi perubahan iklim dengan tiga fokus areanya adalah ketahanan pangan, pertanian air dan mata pencaharian. Selain itu, terdapat program penguatan kapasitas bagi mahasiswa, media, pemerintah provinsi, pemerintah kabupaten dan juga DPRD.

     

    Projek SPARC ini dikhususkan kepada desa yang rentan pada perubahan iklim. Saat ini yang sedang dijalankan adalah terkait masalah kebutuhan air menggunakan teknologi pompa air dengan menggunakan tenaga surya. Selain memberikan bantuan berupa teknologi pompa air, SPARC juga memberikan penguatan kapasitas kepada masyarakat di desa tentang jaringan air, bagaimana cara pengelolaan air yang baik.

     

    “SPARC memang konsentrasi khususnya pada meningkatkan ketahanan  masyarakat terhadap perubahan iklim sehingga masyarakatnya lebih tangguh sehingga project SPARC khusus kepada desa yang rentan terhadap perubahan iklim, “ ujarnya.

     

    Kata dia, sebelum menentukan desa yang rentan terhadap perubahan iklim, UNDP terlebih dahulu melakukan kajian. Jika dilihat desa yang sangat rentan menuju ke arah rentan akan diintervensi.

     

    Kepedualian Bank NTT ini mendapat apresiasi Kepala Bappeda Provinsi NTT, Wayan Darmawa. Menurut  Wayan, Bank NTT adalah bank pertama yang menggunakan dana CSR  mendukung kebijakan kegiatan adaptasi perubahan iklim yang bekerjasama dengan UNDP.

     

    Bank NTT pun diundang PBB untuk mempresentasikan bagaimana cara pandang Bank NTT mendukung kebijakan kegiatan adapatasi perubahan iklim. “Jadi ini pertama kali di Indonesia bank telibat dalam kebijakan kegiatan adaptasi perubahan iklim dengan dana CSR. Jadi di Indonesia pasti yang pertama kali kerjasama CSR Bank mendukung kebijakan kegiatan UNDP dalam adaptasi perubahan iklim, “ ujar Wayan.

     

    Wayan mengharapkan, kebijakan Bank NTT dengan dana CSR dapat diikuti lembaga-lembaga keuangan lainnya sehingga masalah perubahan iklim ini dapat dilihat sebagai masalah bersama untuk pengembangan adaptasi perubahan iklim.***

     
    BERITA TERKAIT
     
     
     
     

    KOMENTAR ANDA                                                             Pedoman Mengirim Komentar

     
    KOMENTAR VIA WEBSITE                                             Pedoman Mengirim Komentar
      0 komentar

    KIRIM KOMENTAR
    Silakan LOG IN untuk memberi komentar.
     



    Copyright © 2013-2020 by FLOBAMORA NETWORK. All rights reserved.