• LINTAS FLOBAMORA
  • NASIONAL
  • INTERNASIONAL
  • LIFESTYLE
  • TRAVEL
  • BOLA
  • OPINI
  • REDAKSI
  • HUBUNGI KAMI
  • REGISTER     LOGIN      BANTUAN
    REGISTER     LOGIN      BANTUAN

    Jumat, 14 Desember 2018

     

     
    Home   »  Lintas Flobamora
     
    Selamat Datang, Pemimpin Baru dan Harapan Baru.!!!
    ALBERT VINCENT REHI | Rabu, 05 September 2018 | 08:15 WIB            #LINTAS FLOBAMORA

    Selamat
    Duet Kepimpinan NTT, Viktor Bungtilu Laiskodat-Josef A.Nae Soi

     

    HARI ini, Rabu , 5 September 2018 sejarah pemerintahan dan perpolitikan di Nusa Tenggara Timur (NTT)  mencatat sebuah sejarah hadirnya duet kepemimpinan baru di provinsi kepulauan ini, Viktor Bungtilu Laiskodat - Josef A.Nae Soi, pemimpin pilihan rakyat hasil Pilkada Juni lalu.

    Dalam tata pemerintahan, pergantian pimpinan adalah hal yang lumrah. Ada yang pergi dan ada yang yang datang. Demikian seterusnya, untuk melanjutkan tongkat estafet kepemimpinan. Daerah ini sejak resmi berdiri tahun 1958, sudah dipimpin W. J Lalamentik, El Tari, Ben Mboi, Hendrikus Fernandez, Herman Musakabe, Piet Alexander Tallo dan Frans Lebu Raya.

    Setiap pemimpin ada masanya dan setiap masa ada pemimpinnya. Demikian halnya dengan para pemimpin terdahulu, masing-masing punya kelebihan dan kekurangannya. Lalamentik didapuk untuk mempersiapkan daerah ini setelah disapih dari Provinsi Sunda Kecil. El Tari adalah, sosok yang merakyat dan membumi terkenal dengan programnya, Tanam… Tanam… Sekali Lagi Tanam. Lalu  Ben Mboi, seorang dokter tentara yang keras dan bersahaja terkenal dengan program Operasi Nusa Makmur (ONM) dan Operasi Nusa Hijau (ONH).

    Lalu, Henderik Fernandez,  seorang dokter yang kebapakan, muncul dengan program Gerakan Membangun Desa (Gerbades)  dan Gerakan Peningkatan Pendapatan Asli Rakyat (Gemppar). Selepas Fernandez, ada sosok prajurit yang rendah hati Herman Musakabe,terkenal dengan Tujuh Program Strategis, mengedepankan sumber daya manusia sebagai lokomotif pembangunan.

    Setelah Musakabe, NTT dipimpin Piet Alexander Tallo. Pria berambut perak yang pernah memimpin Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS) selama 10 tahun ini, mengadirkan program Tiga Batu Tungku. Selanjutnya tongkat estafet kepemmimpinan beralih ke tangan Frans Lebu Raya, politisi PDI Perjuangan yang murah senyum ini populer dengan Program Desa Mandiri Anggur Merah atau Anggaran untuk Rakyat Menuju Sejahtera (DeMAM).         

    Kini sejarah mencatat, duet Viktor-Josef yang lebih populer dengan sebutan Victory-Joss. Keduanya adalah sebuah fenomena baru di jagat perpolitikan  NTT. Pasangan ini, muncul paling terakhir dan mengejutkan banyak kalangan. Dalam Pilgub Juni lalu, pasangan yang didukung Partai NasDem, Golkar, Hanura dan PPP ini meraih suara terbanyak yakni 838.312 suara atau 35,60 persen dari tiga pasangan calon lainnya.

    Siapa Viktor dan Josef ?

    Viktor adalah politikus senior Partai NasDem, yang lahir pada 17 Februari 1965. Sebelum ke NasDem, ia pernah menjadi Ketua Dewan Penasehat Partai Golkar NTT. Ia dipilih jadi anggota DPR RI dari Partai NasDem dari daerah penentuan Nusa Tenggara Timur II pada Pileg  2014 serta ditunjuk jadi Ketua Fraksi Partai NasDem DPR RI.

    Ia adalah perwakilan dari Fraksi Parta Nasdem yang memenangi Dapil Nusa Tenggara Timur II yang mencakup Kabupaten Belu, Kupang, Rote Ndao, Sabu Raijua, Sumba Barat, Sumba Barat Daya, Sumba Tengah, Sumba Timur, Timor Tengah Selatan, Kabupaten Timor Tengah Utara, serta Kota Kupang.

