• LINTAS FLOBAMORA
  • NASIONAL
  • INTERNASIONAL
  • LIFESTYLE
  • TRAVEL
  • BOLA
  • OPINI
  • REDAKSI
  • HUBUNGI KAMI
  • REGISTER     LOGIN      BANTUAN
    REGISTER     LOGIN      BANTUAN

    Jumat, 04 Desember 2020

     
    Home   »  Lintas Flobamora
     
    Terlibat Korupsi, Mantan Bendahara Setda Rote Ndao Ditahan
    REDEMPTUS L | Senin, 06 Maret 2017 | 21:49 WIB            #LINTAS FLOBAMORA

    Terlibat
    Suasana pemeriksaan terhadap mantan bendahara umum pada Sekretaris Daerah (Setda) Kabupaten Rote Ndao, Senin (6/3)

     

     

    KUPANG,FLOBAMORA.NET- Jeskiel Faah mantan bendahara umum pada Sekretaris Daerah (Setda) Kabupaten Rote Ndao, Senin (6/3) secara resmi ditetapkan sebagai tersangka dalam kasus dugaan korupsi tanah hibah seluas 13 Hektare di Nee, Desa Sanggoen Kecamatan Lobalain Kabupaten Rote Ndao tahun 2015 senilai Rp 229 juta.

     

    Jeskiel ditetapkan sebagai tersangka setelah menjalani pemeriksaan oleh tim penyidik Tindak Pidana Khusus (Tipidsus) Kejaksaan Negeri (Kejari) Kabupaten Rote Ndao.

     

    Pemeriksaan yang dilakukan oleh Tipidsus Kejari Kabupaten Rote Ndao sejak pukul 10:00 Wita hingga pukul 17:00 wita di Kejari Kota Kupang oleh Kasi Pidsus Kejari Kabupaten Rote Ndao, Yanuar, Frangky Radja dan Alexander Selle.

     

    Kasi Pidsus Kejari Kabupaten Rote Ndao, Yanuar di Kejari Kota Kupang mengaku, Jeskiel ditetapkan sebagai tersangka dalam kasus hibah tanah seluas 13 Hektare tahun 2005 senilai Rp 229 juta.

     

    Menurut Yanuar, awalnya pemerintah tidak memiliki lahan sehingga dikucurkan dana senilai Rp 229 juta untuk membeli tanah milik warga Nee, Desa Sanggoen Kecamatan Lobalain Kabupaten Rote Ndao seluas 13 Ha.

     

    Namun, kata Yanuar, dalam proses pembayaran tanah kepada pemilik lahan, tersangka membuat kwitansi fiktif soal harga jual lahan kepada pemilik lahan.

     

    "Ada kwitansi fiktif soal harga jual beli tanah yang dibuat tersangka kepada pemilik lahan," kata Yanuar.

     

    Yanuar mengatakan, berdasarkan fakta yang terjadi uang yang diterima oleh pemilik lahan tidak sesuai dengan kesepakatan harga antara pemerintah dan pemilik lahan.

     

    "Uang yang diterima pemilik lahan tidak sesuai dengan harga yang disepakati. Contoh seharusnya mereka terima Rp 10 juta sesuai luas tanah tapi dibayar cuman Rp 2 juta," ujarYanuar.

     

    Dalam kasus itu, tambahnya, akibat perbuatan tersangka negara mengalami kerugian sebesar Rp 129 juta dalam kasus tanah hibah seluas 13 Hektare di Nee, Desa Sanggoen Kecamatan Lobalain Kabupaten Rote Ndao.

     

    Terpantau, sebelum ditahan tersangka diperiksa oleh Kasi Pidsus Kejari Rote Ndao, Yanuar. Saat diperiksa tersangka didampingi kuasa hukumnya, Paul Seran Tahu dan Marthen Bessi.

     

    Usai jalani pemeriksaan tersangka langsung digiring menuju Rutan Klas II B Kupang menggunakan mobil tahan Kejari Kota Kupang untuk dilakukan penahanan selama 20 hari kedepan.***


     
    BERITA TERKAIT
     
     
     
     

    KOMENTAR ANDA                                                             Pedoman Mengirim Komentar

     
    KOMENTAR VIA WEBSITE                                             Pedoman Mengirim Komentar
      0 komentar

    KIRIM KOMENTAR
    Silakan LOG IN untuk memberi komentar.
     



    Copyright © 2013-2020 by FLOBAMORA NETWORK. All rights reserved.