• LINTAS FLOBAMORA
  • NASIONAL
  • INTERNASIONAL
  • LIFESTYLE
  • TRAVEL
  • BOLA
  • OPINI
  • REDAKSI
  • HUBUNGI KAMI
  • REGISTER     LOGIN      BANTUAN
    REGISTER     LOGIN      BANTUAN

    Rabu, 12 Desember 2018

     

     
    Home   »  Lintas Flobamora
     
    Fasilitator Pamsimas Diminta Kritis Wujudkan Akses Rakyat Atas Air Bersih
    ALBERT VINCENT REHI | Rabu, 28 November 2018 | 21:39 WIB            #LINTAS FLOBAMORA

    Fasilitator
    Wakil Gubernur NTT, Josef A. Nae Soi berama fasilitator Pamsimas

     
    KUPANG,FLOBAMORA.NET - Wakil Gubernur NTT, Josef A. Nae Soi, mengajak para fasilitator Penyediaan Air Minum dan Sanitasi Berbasis Masyarakat (Pamsimas) untuk bekerja sepenuh hati dalam mewujudkan akses masyarakat terhadap air bersih dan sanitasi. Salah satunya dengan melakukan refleksi kritis atas setiap pekerjaan yang telah dijalankan selama ini.

    “Rapat Koordinasi ini adalah momen untuk membuat refleksi kritis. Tidak hanya sebatas melakukan evaluasi. Refleksi kritis maksudnya, hasil dari evaluasi harus membangkitkan motivasi dalam diri untuk menggerakan orang lain dan diri sendiri dalam menggapai hasil yang telah disepakati bersama,” kata Wakil Gubernur Josef Nae Soi pada acara Rapat Koordinasi (Rakor) Tim Fasilitator Masyarakat Program Pamsimas III Provinsi NTT dengan tema “Evaluasi Pelaksanaan Tahun Anggaran (TA) 2018 dan Perencanaan TA 2019 di Hotel Aston, Rabu (28/9).

    Menurut Wagub, ada perbedaan mendasar antara refleksi kritis dan evaluasi. Evaluasi telah menjadi hal umum dan biasa dalam manajemen kerja. Nilainya hanya berkaitan dengan garapan. Kalau tujuan kerja tercapai, tidak ada lagi evaluasi.

    “Tapi refleksi kritis, nilainya lebih dari itu. Berhubungan dengan work atau kerja. Membangkitkan semangat orang secara terus menerus, tanpa henti. Masyarakat harus diberdayakan. Kalau masyarakat tidak dibangkitkan dan dilibatkan, proyek-proyek pemerintah hanya bersifat karitatif belaka, tidak bersifat sosial ,”jelas Wagub.

    Wagub mengharapkan agar para fasilitator dapat bekerja lebih keras dalam mewujudkan Akses Air Minum Aman dan Sanitasi Layak yang ditargetkan Pemerintah Pusat tercapai pada Tahun 2019. Air minum, kata Wagub, merupakan kebutuhan mendasar yang tak bisa ditunda untuk dipenuhi. Sebagai perpanjangan tangan pemerintah pusat, Gubernur dan Wakil Gubernur akan berupaya maksimal untuk mewujudkan target tersebut.

    “Saya dari dulu mengartikan air sebagai aman, intim dan ramah. Kalau tidak ada air, orang rasa tidak aman, tidak intim dan tidak ramah. Kalau tidak ada air, semua badan kita pasti gatal karena tidak mandi. Kalau tidak minum air, semua orang pasti sengsara. Bayangkan saja kalau berada di atas kapal. Tidak makan satu minggu, masih bisa bertahan, tapi kalau tidak minum air dua atau tiga hari, pasti langsung sekarat,” jelas Wagub.

    Dalam Visi NTT Bangkit Menuju Sejahtera, Wagub menegaskan, peran para fasilitator cukup strategis. Sebagai pendamping, fasilitator punya tugas mulia untuk meredam kemarahan masyarakat karena ketiadaan air. Fasilitator juga mesti punya rasa malu dan kesal bila melihat penderitaan masyarakat karena sulitnya akses terhadap air.

    “Mari kita bangkit dari tidur, berdiri dan lari. Bila perlu melakukan loncatan atau lompatan yang sangat tinggi (quantum lap). Kalau di Jawa, mereka bekerja tujuh jam, maka kita harus kerja lebih dari itu untuk kejar ketertinggalan menuju NTT Sejahtera,” ujar Wagub Nae Soi.

    Kepala Dinas Perumahan Rakyat dan Kawasan Pemukiman, Yuli Arfa menyatakan, para fasilitator merupakan ujung tombak pelaksanaan program pada tingkat lapangan. Untuk mempercepat proses akses air minum dan sanitasi.

    “Keberadaan tim fasilitator sangat penting untuk mengawal proses pemberdayaan masyarakat. Agar mereka dapat menjadi pengambil keputusan utama, penanggung jawab utama pengelolaan air minum dan sanitasi. Berdasarkan temuan BPKP, para fasilitator masih belum melaksanakan pendampingan secara optimal,” jelas Yuli Arfa.

    Dijelaskan, sejak 2008 sampai saat ini, jumlah desa sasaran program Pamsimas di NTT sebanyak 1.504 desa dari total 3.353 desa/kelurahan di NTT.

    “Tahun 2018, ada 297 desa di NTT yang mendapatkan program Pamsimas di 21 kabupaten. Sebanyak 241 desa dibiayai APBN dan 56 desa dari APBD Provinsi/Kabupaten. 11 desa di antaranya adalah desa stunting yang berada di Kabupaten Sabu Raijua, Manggrai Timur, Timor Tengah Utara.

    Pemerintah Provinsi wajibkan setiap kepala keluarga pada desa Pamsimas tanam sekurang-kurangnya 5 pohon kelor. Pada Tahun 2019, Pemerintah Pusat menetapkan 247 desa baru untuk program Pamsimas di NTT. Semua akses air minum dan sanitasi harus inklusif disabilitas,” jelas Yuli Arfa selaku Provinsial Project Manager Unit Pamsimas NTT.

    Kegitan Rakor Pamsimas ini berlangsung selama tiga hari dari tanggal 27 hingga 29 November. Diikuti 239 fasilitator yang terdiri dari fasilitator senior 29 orang, bidang pemberdayaan 70 orang dan140 orang bidang teknik.*** (Humas Pemprov NTT)

     


     
    BERITA TERKAIT
     
     
    BACA JUGA
       
       

      KOMENTAR ANDA                                                             Pedoman Mengirim Komentar

       
      KOMENTAR VIA WEBSITE                                             Pedoman Mengirim Komentar
        0 komentar

      KIRIM KOMENTAR
      Silakan LOG IN untuk memberi komentar.
       



      Copyright © 2013-2018 by FLOBAMORA NETWORK. All rights reserved.