• LINTAS FLOBAMORA
  • NASIONAL
  • INTERNASIONAL
  • LIFESTYLE
  • TRAVEL
  • BOLA
  • OPINI
  • REDAKSI
  • HUBUNGI KAMI
  • REGISTER     LOGIN      BANTUAN
    REGISTER     LOGIN      BANTUAN

    Senin, 24 Januari 2022

     
    Home   »  Lintas Flobamora
     
    Darurat Pangan Jelang Suksesi
    VICKY DA GOMEZ | Minggu, 15 Oktober 2017 | 15:19 WIB            #LINTAS FLOBAMORA

    Darurat
    Fabiana Tensi sedang menggali ubi hutan pada kebun yang terletak di dekat rumahnya;

     

     

    Di tengah kesibukan menyambut perhelatan politik menjelang Pilbup Sikka Tahun 2018, sebuah kabar buruk mendera Kabupaten Sikka. Warga masyarakat di daerah ini, disebut-sebut sedang mengalami krisis pangan. Tak pelak, pada Rabu (4/10), Bupati Sikka Yoseph Ansar Rera pun menerbitkan pernyataan darurat pangan.

               

    Sampai dengan awal Oktober 2017, data pada Dinas Ketahahan Pangan Kabupaten Sikka menyebutkan setidaknya terdapat 7.151 kepala keluarga yang diidentifikasi mengalami krisis rawan pangan. Warga masyarakat itu tersebar pada 33 desa di 11 kecamatan. Kabupaten Sikka sendiri memiliki 147 desa ditambah 13 kelurahan dengan 21 kecamatan. Dinas Ketahahan Pangan sedang melakukan identifikasi ulang untuk mendapatkan data yang riil.

               

    Di antara warga yang dlaporkan tersebut, terdapat 16 kepala keluarga di Desa Natarmage Kecamatan Waiblama yang sudah tiga bulan terpaksa mengonsumsi ubi huta beracun, atau dalam bahasa setempat disebut magar. Bahkan seorang bayi di desa itu yang meninggal pada Minggu (1/10) lalu, ditengarai ada kaitannya dengan konsumsi ubi hutan beracun.

     

    Bencana

               

    Bupati Sikka Yoseph Ansar Rera dan Kepala Dinas Ketahanan Pangan Kabupaten Sikka Mauritz da Cunha yang dihubungi terpisah tidak mengelak dengan kondisi rril yang sedang terjadi di Kabupaten Sikka. Keduanya berpendapat bahwa kondisi ini masih sebatas krisis rawan pangan, belum masuk kategori kelaparan.

               

    Bencana kekeringan, angin kencang, dan serangan hama penyakit disebut sebagai pemicu gagal panen pada tahun ini. Pada akhir Desember 2016, Kabupaten Sikka diterpa angin kencang di beberapa kecamatan. Menyusul setelah itu hama penyakit mulai menggerogoti tanaman perkebunan dan perdagangan. Praktis, kekeringan pun melanda di mana-mana. Sejak Maret-April kondisi krisis rawan pangan ini sudah terpantau. Namun informasinya baru meluas dan terbuka ke publik pada awsal Oktober 2017.

     

    Beras Rawan Pangan

               

    Terhadap kondisi ini, Dinas Ketahanan Pangan segera menurunkan Tim Penanggulangan Dini untuk uji petik di lapangan sekaligus identifikasi data yang rril. Dalam proses uji petik tersebut, dinas ini menemukan di Desa Natarmage dan Desa Tauabao di Kecamatan Waiblama, masyarakat sudah mulai konsumsi ubi hutan beracun.

               

    Agar krisis ini tidak makin meluas, Dinas Ketahahan Pangan lalu mulai melakukan intervensi dengan mendistribusi beras rawan pangan. Pada tahap awal, Dinas Ketahahan Pangan intervensi pada beberapa desa yang dianggap paling riskan, seperti Natarmage dan Tauabao di Kecamatan Waiblama, dan beberapa desa di Kecamatan Tanawawo.