    Suami Julie S. Laiskodat ini dikenal sebagai pribadi yang tegas dalam perkataan serta aksi. Namanya tidaklah nama yang asing untuk orang-orang Indonesia, terutama politisi di Senayan.

    Sempat menjabat jadi legislator periode 2004-2009, ia lantas gabung dengan beberapa inisiator Ormas Nasional Demokrat serta lalu Partai NasDem untuk membuat dengan partai yang mengusung Pergerakan Perubahan Restorasi Indonesia. Viktor rasakan idealismenya temukan muaranya dalam ide yang dibawa oleh Partai NasDem.

    Bila sampai kini umumnya politisi maupun orang-orang pemula berfikir kalau dalam kontestasi pemilu legislatif, selalu berlangsung persaingan perebutan nomor urut di surat suara. Tetapi tidak demikian perihal dengan Viktor. Dari tujuh kursi di NTT II, dengan tujuh nama calon dari partai, Viktor memperoleh nomor urut paling akhir, nomor tujuh.

    Untuk Viktor, hal tersebut bukanlah satu kontestasi, siapa yang memperoleh nomor urut pertama, namun ini masalah amanah serta tanggung jawab yang didapatkan oleh partai, dengan maksud untuk membesarkan Partai NasDem, serta dapat mengantarkan partai baru ini duduk di parlemen. Jadi tidak heran, bila ketokohannya  diakui Ketua Umum Partai Nasdem, Surya Paloh,

    Lalu, siapa sebenarnya Josef A. Nae Soi? Politisi Senior  Partai Golkar yang santun dan rendah hati ini lahir di Mataloko pada 22 September 1952. Ia merantau ke Pulau Jawa sejak menjadi mahasiswa di Universitas Atmajaya, Jakarta.

    Nae Soi adalah salah satu mantan anggota DPR RI dari Fraksi Golongan Karya dua periode beruntun. Saat pemilihan anggota DPR ia berada pada daerah pemilihan Nusa Tenggara Timur 1 yang meliputi Kabupaten Manggarai Barat, Manggarai, Manggaraui Timur, Ngada, Ende, Sikka, Flores Timur, Lembata, Alor dan Kabupaten Nagekeo.

    Pada periode 2009 hingga tahun 2014 ini, Josef A. Nae Soi tergabung sebagai anggota komisi V yang menggeluti bidang Perhubungan, Telekomunikasi, Pekerjaan Umum, Perumahan Rakyat, Pembangunan Pedesaan dan Kawasan Tertinggal. Ia berhasil menjadi anggota DPR RI dengan dukungan 53.798 suara.

    Perjalanan karier suami Maria Fransisca Djogo ini diawali sebagai guru di Sekolah Menengah Atas (SMA) Maumere Flores mulai tahun 1970 hingga tahun 1972.

    Rekam jejak kehidupannya mulai meningkat pada tahun 1987 saat ia menjadi Dosen Altri Kehakiman Jakarta. Kemudian ia melanjutkan pekerjaannya menjadi Pembantu Direktur III Altri Kehakiman Jakarta yang dijalaninya mulai tahun 2000 hingga tahun 2005.

    Karier legislatifnya dimulai di awal periode reformasi, saat ia diajak oleh Akbar Tandjung untuk menjadi seorang politisi di bawah bendera partai Golkar. Josef pun mengubah haluan dari seorang akademisi menjadi politisi.

    Ia berpendapat bahwa antara dosen politisi memiliki kesamaan dalam mengabdi kepada rakyat. Hanya saja, sebagai seorang politisi ia lebih bisa berbuat langsung saat menemukan ketidakberesan pemerintah. Josef A. Nae Soi akhirnya terpilih menjadi anggota DPR RI pada periode 2004/2009, yang dilanjutkan hingga 2009/2014.

    Ia memiliki banyak pengalaman di bidang organisasi. Ia sempat menjadi Sekretaris Jenderal DPC PKMRI Cabang Jakarta mulai tahun 1974 hingga tahun 1976.

    Josef juga pernah menjadi Ketua Senat Mahasiswa Fakultas IPK Universitas Atmajaya Jakarta. Ia juga pernah dipercayakan menjadi ketua umum Koordinator Mahasiswa Universitas Atmajaya mulai tahun 1977 hingga tahun 1979.

    Selepas kuliah, ia menjadi wakil ketua umum di HILLSI di Jakarta mulai tahun 1992 hingga tahun 2007. Josef pernah menjadi Team Sosialisasi Empat Pilar MPR RI. Dia juga dipercayakan menjadi Ketua Grup Kerja Sama Bilateral (GKSB) Parlemen Mexico dan Argentina dengan Indonesia.

