• LINTAS FLOBAMORA
  • NASIONAL
  • INTERNASIONAL
  • LIFESTYLE
  • TRAVEL
  • BOLA
  • OPINI
  • REDAKSI
  • HUBUNGI KAMI
  • REGISTER     LOGIN      BANTUAN
    REGISTER     LOGIN      BANTUAN

    Kamis, 04 Juni 2020

     

     
    Home   »  Lintas Flobamora
     
    Diduga Timbun Minyak Tanah, Warga Protes Pemilik Pangkalan
    VICKY DA GOMEZ | Jumat, 03 Maret 2017 | 15:06 WIB            #LINTAS FLOBAMORA

    Diduga
    Sejumlah warga masyarakat di Jalan Brai Kelurahan Nangameting, Jumat (3/3), protes karena pemilik pangkalan minyak tanah tidak mau melayani kebutuhan minyak tanah, diduga pemilik pangkalan melakukan penimbunan;

     

    MAUMERE,FLOBAMORA.NET – Puluhan warga di Jalan Brai Kelurahan Nangameting, Jumat (3/3), melakukan protes kepada Fransiskus Burhan pemilik sebuah pangkalan minyak tanah di tempat itu. Pasalnya, pangkalan ini tidak mau melayani pembelian minyak tanah dari warga sekitar. Diduga yang bersangkutan sedang menimbun minyak tanah untuk dijual ke pengusaha atau kontraktor dengan harga yang lebih tinggi.
           

    Pangkalan minyak tanah ini disatukan dengan kios. Di dalam kios tidak terlalu banyak barang yang dijual. Di salah satu sudutnya terapat 3 drom minyak tanah, masing-masing berukuran 200 liter. Sementara itu di bagian depan, telihat sejumlah jeriken minyak tanah yang diikat menjadi satu. Diduga jeriken ini sudah dititipkan oleh orang lain.
           

    Jumat (3/3) pagi itu warga beramai-ramai mendatangi pangkalan dengan menenteng jeriken minyak tanah ukuran 5 liter. Warga mengetahui stok minyak tanah di pangkalan tersebut sedang banyak, karena beberapa saat sebelumnya sebuah mobil tangki berisikan minyak tanah milik PT Rovin Jaya baru saja mensuplai.

    Persoalan mulai mencuat ketika Fransiskus Burhan menolak melayani pembelian minyak tanah dengan alasan stok tidak ada. Jawaban ini membuat warga curiga. Bernadus Rata, seorang tetangga yang pagi itu juga hendak membeli minyak tanah mengaku kaget dengan jawaban pemilik pangkalan. Dia pun menduga pemilik pangkalan sedang menimbun minyak tanah untuk dijual dengan harga yang lebih tinggi.

    “Selama ini dia tidak pernah melayani masyarakat di sekitar sini. Saya ikuti ternyata dia lebih suka menjual kepada salah satu orang yang tinggal di dekat Patung Teka Iku. Ada apa ini? Pantasan selama ini minyak tanah langka, padahal ada praktik penimbunan,” ungkap Bernadus Rata kecewa.

    Informasi tentang ini cepat berkembang luas. Sejumlah aparat polisi langsung mendatangi lokasi pangkalan minyak tersebut. Agar persoalan tidak meluas, polisi meminta Fransiskus Burhan untuk melayani pembelian minyak tanah kepada masyarakat sekitar. Awalnya dia menolak, tetapi akhirnya dia setuju dengan harga Rp 5.000 per liter.

    Masyarakat pun makin kesal dengan harga penjualan. Karena sesuai aturan pemerintah, harga eceran tertinggi (HET) sebesr Rp 4.000 per liter. Apalagi di depan kios tersebut tertulis jelas HET minyak tanah senilai Rp 4.000 per liter. Meski demikian masyarakat tidak keberatan, karena buat mereka yang penting kebutuhan minyak tanah terpenuhi.

    “Berapa saja dia jual pasti kami beli, karena kami sangat butuh. Tetapi selama ini jika usai supplay dari mobil tangki dia tidak pernah layani masyarakat di sini. Bahkan dia punya tetangga yang paling dekat saja harus cari minyak tanah di pangkalan yang lain,” tutur Bernadus Rata.

    Belum sempat pemilik pangkalan melayani pembelian minyak tanah kepada warga sekitar, tiba-tiba datang istri Fransiskus Burhan. Pegawai negeri pada salah satu kantor di Pemkab Sikka ini malah mengusir semua warga yang ada di situ. Dia mengatakan tidak akan melayani pembelian, dengan alasan suaminya sedang sakit stroke.

    Kondisi ini kian memperuncing situasi. Masyarakat tidak menerima alasan tersebut, dengan alibi kalau sedang sakit stroke kenapa yang bersangkutan disuruh menjaga kios. Terjadi perdebatan yang seru antara istri pemilik pangkalan dengan Bernadus Rata dan sejumlah warga masyarakat.

    Kepala SPK Polres Sikka Vincent Tani kemudian mengambil alih  persoalan ini. Dengan mempertimbangkan kondisi kesehatan Fransiskus Burhan serta kesibukan istrinya yang bekerja sampai sore, masyarakat diminta bersabar.

    Vincent Tani meminta pengertian baik pemilik pangkalan untuk melayani kebutuhan minyak tanah bagi warga masyarakat sekitar. Akhirnya disepakati pelayanan pembelian kepada masyarakat dilaksanakan pada pukul 18.00 Wita petang nanti. Setelah mendapat solusi, masyarakat pun membubarkan diri.***


     
    BERITA TERKAIT
     
     
     
     

    KOMENTAR ANDA                                                             Pedoman Mengirim Komentar

     
    KOMENTAR VIA WEBSITE                                             Pedoman Mengirim Komentar
      0 komentar

    KIRIM KOMENTAR
    Silakan LOG IN untuk memberi komentar.
     



    Copyright © 2013-2020 by FLOBAMORA NETWORK. All rights reserved.