     

    Pasca terbitnya pernyataan darurat pangan, intervensi mulai dilakukan secara bersama-sama dengan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Sikka, Dinas Sosial Kabupaten Sikka, dan Dinas Kesehatan Kabupaten Sikka. Selain beras rawan pangan, pemerintah juga melakukan intervensi kesehatan, karena dikuatirkan krisis rawan pangan bisa berdampak pada berbagai macam masalah kesehatan.

     

    Ubi Hutan Beracun

               

    Fakta yang ditemui di Desa Natarmage ternyata benar bahwa 16 kepala keluarga di desa itu sudah mulai konsumsi ubi hutan beracun. Kondisi ini sudah berlangsung sejak Juli 2017. Ada masyarakat yang baru mulai konsumsi pada Agustus 2017.

     

    Fabiana Tensi, warga Dusun Natarmage Desa Natarmage Kecamatan Waiblama mengaku sudah mengonsumsi magar sejak Agustus 2017 lalu. Rafael Jasmani, juga dari dusun yang sama, malah lebih dulu satu bulan sebelumnya. Mereka mengaku kondisi ekonomi yang sulit telah memaksa mereka untuk menjadikan magar sebagai makanan alternatif.

               

    “Ini tahun Natarmage kena hama wereng. Padi yang kami tanam sudah sementara bulir, tapi semua batangnya hancur karena hama wereng. Mente juga tidak banyak yang berbuah. Kami tidak punya stok makanan. Kami lapar. Jadi kami terpaksa makan ubi hutan yang beracun,” cerita Fabiana Tensi yang ditemui di rumahnya, Sabtu (7/10).

               

    Perilaku masyarakat yang mulai konsumsi magar ini sempat menjadi kontroversi pendapat. Banyak orang berpendapat bahwa konsumsi magar adalah kebiasaan nenek moyang di Tana Ai (Kecamatan Waiblama dan Talibura biasa disebut dengan Tana Ai). Pendapat ini hendak mengatakan bahwa makan magar adalah hal yang biasa dan tidak perlu dibesar-besarkan.

               

    Namun apapun pendapat orang tentang itu, faktanya bahwa masyarakat di desa ini tidak lagi memiliki ketersediaan pangan yang cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup. Dan sebagaimana pesan tidak tertulis dari nenek moyang mereka, bahwa jika mengalami kesulitan pangan maka alternatif yang paling biasa dan bisa ditempuh adalah dengan konsumsi ubi hutan. Terakhir, warga di desa ini konsumsi ubi hutan sekitar 10-12 tahun yang lalu.

               

    Meski sudah ada intervensi beras rawan pangan, masyarakat masih tetap konsumsi ubi hutan. Alasannya beras rawan pangan yang diberikan masih sangat terbatas sekali yakni 10 kilogram per kepala keluarga. Bantuan ini paling hanya bisa bertahan selama dua minggu saja. Warga memanfaatkan bantuan beras rawan pangan untuk anak-anak sekolah, sementara yang sudah dewasa terus konsumsi ubi hutan.

               

    Data yang dihimpun media ini, 33 desa yang sudah melapor kondisi bencana ini yakni Wolomapa, Kajowair, Heopuat di Kecamatan Hewokloang, Bola, Wolonwalu, Wolokoli di Kecamatan Bola, serta Nitakloang, Tebuk, Nirangkliung, Bloro, Riit, Nita, Lusitada, Wuliwutik  di Kecamatan Nita.

     

    Selain itu Kojagete, Parumaan, Kojadoi di Kecamatan Alok Timur, Kokowahor di Kecamatan Kangae, Gera dan Liakutu di Kecamatan Mego, Tuwa, Bu Selatan, Bu Utara, Poma, Bu Watuweti, Renggarasi di Kecamatan Tanawawo, Mauloo dan Paga di Kecamatan Paga, Wolomotong di Kecamatan Doreng, Wairblerer di Kecamatan Waigete, dan Tuabao, Tanarawa, Natarmage di Kecamatan Waiblama.***


     
    BERITA TERKAIT
     
     
     
     

    KOMENTAR ANDA                                                             Pedoman Mengirim Komentar

     
    KOMENTAR VIA WEBSITE                                             Pedoman Mengirim Komentar
      0 komentar

    KIRIM KOMENTAR
    Silakan LOG IN untuk memberi komentar.
     



    Copyright © 2013-2022 by FLOBAMORA NETWORK. All rights reserved.