    Dirinya juga tercatat sebagai pengurus DPP Partai Golkar dari tahun 1998 hingga saat ini dipercayakan menjadi Wakil Sekretaris Jenderal DPP Partai Golkar.

    Semasa menjadi politisi mewakili NTT di Senayan, sahabat karib Mantan Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaya Purnama (Ahok) ini, selalu dan senantiasa memperjuangkan peningkatan kualitas hidup rakyat NTT. Sebagai putra asli NTT, ia faham betul susahnya mendapatkan akses berupa infrastruktur dan moda transportasi.

    Pemimpin Baru – Harapan Baru

    Mulai hari ini, tongkat estafet kepemimpinan NTT berada di tangan Viktor-Josef. Dengan jargon yang paling terkenal semasa kampanye, Kita bangkit – Kita Sejahtera, keduanya seakan melecut semangat penghuni Flobamorata untuik bangkit demi menuju sebuah kesejahteraan. Kesejahteran bukanlah sebuah benda yang turun dari langit,  tetapi kesejahteraan harus diperjuangkan dengan kerja keras dan pantang menyerah.

    NTT di mata kedua pemimpin ini memiliki potensi besar yang belum dimanfaatkan secara optimal atau masih terlelap dalam tidur panjangnya. Tak heran, jika keduanya akan menjadikan Sektor Pariwisata sebagai leading sector untuk menggerakkan pembangunan di negeri 1.129 pulau ini.

    Selain pariwisata yang mulai menggeliat saat ini, sektor perikanan dan kelautan menjadi perhatian utama. Viktor – Josef bertekad menjadikan NTT sebagai penghasil garam nomor satu di Indonesia, memanfaatkan potensi yang sudah dan sedng dikembang di beberapa daerah.

    Sektor lain yang juga perlu menjadi perhatkan adalah peternakan. Kerinduan untuk menggembalikan NTT sebagai gudang ternak terus bergelora. Dari waktu ke waktu sektor ini terus dipacu. Ini semua bermuara pada kesejahteraan rakyat NTT yang jumlah lebih dari lima juta orang.

    Tentu, ada banyak sektor yang menjadi perhatian duet Viktor-Josef. Ada infrastruktur yang masih karut-marut,pendidikan, pertanian dan perkebunan, kehutanan dan lingkungan hidup serta beragam sektor yang membutuhkan perhatian dan sentuhan.

    Meski demikian, tantangan yang akan dihadapi Viktor-Josef tidak sedikit. Di hadapan keduanya, terbentang tingkat kemiskinan yang masih cukup siginfikan dari jumlah penduduk NTT. Lalu, indeks pembangunan manusia yang menempati urutan ke-32 dari semua daerah di Indonesia. Belum lagi tingkat pertumbuhan ekonomi yang fluktuatif juga perlu perhatian jika ingin mengeluarkan daerah ini dari lingkaran kemiskinan .

    Dan yang paling menyita perhatian adalah masalah Human Trafficking. Masalah ini erat kaitannya dengan ketersediaan lapangan kerja dan kesempatan kerja. Tugas berat pemerintah adalah bagaimana menyiapkan lapangan kerja, khususnya bagi pengangguran terbuka yang jumlahnya terus meningkat dari tahun ke tahun. Sementara, memerangi masalah Human Trafficking atau perdagangan orang bak mengurai benang kusut, yang belum ketemu ujungnya.

    Terlepas dari semua permasalahan yang akan dihadapi duet kepemimpinan NTT yang baru ini, rakyat telah memberikan mandat penuh untuk bekerja dan bekerja. Tidak ada waktu lagi untuk menoleh ke masa lalu, karena masa lalu hanya menjadi sebuah kenangan. Di depan kita terbentang masa depan yang amat luas dann harus diraih dengan kerja keras, kerja cerdas dan kerja tuntas.

    Jargon, Kita Bangkit – Kita Sejahtera, akan menjadi cambuk pelecut semangat bagi semua lapisan masuyarakat NTT untuk bekerja sama dan bergandengan tangan bersama Viktor- Josef, untuk menggapai kesejateraan. Selamat datang, pemimpin baru dan harapan baru.!!!***



     
    BERITA TERKAIT
     
     
    BACA JUGA
       
       

      KOMENTAR ANDA                                                             Pedoman Mengirim Komentar

       
      KOMENTAR VIA WEBSITE                                             Pedoman Mengirim Komentar
        0 komentar

      KIRIM KOMENTAR
      Silakan LOG IN untuk memberi komentar.
       



      Copyright © 2013-2018 by FLOBAMORA NETWORK. All rights reserved.