• LINTAS FLOBAMORA
  • NASIONAL
  • INTERNASIONAL
  • LIFESTYLE
  • TRAVEL
  • BOLA
  • OPINI
  • REDAKSI
  • HUBUNGI KAMI
  • REGISTER     LOGIN      BANTUAN
    REGISTER     LOGIN      BANTUAN

    Selasa, 13 November 2018

     

     
    Home   »  Lintas Flobamora
     
    Ray Fernandez dan Penanganan Buruh Migran
    ALBERTUS VINCENT REHI/ALEX | Rabu, 07 Desember 2016 | 14:43 WIB            #LINTAS FLOBAMORA

    Ray
    Bupati TTU Raymundus S. Fernandes

     

    Maraknya kasus human trafficking  (perdagangan orang) di Nusa Tenggara Timur (NTT) belakangan ini sangat memprihatinkan. Tak jarang  tenaga kerja asal daerah ini diperlakukan tidak manusiawi. Bahkan ada yang sampai meninggal dunia dan jazad dipulangkan ke kampung halamannya dengan kondisi tubuh penuh jahitan.

     

    Realita ini pun ikut membuat gundah Bupati Timor Tengah Utara (TTU), Raymundus Sau Fernandez. Bupati TTU dua periode ini kerap menyeringkan pengalaman dalam menangani masalah buruh migran melalui Koalisi Gereja Peduli Migran Perantau, antara lain TKI atau TKW dan masalah human trafficking (perdagangan orang) yang marak di NTT saat ini.

     

    Bupati Raymundus menegaskan, pemerintah berperan besar untuk menangani para buruh migran dari keberangkatan sampai mereka pulang bahkan sampai mereka memiliki usaha di kampung mereka. Menurutnya, ada mafia besar dalam buruh migran dan dirinya menyatakan siap memberantas mafia ini.

     

    “Kasus human trafficking semakin meningkat dan dalam tiga bulan terakhir adan tiga korban buruh migran asal TTU yang meninggal di Malaysia. Saya sangat prihatin dengan kasus kematian di negeri jiran tersebut sehingga mendorong saya untuk gencar melakukan sosialisasi tentang kasus human trafficking,” katanya.

     

    Salah satu korban TKW di Malaysia, adalah Dolfina Abuk yang meninggal dengan kondisi tubuh peuh jahitan. Melihat kondisi jazad Dolfina Abuk ini, Bupati Raymundus langsung bertindak tegas untuk membentuk tim khusus demi mengusut tuntas kasus ini dan menghentikan sementara pengiriman tenaga kerja ke luar negeri.

     

    “Niat untuk memerangi human trafficking ini adalah murni karena panggilan nurani. Hal inilah yang membuat saya rela berkeliling dari desa ke desa. Masyarakat perlu disadarkan tentang hal ini. Banyak isteri tinggalkan suami dan suami tinggalkan isteri hanya untuk menjadi TKW dan TKI kemudian pulang dengan HIV dan AIDS,” katanya.

     

    Selanjutnya Bupati Raymundus mengungkapkan, dalam upaya untuk memerangi human trafficking, ada banyak tantangan muncul. Dirinya pernah diancam untuk dibunuh dan ditawarkan sejumlah uang. Namun karena komitmennya pada kemanusiaan dan kecintaan pada rakyatnya, bupati tidak takut dan gentar dengan semua ancaman dan menolak sejumlah tawaran meskipun sangat menggiurkan.

     

    “Untuk memerangi human trafficking tidak mudah. Banyak tantangan dan godaan. Saya pernah diteror dan ditawarkan sejumlah uang. Namun saya tidak takut dan tergiur dengan semua tawaran itu. Hanya satu komitmen saya, saya lakukan semua ini karena rasa cinta dan keselamatan rakyat saya,” ujarnya

     

    Ia menjelaskan, ada sejumlah solusi dilakuka untuk menyiapkan tenaga kerja berkualitas yang siap untuk dengan baik, salah satu satunya dengan membangun balai latihan kerja (BLK). Timnya mendata sejumlah tenaga kerja yang berminat dan mereka dilatih secara intensif oleh instruktur yang berkompeten di bidangnya.

     

    Bupati Raymundus juga berkoalisi dengan Gereja untuk memberikan penyadaran dan bimbingan rohani kepada para tenaga kerja. Bupati berharap, mudah- mudahan dengan adanya BLK ini, di tahun 2018 mampu menghasilkan tenaga kerja yang terampil dan juga siap secara mental.

     

    Koordinator Sosial Serikat Yesus, Romo Beni Hari Juliawan SJ mengatakan, sosialisasi tentang migrasi ini harus berawal dari desa. Menurutnya, desa merupakan awal dan akhir proses migrasi.

     

    Menurut Romo Beny, dibutuhkan komitmen bersama dan tegas untuk menangani buruh migran ini. Masalah buruh migran ini banyak terjadi di NTT. Karena itu NTT merupakan daerah yang menjadi fokus untuk memerangi masalah buruh migran ini.

     

    “Kami punya koneksi dengan rumah perlindungan Kementerian Soial (Kemensos). Setiap kali ada TKI yang dideportase ditampung di Kemensos, kebanyakan orang NTT. Hampir sebulan sekali ada korban. Fokus untuk memerangi masalah buruh migran ke NTT ini, awalnya bersifat emosional. Kenapa NTT selalu jadi korban?,” kata Romo Beny.

     

    Masalah buruh migran tidak akan selesai kalai hanya omong. Butuh komitmen bersama dan tindakan nyata dan tegas serta membutuhkan meran semua pemangku kepentingan..***


     
    BERITA TERKAIT
     
     
    BACA JUGA
       
       

      KOMENTAR ANDA                                                             Pedoman Mengirim Komentar

       
      KOMENTAR VIA WEBSITE                                             Pedoman Mengirim Komentar
        0 komentar

      KIRIM KOMENTAR
      Silakan LOG IN untuk memberi komentar.
       



      Copyright © 2013-2018 by FLOBAMORA NETWORK. All rights reserved.